NEWS RELEASE:

Besar Minat Orang Rimba Ikut KB

Meskipun Orang Rimba diidentikan dengan minim pengetahuan di berbagai bidang, namun secara tak terduga mereka memiliki minat yang besar terhadap program Keluarga Berencana (KB). Program yang justru masih belum diikuti sepenuhnya oleh masyarakat luas, termasuk masyarakat Jambi. Berjenis alat KB pun ingin diketahui orang rimba dan ingin mereka coba.

Alasannya pun beragam dan tak terfokus pada tujuan ber-KB (untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga) yang dicanangkan pemerintah. Orang rimba memakai atau kemudian melepas alat KB demi alasan logis menurut pemikiran sederhana mereka, yang setiap saat bisa berubah lagi. Hal itu terungkap dalam perjalanan kerja fasilitator kesehatan Warsi yang biasa mereka panggil lokoter atau mentri (mantri) di kelompok Mangku Tuha.

Salah seorang wanita rimba bernama Induk Berosik, mengajukan pertanyaan mengenai implant (susuk KB) dan bermaksud memakainya. Alasannya karena kematian berturut-turut tiga bayi terakhir yang dilahirkannya. Dia kerepotan harus berpindah-pindah tempat beberapa kali karena tradisi melangun yang mereka punyai, yaitu harus meninggalkan tempat asal kalau ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal.

Kalau soal jumlah anak, Induk Berosik telah memiliki enam anak dengan usia tertua berkisar 9-10 tahun. Penghulu orang rimba di kelompoknya, menurut Induk Berosik, juga telah menyetujui keinginannya untuk tak hamil lagi. Sang penghulu berpendapat sama, ditambah alasan demi menghindari penderitaan bayi yang lahir berikutnya.

Induk Berosik juga menanyakan kemungkinan ber-KB lainnya seperti meminum pil anti hamil. Mengingat biaya penggunaan susuk KB teramat besar, maka disarankan Induk Berosik dan wanita rimba lainnya, sebaiknya menggunakan metode suntik saja. Namun jika dibandingkan dengan lamanya pemakaian, maka biaya susuk justru jauh lebih murah. Sekarang ini biaya pemasangan susuk bisa mencapai Rp.100 ribu.

Kesadaran ber-KB demi memperkecil resiko kematian ibu bersalin atau anak yang dilahirkan sehat, tidaklah mengakar di pikiran orang rimba. Karena begitu melahirkan, bayi, orang rimba langsung menderita penyakit yang kemudian mengakibatkan kematian sebagaimana yang dialami anak-anak Induk Berosik. Enam hari setelah melahirkan, kondisi bayi Induk Berosik terlihat lemah. Bayinya tak mau minum susu, Induk Berosik pun hanya mematok tiga kali sehari dalam menyusi anaknya itu. Mulut si bayi tampak kering. Di sekitar tali pusar juga tampak bercak-bercak merah dalam ukuran besar meskipun tidak bernanah. Kebersihan pusar bayinya memang kurang dipedulikan Induk Berosik.

Untuk itu pula demi meningkatkan kepedulian pada kesehatan dan mengenjot jumlah perempuan orang rimba ber-KB, fasilitator kesehatan Warsi tiada henti memberikan arahan. Selain Induk Berosik, wanita rimba bernama Penyunting Longkop juga berkeinginan ber-KB tapi karena alasan jumlah anaknya telah banyak. Selain itu, ada wanita rimba yang beralasan ikut KB untuk mengurangi beban kerja mengurus anak. Keinginan ber-KB ini memang baru muncul di daerah Makekal hulu sampai hilir.

Di kelompok orang rimba lainnya, seperti kelompok Tumenggung Tarib, belum ada hasrat tersebut. Mungkin karena sang tumenggung sendiri juga belum mengizinkan. Alasannya, kelompok yang dipimpinnya punya cara tersendiri untuk menjarangkan kehamilan, yaitu dengan tidak berhubungan intim sampai anak yang terakhir dirasa sudah cukup usia untuk mendapatkan adik. Sistem itu telah menjadi tradisi di komunitasnya. Selanjutnya tekad ber-KB bisa juga berubah seketika atau dihentikan di tengah jalan. Misalnya yang pernah dituturkan orang rimba, bini Nggrip. Dia melepaskan alat KB-nya karena salah seorang anaknya telah meninggal. Dan dia ingin 'membayar' kehilangan anak itu dengan hamil lagi.(*)







Berita terkait:
Comments: