NEWS RELEASE:

Penungguan Panjang Anak Rimba Demi Sekantong Darah


Setelah melewati penungguan yang panjang dalam mengharapkan sumbangan darah masyarakat, anak rimba bernama Mijak (13 tahun), akhirnya dapat tersenyum lega, begitu operasi hernia yang dideritanya berjalan sukses. Penyakit yang sudah sejak lahir ditanggungnya ini cukup membuatnya tak henti mengeluh jika rasa nyeri datang.

Operasi hernia terhadap Mijak dilaksanakan Kamis, 16 Januari 2003, ditangani tim dokter dari RSD Kol. Abundjani Bangko yang dipimpin oleh dr.Dennison, Sp.B. Operasi sebelumnya mengalami beberapa kali penundaan karena pada saat pemeriksaan darah ternyata Mijak diketahui mengalami Anemia dengan kadar Hemoglobine dalam darah hanya 5,6 gr %.

Sehingga Mijak memerlukan transfusi darah lebih kurang 500 ml untuk mencapai kadar Hemoglobine yang normal ( 12-16 gr %). Kesulitan muncul karena golongan darah Mijak ternyata AB di mana golongan darah tersebut relatif sulit didapatkan. Belum adanya bank darah di RSD Kol. Abundjani Bangko mengharuskan pasien ataupun keluarganya mencari sendiri orang-orang yang ingin mendonorkan darahnya.

Staf medis KKI Warsi, Sutardi Diharjo, sempat mengusahakan donor darah dari berbagai level masyarakat. Tapi sangat tak mudah mendapatkannya, bahkan mengharapkan donor dari aparat Kepolisian Resort Bangko, kantor Komando Distrik Militer. Bahkan anggota wakil rakyat pun (anggota DPRD Sarolangun) dimintai kebaikan hatinya, tanggapan yang diterima dari mereka cukup positif, terutama dari salah seorang anggota DPRD Sarolangun, H. Abdul Rahman.


Tetapi darah jenis AB tetap saja tak ada, kalau pun ada, telah didonorkan ke orang lain. Begitu juga dari instansi pemerintah, tak didapatkan jenis darah AB. Entah mereka enggan atau memang tak cocok dengan darah Mijak. Tapi yang sangat disayangkan kesulitan mendapatkan darah ini harus pula diikuti dengan adanya sifat konsumtif beberapa orang yang memanfaatkan darah mereka untuk dijual saat Sutardji menanyakan kesediannya berdonor. Ada yang menuntut imbalan Rp.300.000 sampai Rp.400.000, untuk satu kantong darah yang berisi sekitar 250 ml.

Namun usaha yang tak kenal menyerah tidaklah sia-sia, pendonor yang tulus akhirnya didapatkan juga, meskipun hanya dari satu orang. Orang yang berjasa bagi seorang anak rimba tersebut wanita bernama Resti. Meskipun itu terlebih dulu melalui sistem barter dengan keluarga pasien yang lain.

Selama dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi di RSD Kol. Abundjani Bangko, Mijak relatif mendapatkan pelayanan yang baik. Dan satu kemurahan hati juga ketika pihak RSD tidak membebani anak Rimba yang sudah tidak memiliki orang tua ini, dengan biaya operasi tersebut. Bahkan dia dibebaskan dari biaya apa pun juga. Hal ini disebabkan Mijak telah memiliki kartu sehat yang diperolehnya dari Puskesmas Pematang Kabau, pimpinan dr. Witarun Hamid, melalui bantuan Sutardi.

Kondisi Mijak kini sudah membaik atau dalam proses penyembuhan. Lelaki rimba ini sangat merasakan berharganya bantuan pihak-pihak yang peduli padanya, terutama Resti dan dr Witarun Hamid, termasuk kepada semua tim medis yang telah melakukan operasinya, yang hingga sekarang mereka masih rutin membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari RSD Kol. Abundjani Bangko. ***
***





Berita terkait:
Comments: