NEWS RELEASE:

RSUD Jambi

Mulai Ikut Perhatikan Kesehatan Orang Rimba

Kepedulian terhadap kesehatan Orang Rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi semakin hari mendapat perhatian luas dari pihak terkait. Kalau beberapa waktu lalu RSUD Kol. Abundjani Bangko yang bersungguh-sungguh menangani operasi hernia anak rimba. Kali ini rumah sakit umum Raden Mattaher Jambi yang menyatakan kesediaannya mengoperasi anak rimba Makekal Hulu TNBD, bernama Beconteng (8 tahun), yang mengalami pembengkakan di belakang telinga kirinya.

Operasi ini dilaksanakan Selasa (29/7) tanpa dipunggut biaya dan merupakan suatu langkah yang perlu didukung untuk pelayanan kesehatan secara merata ke seluruh masyarakat, khususnya terhadap kesehatan Orang Rimba. Direktur Eksekutif Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rudi Syaf, didampingi Fasilitator Kesehatan KKI Warsi, Sutardi Diharjo, mengatakan hal itu, Senin (28/7). Lebih lanjut dijelaskannya kalau secara administrasi RSUD Jambi hanya membutuhkan kartu sehat yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Merangin untuk proses penanganan operasi Beconteng.

Beconteng masuk RSUD Jambi sejak Senin (28/7), dibawa oleh Sutardi Diharjo, setelah sebelumnya diperiksa Dr. Dennison,Sp.B, tanggal 22 Juli 2003 di RSUD Kol. Abundjani Bangko. Saat itu didiagnosa Beconteng menderita Mastoiditis (infeksi pada tulang mastoideus).

Namun karena RSUD Bangko belum mempunyai dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan) maka Beconteng dibawa ke RSUD Jambi. Saat ini Beconteng ditempatkan di Ruang Perawatan THT Kelas III. Adapun tim dokter yang menangani operasi Beconteng dipimpin oleh Dr. Yunaldi,Sp.THT Secara medis (hasil diagnosa tanggal 24 Juli 2003), penyakit yang diderita Beconteng disebut kista atherum retro anokular sinistra.

Sebenarnya penyakit yang dialami Beconteng ini telah dirasakannya sejak 6 bulan lalu. Dia mengeluh pendengarannya kurang berfungsi, apa yang dibicarakan orang tuanya ataupun panggilan teman-temannya bahkan teriakan mereka kurang bisa ditangkapnya. Sehingga dia pun sering tersesat di dalam hutan saat mengikuti teman-temannya berburu binatang.



Baru tiga bulan yang lalu Sutardi menemukan bocah ini, itu pun setelah Sutardi berkeliling rimba Makekal hulu untuk mencarinya, karena kelompok Beconteng yang dipimpin Temenggung Grip (50 tahun) belangun (berpindah tempat tinggal karena ada anggota kelompok yang meninggal).

Saat bertemu Sutardi kondisi pembengkakan di telinga kiri Beconteng sudah sebesar telur puyuh (berdiameter 2.5 cm). Ketika benjolan itu ditekan Sutardi dengan posisi kepala menunduk, dari lubang hidung Beconteng pun keluar nanah, dan kondisi itu sering terjadi. Hal ini dikarenakan infeksi sudah lama berlangsung. Cairan nanah keluar dari hidung melalui saluran Tuba eustakius (sebuah saluran yang menghubungkan antara telinga dan hidung).

Syukurlah orang tua Beconteng, Ngantap (40 tahun) dan Betimpu (35 tahun) tidak sulit diyakini agar anaknya diperbolehkan dibawa keluar rimba untuk mendapat perawatan. Bahkan mereka terlihat sangat mempercayakan anaknya kepada Warsi dengan langsung mengiyakan usulan Sutardi.

Selanjutnya tindakan operasi diperlukan demi mengangkat jaringan abnormal yang berada di belakang daun telinga kiri Beconteng yang secara medis disebut tindakan ekstirpasi. Dikhawatikan jika dioperasi tidak dilaksanakan di kemudian hari kista tersebut akan membesar dan semakin sulit menanganinya. Jika itu terjadi, Beconteng bisa kehilangan pendengaran secara total.***
***





Berita terkait:
Comments: