NEWS RELEASE:

Hutan Adat Keluru

Simpan Seribu Jenis Tanaman Obat

Hutan adat Keluru di Kabupaten Kerinci, Jambi, menyimpan ratusan bahkan seribu tanaman obat, disamping jenis tanaman lainnya yang bermanfaat bagi warga setempat. Salah satu jenis tanaman obat tersebut yaitu tanaman seduduk, berdaun runcing, kecil, digunakan untuk obat gusi bengkak.

Pengolahan daun seduduk ini yaitu dengan direbus lalu airnya diminum selama bengkak gusi menyusut hingga normal kembali. Selain daun, buahnya juga bisa disantap. Bentuknya juga kecil tapi menyerupai kelopak bunga, berwarna merah. Di dalam kelopak buah terkandung biji yang jika masanya untuk dikonsumsi akan muncul keluar. Bijinya inilah yang bisa dimakan dan rasanya manis.

Jumlah tanaman obat yang mencapai seribuan itu,menurut Ketua BPD Desa Keluru, Ismet Mahmud, dalam mendampingi wartawan Sumbar, Jambi, dan Bengkulu, menjelajah ke dalam hutan adat Keluru, Kamis (23/5) berdasarkan hasil survei dari mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor) yang pernah meneliti ke sana belum lama ini.

Selain seduduk, juga terdapat tanaman empedu kancil untuk mencegah penyakit malaria. Bagian yang dimanfaatkan dari empedu kancil ini,bijinya yang berwarna hitam dan hijau,juga berukuran kecil seperti biji tanaman. Batangnya berukuran sampai satu meter, dengan daun berbentuk persegi lima juga dalam ukuran kecil.

Buah empedu kancil ini bisa langsung dikunyah jika ingin mengkonsumsinya. Namun rasanya sangat pahit sekali. Sehingga warga setempat sering memakannya dengan dibantu air minum alias menelannya selayaknya tablet obat. Jenis tanaman obat lainnya yaitu bernama bunga gincu untuk mengobati luka. Kemudian ada juga pohon pua yang dihandalkan untuk disentri. Batang pohon pua ini diperas, diambil airnya,ada pula pohon sebu yang dipotong akarnya,lendir akar ditampung untuk panas dalam.



Potensi tanaman yang tak kalah besarnya di dalam kawasan hutan Keluru ini adalah pohon kayu pecat yang diperuntukan bagi pembuatan perabotan rumah tangga. Jenis pohon ini termasuk langka di Indonesia. Ciri kayunya berwarna-warni,seringkali dijadikan tongkat atau pernak-pernik lainnya oleh penduduk setempat untuk cenderamata bagi pengunjung yang datang hutan Keluru. Begitu juga dengan jenis tanaman langka lainnya, yaitu bunga Bangkai alias Raflesia.

Disamping itu juga terdapat berjenis anggrek dalam hutan Keluru ini, begitu juga dengan tanaman kemiri dan kayu manis serta bambu. Ada ketentuan adat terhadap pengambilan hasil hutan Keluru ini, terutama terhadap warga yang ingin menebang kayu. Bagi perorangan,tindakan itu tidak dibenarkan. Kayu hanya boleh diambil jika ada pendirian bangunan untuk umum, misalnya sekolah atau mesjid. Jika ada perorangan warga yang mengambil kayu dijatuhi sanksi bertajuk Beras 100 Kerbau Seekor.

Tepatnya jika ada salah seorang warga setempat yang menebang kayu,maka dia dikenai sanksi menyembelih seekor kambing. Dengan sanksi ini umumnya warga yang dimaksud tak akan berani berbuat lagi, begitu juga dengan warga lain tak akan berani meniru. Perlindungan terhadap hutan Keluru juga diberlakukan pada jenis hewannya yang beragam,seperti kijang, babi, rusa, dan lainnya.

Maka wajar kemudian hutan adat Keluru mendapat beberapa penghargaan berskala nasional terhadap upaya pemeliharaan hutan berluas 23 hektar oleh warganya ini. Warga setempat sendiri ekonominya bersandar pada hasil kebun mereka yang umumnya didominasi tanaman palawija. Hutan adat Keluru bisa dijadikan contoh pengelolaan hutan adat yang ideal oleh masyarakat.***
***





Berita terkait:
Comments: