NEWS RELEASE:

Makin Tinggi

Minat Orang Rimba Berobat Ke Rumah Sakit

RSUD Kol. Abundjani Bangko bisa dikategorikan sebagai rumah sakit yang sangat akomodatif dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat tanpa membeda-bedakan, khususnya pada Orang Rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi. Sikap ini perlu ditiru RSUD kabupaten lain, apalagi bagi puskesmas-puskesmas di daerah terpencil, demi menumbuhkan kesadaran yang lebih besar dari Orang Rimba terhadap pengobatan secara medis.

Kenyataannya jumlah Orang Rimba yang berobat ke RSUD Bangko kian hari memang terlihat meningkat. ?Sikap wellcome dari tenaga medis ini sangat dibutuhkan dalam membantu menanamkan keyakinan pada Orang Rimba akan pentingnya berobat ke rumah sakit, sehingga tidak hanya mengandalkan pengobatan tradisional yang belum tentu ampuh. Orang Rimba harus diperlakukan sama dalam mendapatkan layanan kesehatan ini,? ujar Sutardi Dihardjo, Fasilitator Kesehatan KKI (Komunitas Konservasi Indonesia) Warsi yang telah setahun ini mendamping Orang Rimba TNBD Jambi.

Menurutnya tak jarang Orang Rimba mengeluh kurang dilayani saat mendatangi rumah sakit/puskesmas dekat wilayah tinggal mereka. Hal tersebut dilatarbelakangi karena pembedaan pandangan terhadap masyarakat suku terasing (Orang Rimba) dengan masyarakat luar yang seharusnya tidak terjadi.

Selanjutnya, urai lelaki ini, salah satu contoh yang patut dianut rumah sakit dan puskesmas lainnya dari RSUD Bangko yaitu saat anak rimba Sakojerenang, Makekal Hulu, TNBD wilayah Kabupaten Tebo, bernama Melempi (7 tahun), harus dioperasi untuk hernia yang sejak lahir dibawanya. Operasi Melempi ditangani serius oleh tim dokter RSUD Bangko pimpinan dr Dennison Sp.B.

Desakan agar Melempi ditangani medis ini telah diajukan Sutardi sejak Januari 2003 ke orang tua Melempi bernama Mantun (29 tahun). Namun sang bapak tak mudah diyakinkan karena selain tak percaya anaknya akan mendapatkan layanan yang baik, dia juga takut sang anak akan meninggal dunia dalam operasi tersebut. Berdasarkan pengamatannya yang pernah menjadi warga Desa Tanahgaro, Kabupaten Tebo, Jambi, selama 1,5 tahun (yang kemudian diajak kakaknya kembali ke rimba TNBD), tak pernah ada anak seusia Melempi dioperasi.

Atas usaha meyakinkan yang tak kenal lelah dari Sutardi dengan menjelaskan bahwa jika penyakit hernia dibiarkan Melempi akan merasakan nyeri terus-menerus sepanjang hidupnya dan operasi pun akan semakin sulit dilakukan. Akhirnya Mantun mengizinkan anaknya dirawat di RSUD Bangko, diantar sang paman, Prentik (28 tahun). Operasi pun digelar akhir Juni 2003 dengan hasil yang baik. Tapi memang selama masa post operasi Melempi sempat mengalami demam dan diare, namun tidak membahayakan. Kondisi ini disebabkan faktor psikologis serta disorientasi lingkungan yang dialami Melempi. Mengingat Melempi baru sekali itu datang ke kota (Bangko).

Layanan yang baik dari RSUD Bangko yang diikuti dengan segala kemudahan, telah menumbuhkan antusias remaja Orang Rimba membantu mengurusi tetek-bengek prosedur formal rumah sakit yang selama ini tak pernah terjamah oleh mereka. Seperti yang dilakukan Mijak (13 tahun) dan Pengendum (13 tahun) untuk Melempi. Mulai dari mengurusi administrasi, pengambilan obat di apotik rumah sakit, menyuapi Melempi obat, makan dan minum, sampai membersihkan air kencing dan feses Melempi yang belepotan di tempat tidur. Padahal baik Mijak maupun Pengendum tidak ada hubungan saudara dengan Melempi. Ke depan bisa saja mereka menjadi kader kesehatan untuk kasus komunitas mereka.Selama masa post operasi memang Melempi setiap BAK (buang air kecil) dan BAB (buang air besar) tidak pernah bicara sehingga cukup membuat mereka kelabakan.

Beberapa lembar koin/sempolung habis terpakai untuk membersihkan kotoran Melempi. Sikap mereka itu mendapat simpati dari keluarga pasien lain yang berada satu ruangan dengan Melempi. ?Mereka bersedia meminjamkan kain panjangnya untuk sementara waktu,? ujar Mijak dalam bahasa rimba. Mijak dan Pengendum juga mendapat simpati dari perawat-perawat RSUD Bangko.

Selain memberikan pelayanan fisik terhadap Melempi, mereka juga dengan sabar berbagi tugas menghibur Melempi saat sang bocah mulai meratap menanyakan bapaknya yang tidak bisa menunggui karena kebetulan istrinya (ibu Melempi) juga sakit. Sementara Prentik yang sedianya menjaga sampai pulang, hanya bertahan sesaat setelah operasi selesai, dia beralasan banyak pekerjaan di rimba yang belum diselesaikan, antara lain membuka ladang (mancah) dan menunggu adik perempuannya melahirkan (menunggu gabat) bernama Brendan.

Tanggal 30 Juni lalu, Melempi diizinkan keluar RSUD setelah tujuh hari di sana. Namun belum boleh pulang ke Makekal Hulu untuk berkumpul dengan keluarganya, karena harus menunggu masa pembukaan jahitan operasi. Pelepasan jahitan ini dilakukan awal Juli ini. Selain layanan kesehatan yang baik keluarga Melempi juga tidak dikenai biaya oleh RSUD Bangko karena dia telah memiliki kartu sehat yang dikeluarkan Puskesmas Pematangkabau, Kabupaten Sarolangun.



Operasi hernia ini sebenarnya juga pernah dijalani Mijak dan itu juga yang membuat Mijak giat melayani Melempi. Mijak dioperasi Januari lalu. Namun karena kadar Hemoglobine dalam darah Mijak hanya 5,6 gr %, Mijak mengalami anemia, operasinya tertunda. Dia memerlukan transfusi darah 500 ml untuk mencapai kadar Hemoglobine yang normal ( 12-16 gr %). Sulit mendapatkan donor karena golongan darah Mijak AB. Apalagi bank darah di RSUD Kol. Abundjani Bangko juga belum ada, sehingga mengharuskan pasien ataupun keluarganya mencari sendiri.

Sutardi sempat mengusahakan donor darah dari berbagai level masyarakat, termasuk ke aparat Kepolisian Resort Bangko, kantor Komando Distrik Militer, dan anggota wakil rakyat (DPRD Sarolangun). Tetapi darah jenis AB tetap saja tak ada, kalau pun ada, telah didonorkan ke orang lain. Pengalaman memiriskan sempat dirasakan Sutardi saat mengupayakan darah untuk Mijak. Ada yang memanfaatkan kebutuhan Mijak itu dengan ?menjual? darah mereka ke Sutardi. ?Ada yang menuntut imbalan Rp.300.000 sampai Rp.400.000, untuk satu kantong darah yang berisi sekitar 250 ml,? ujar Sutardi.

Namun usaha yang tak kenal menyerah akhirnya membuahkan hasil, pendonor didapatkan juga, meskipun melalui sistem barter dengan keluarga pasien yang lain. Selama dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi di RSUD Kol. Abundjani Bangko, Mijak juga memperoleh layanan yang baik. Anak rimba yang tidak memiliki orang tua ini juga tidak dibebani biaya operasi. Dia dibebaskan dari biaya apa pun karena dia juga telah memiliki kartu sehat yang diperolehnya dari Puskesmas Pematangkabau, Kabupaten Sarolangun. ***
***





Berita terkait:
Comments: