NEWS RELEASE:

Untuk Ketiga Kalinya Dalam 2003

Banjir Tenggelamkan Jambi
Kembali untuk ketiga kalinya banjir besar melanda Jambi, di awali minggu pertama Desember 2003 hingga sekarang air masih merendam sejumlah rumah, gedung sekolah, dan tempat ibadah. Sebelum itu banjir besar pernah melanda Jambi Januari 2003, disusul Mei 2003.

Sebagaimana yang telah diberitakan juga oleh media massa lokal dan nasional, banjir di akhir tahun ini selain menyebabkan penduduk harus mengungsi dari kediamannya, merendam sawah-sawah masyarakat, juga menghentikan kegiatan belajar-mengajar sejumlah sekolah di kota dan kabupaten-kabupaten yang ada di Jambi. Bahkan sempat jatuh beberapa korban jiwa, antara lain Ayen (20 tahun) warga Desa Bentengrendah dan Khairil (15 tahun) warga Desa Lubukruso, di Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari. Kondisi banjir besar kali ini memang sangat memiriskan perasaan. Jalan-jalan utama Kota Jambi juga ikut tenggelam, beberapa toko terpaksa tutup, masyarakat bahkan menggunakan sampan kecil untuk kemana-mana. Kondisi yang dipaparkan di atas juga

Khusus di ibu kota provinsi, Kota Jambi kawasan Kecamatan Telanai menunjukan kondisi yang paling parah. Media massa lokal hampir setiap hari melansir pemberitaan seputar keadaan banjir di tengah kota ini. Di mana sebanyak 841 unit rumah terendam di Kelurahan Legok, Kecamatan Telanai. Sementara di Penyengat Rendah, Teluk Kenali, dan Buluran Kenali, ada 15 unit rumah yang tak bisa dihuni. Sehingga total rumah yang terendam di Kecamatan Telanai mencapai 856 unit. Selanjutnya di Kecamatan Pelayangan ada 100 rumah terendam dan Danau Teluk 25 rumah, serta di Kecamatan Pasar terdata 20 rumah digenangi air.

Kondisi banjir di kabupaten lebih memiriskan lagi, misalnya di Muarojambi sebanyak 300 rumah terendam air. SD dan musholla bahkan hanya terlihat atapnya saja. Sedangkan di Kabupaten Batanghari, air Sungai Batanghari menyebabkan 80 desa terendam.

Efek lainnya dari musibah banjir ini tentunya pemadaman listrik dan terputusnya sejumlah sarana jalan. Misalnya jalur Sarolangun-Tembesi lumpuh total. Air sempat mencapai ketinggian 80-90 sentimeter di jalur ini, serta diperkirakan ribuan rumah penduduk tergenang air. Bahkan ada desa yang sudah sejak 3 Desember 2003 tergenang air.

Data dari Posko Satkorlak Jambi yang juga telah dilansir media lokal, secara total banjir kali ini merendam 5.843 unit rumah penduduk dan 17.151 jiwa (5.834 KK) terpaksa mengungsi. Sementara seluas 1.475 hektar lahan pertanian dan 46 unit SD ikut terendam air.

Melihat kondisi ini, Direktur Eksekutif Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rudi Syaf, dalam suatu pertemuan dengan wartawan menjelaskan kalau banjir kali ini menunjukan siklus yang kian memendek. Dan sebenarnya siklus banjir yang memendek ini sudah terasa sejak beberapa tahun belakangan ini.

Banjir dengan siklus memendek ini menunjukan kalau faktor yang bisa menahan air meluap, telah hilang. Ditandai dengan semakin berkurangnya luas hutan sebagai pengatur tata air, akibat terus ditebangi. Dengan kata lain bicara banjir berarti bicara tentang hutan dan kondisi DAS Batanghari yang mengaliri dua provinsi, Jambi dan Sumbar.

Saat ini kondisi hulu DAS Batanghari sebagai wilayah resapan air telah habis. Dengan kata lain, efek spon dari hutan tak lagi ada. Seperti habisnya hutan rawa gambut di Kabupaten Tanjabbar dan Tanjabtim. Termasuk habisnya hutan produksi di Berbak.

Begitu juga dengan banjir perkotaan. Daerah yang dulunya menjadi tempat limpahan air (rawa), sekarang telah berubah menjadi ruko atau kawasan pertokoan. Total luas hutan yang melingkupi DAS Batanghari pun (Jambi dan Sumbar) hanya tinggal 33 persen atau seluas 14.196,50 Km2 saja. Daerah non hutan seluas 26.358 km2 atau 61,53 persen.

Akumulasi beban DAS Batanghari yang berefek pada banjir rutin di Jambi saat ini, terjadi dalam bentuk antara lain illegal logging di daerah sekitar DAS terutama di daerah hulu, sendimentasi yang tinggi di daerah hilir DAS Batanghari. Banjir kali ini pun akan menyebabkan secara otomatis daerah hilir menumpuknya sendimentasi dan harus dikeruk. Anggaran yang akan terpakai untuk mengeruk ini pastilah besar. Jika anggaran tersebut dimanfaatkan untuk perlindungan hutan, terutama di bagian hulu, biaya yang dikeluarkan tak sebesar biaya pengerukan sendimentasi.

Selanjutnya beban DAS Batanghari juga terasa dengan tingginya aktifitas pertambangan yang berlangsung lama dan serampangan, baik oleh masyarakat maupun oleh perusahaan. Terutama terhadap jenis batu bara dan emas. Total areal kuasa pertambangan (KP) di hulu DAS Batanghari mencapai 220.362 hektar dan areal kontrak karya (KK) seluas 1.026.035 hektar. Kegiatan ini telah menyebabkan terganggunya keragaman hayati, degradasi tanah, polusi air, dan fragmentasi kawasan lindung.

Disamping itu adanya kebijakan pemberian konsesi pada 16 HPH seluas 1.008.104 hektar, kian memperparah kondisi DAS Batanghari. Sebanyak 10 HPH dengan luas 888.00 hektar (berdasarkan SK HPH lama yang telah dicabut) tidak bekerja menurut kaidah konservasi. Selain itu, pemberian izin untuk perkebunan besar kelapa sawit kian ?memberikan? beban pada DAS. Bagitu juga dengan kondisi hutan TNKS yang terus menunjukkan penurunan kualitas ekosistemnya. Padahal disamping mempunyai ekosistem sungai, ekosistem pesisir/muara, TNKS juga memiliki lahan basah, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan dataran tinggi, serta hutan hujan pegunungan dengan vegetasi sub alpin dan alpin, yang bisa mencegah timbulnya banjir saat curah hujan tinggi.

Ciri khas rusaknya DAS Batanghari ini ditandai dengan keringnya DAS saat musim kemarau datang dan meluapnya DAS saat musim hujan tiba. Idealnya tata ruang Jambi terkait lingkungan ini (agar terhindar dari banjir), yaitu di kiri-kanan DAS Batanghari tetap dibiarkan hutan, begitu juga areal perbukitan, namun untuk wilayah datarannya bisa dikelola menjadi kebun sawit, pertanian, atau bentuk lainnya.



Adanya rencana rasionalisasi sungai oleh pemerintah seringkali digembar-gemborkan bisa mengatasi banjir, padahal itu bukanlah solusi yang tepat, sebab yang menjadi sumber bencanalah yang perlu diatasi, seperti yang diuraikan di atas. Penyelamatan DAS Batanghari di hulu dan hilir-lah solusi terbaiknya. Meluruskan sungai-sungai lewat rasionalisasi hanya akan mengatasi masalah sesaat. Bahkan kalau diluruskan sifat kelokan sungai sebagai penghadang terjangan air akan hilang, hingga wajar saja air kemudian meluap alias bobol ke rumah-rumah masyarakat hingga banjir besar tak terhindarkan.***
***





Berita terkait:
Comments: