NEWS RELEASE:

Primadona Yang Ditinggalkan Dan Yang Dicari


Kulit manis yang tempoe doeloe menjadi primadona bagi masyarakat dan pemerintah daerah di Jambi, sekarang hanya tinggal kenangan. Sejak beberapa tahun yang lalu, persisnya ketika krisis ekonomi (1997) melanda Indonesia, sang primadona ini kalah pamor dengan turunnya secara drastis nilai belinya. Dari harga puluhan ribu rupiah perkilogram menjadi Rp4.500 perkilogram.

Sehingga juga bisa dibilang kulit manis tak lagi diandalkan daerah untuk menggenjot PAD (Pendapatan Asli Daerah),salah satunya oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) Kerinci. Namun bagi masyarakat sang primadona tetaplah tempat bergantung hidup yang tak akan dilepaskan. Hal itu dapat dilihat di Desa Lempur, Kecamatan Keliling Danau Kerinci di Kabupaten Kerinci. Hampir seluruh halaman tiap rumah penduduknya berjejeran kulit manis yang dikeringkan.

Murni, salah seorang wanita yang berpangkat juragan kulit manis di desa itu, melakoninya usahanya sejak tahun 80-an. Bahkan wanita berusia 50 tahun ini bisa dianggap orang yang telah mengangkat kaumnya menjadi pejuang ekonomi keluarga. Murni mempekerjakan wanita-wanita miskin. ?Untuk kerja yang lain mereka tak bisa, saya berpikir kenapa tak saya ajak saja membantu usaha saya,? ujarnya. Mereka diupah atas apa yang bisa mereka lakukan terhadap perkilogram kulit manis. Mereka bekerja selama 6-8 jam untuk Murni.

Di rumahnya, Murni menyediakan gudang pengikisan, penimbangan, dan penumpukan kulit manis. Untuk upah jemur kulit manis, setiap pekerja wanita dibayar Rp15.000 perkilogram. Sedangkan untuk pengikisan mereka dibayar Rp200 perkilogram, kecuali menoreh dibayar sebesar Rp15.000 perjam. Kegiatan mengikis kulit manis dilakukan pada malam hari selama 3-4 jam. Saat ini di pasaran secara rinci penjualan kulit manis untuk jenis yang terbagus yaitu KM, laku seharga Rp4.500 perkilogram, jenis berikutnya KF,KS, KA, dan terakhir KC. Kualitas kulit manis menurut jenis ini ditentukan oleh ketebalan kulitnya.

Daerah pasaran kulit manis milik Murni ini selain Kerinci atau Jambi, adalah Padang (Sumbar). Dijelaskannya khusus untuk penjualan ke Padang bisa mencapai 1 ton perbulan. Kulit manis yang diolah pekerja perempuan di kediaman Murni ini juga berasal dari masyarakat sekitar. Murni membelinya seharga Rp900-800 perkilogram jenis kulit manis yang masih basah dan Rp1.000 perkilogram untuk jenis yang kering, tertinggi dibeli Rp1.500 perkilogram jenis kulit manis yang bagus. Harga yang ditetapkan Murni untuk jenis kulit manis yang dibeli seharga Rp900-800 perkilogram dijualnya seharga Rp2.500 perkilogram. Kulit manis terbagus dijualnya bisa mencapai Rp12.000 perkilogram.

Dari usaha kulit manis, Murni berhasil menyekolahkan tiga anaknya ke Jakarta. Usaha ini tetap dipegangnya disamping berkebun kopi dan lada atas dasar kayu manis akan tetap dibutuhkan masyarakat meskipun rendah harganya.

Primadona yang Dicari
Selain kulit manis, Kerinci juga menyimpan primadona lain. Namun yang satu ini masih belum dilupakan alias selalu dicari orang jika berkunjung ke kota dingin tersebut. Primadona yang dimaksud yaitu sama dengan kulit manis, berjenis flora sering disebut dengan bunga bangkai.

Berdasarkan informasi terkhir dari Kepala Balai Taman Nasional Kerinci Seblat, Listya Kusumawardhani, yang melakukan survei 26 Mei 2003 lalu, saat ini Kerinci menyimpan 26 bunga bangkai. Sebanyak 19 di antaranya dalam fase vegetatif, 5 kuntum bunga telah mekar, dan tiga lainnya telah layu. Tumbuhan ini menyebar di dalam hutan adat Keluru, Kecamatan Keliling Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci yang berluas 23 hektar.

Keluru memang dikenal sebagai gudangnya tumbuhan amorphophallus (bunga bangkai). Hutan adat ini cukup mudah dijangkau, hanya 40 menit dari Sungaipenuh, pusat kota Kabupaten Kerinci. Menurut Listya terpeliharanya bunga bangkai ini akan meningkatkan jumlah pengunjung ke Kerinci, khususnya ke hutan adat Keluru. Sejauh ini masyarakat Keluru cukup memperhatikan kelestarian hutan adat Keluru atau memelihara hutan adat tersebut, termasuk memelihara keberadaan bunga bangkai secara utuh.***

***





Berita terkait:
Comments: