NEWS RELEASE:

Petani Sarolangun Tuntut Tali Air

Sejak dicanangkannya Gerakan Kembali ke Sawah (GKS) oleh Gubernur Jambi beberapa bulan yang lalu, petani Desa Jernih dan Semurung di Kabupaten Sarolangun, telah dua kali merasakan hasil panen yang memuaskan. Bantuaan dari pemerintah sebanyak 780 kilogram benih, 100 cangkul, dan 100 parang pun sangat memberi dampak yang lebih jauh, yaitu mendorong penduduk lainnya di kedua desa itu (yang semulanya enggan, tak yakin GKS akan sukses) ngotot ingin bersawah juga.

Misalnya di Desa Jernih yang awalnya memiliki tiga kelompok tani (Padang Bungur, Pematang Kecik, dan Payo Lebar, bertambah menjadi lima kelompok tani (kelompok tani Meranti dan Beringin) dengan jumlah anggota yang juga meningkat. Di Padang Bungur semula anggotanya hanya 27 KK dengan 10 hektar sawah yang dikelola menjadi 40 orang dengan luas sawah 36 hektar. Terlihat peningkatan yang mencapai 300 persen lebih.

Hanya saja GKS masih terhadang masalah air yang kurang bahkan tak ada untuk mengairi lahan baru yang akan dibuka. Kesigapan instansi terkait dan keseriusan ?calon petani? sangat dituntut demi itu. Anggota Padang Bungur telah mengadakan pertemuan belum lama ini untuk membahas seberapa besar kemauan bersawah dan kendala air tersebut. Tercatat 23 KK yang berencana membuka lahan di sebelah areal persawahan Padang Bungur dan saat ini telah memulai merealisasikan keinginan itu agar awal Oktober sudah bisa menanam padi.

Pardi (50), salah seorang petani yang sawahnya kesulitan air, menyampaikan kalau minggu depan sepertinya belum bisa menanam karena mendadak air yang mengaliri areal sawahnya terhenti. Hal senada juga dikeluhkan Faturrahman (45), petani lainnya. Dia juga menambahkan, penanganan masalah air ke depan juga harus diikuti. dengan kecermatan pengaturan pemakaiannya. Ketua kelompok tani Padang Bungur, Sodri, (60), membenarkan hal itu dan mengharapkan secepatnya direalisasikan pembentukan P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air).

Selain itu dia juga mengharapkan adanya pembangunan tali air. Petani bersama PPL dengan mengajak Warsi (Warung Informasi Konservasi) tengah menyusun proposal permohonaan pembangunan tali air tersebut dan akan disampaikan ke Dinas PU Sarolangun dalam waktu dekat ini. Kejelasan tanggapan Dinas PU sangatlah ditunggu dan penentu kelanjutan GKS. Mengenai sumber pengairan sawah Desa Jernih dan Semurung sendiri selama ini dari Sungai Batang Sengkarang dan Batang Jernih. Mengenai areal sawah yang saat ini sangat kesulitaan air, berlokasi di sebelah persawahan Padang Bungur. Lahan tersebut akan membutuhkan tali air sepanjang 200 meter dengan luas garapan 23 ha. Potensi sawah Padang Bungur sendiri mencapai 200 hektar dan memang belum tergarap seluruhnya. Panen pertama telah dilaksanakan Agustus lalu, hasilnya sangat memuaskan. Mengingat dari 20-30 kg per-satu orang petani saja menghasilkan 1,2-1,8 ton dari bibit bantuan gubernur pada masa pencanangan GKS lalu.

Dengan pertambahan jumlah areal sawah yang akan dibuka dan jumlah petani baru di Padang Bungur seperti yang dipaparkan diatas, diyakini potensi panen keberikut (berkemungkinan November mendatang),akan melonjak melebihi 300 persen juga. Sementara itu untuk sawah Pematang Kecik dan Payo Lebar persoalan kesulitan air tidak jauh berbeda dari yang dialami sawah Padang Bungur, meskipun panen mereka juga telah berjalan, dan kini sedang masa menanam periode kedua. Selanjutnya untuk Desa Semurung, panen raya juga telah terlaksana Agustus lalu, dengan hasil padi rata-rata 6,3 ton/ha (luas areal 125 ha). Panen raya ini disaksikan langsung oleh bupati Sarolangun. Kesuksesan panen raya ini ditindaklanjuti dengan keinginan untuk membuka areal sawah baru, dengan sebutan program Perluasan Areal Tanaman (PAT) untuk masa tanam Oktober 2002. Pembukan lahan baru diajukan desa seluas 100 ha. Tindaklanjut itu juga diikuti dengan pengalokasian penangkaran benih, namun tak hanya bagi Desa Semurung tapi juga untuk Desa Jernih.

Penanganan Hama Kurang Optimal

Selain persoalan air, kesigapan petani dan instansi terkait juga dituntut dalam pembebasan padi dari hama . Sejauh ini pemberantasan hama (misalnya tikus, wereng, dan lainnya),masih belum optimal bahkan terkesan padi ?terpaksa? dibiarkan begitu saja. Dimakan hama . Sehingga bisa pula menyebabkan keinginan bersawah tak menjadi prioritas utama. Dan diprediksikan berimbas pada tujuan pengalihan perhatian penduduk dari menebang kayu di TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas) sebagai matapencaharian, tidaklah sepenuhnya akan berhasil.

Sawah sebaiknyalah prioritas disamping menangkap ikan atau menyadap karet. Upaya pemberantasan hama selama ini oleh petani dilakukan melalui penggunaan peptisida dan klorat. Namun ada sejenis hama yang membingungkan menurut keluhan petani, terutama yang di Desa Jernih,yaitu hama yang memakan bagian tengah batang padi saat umur padi hampir panen. Hama ini pernah menyerang seluruh areal sawah salah seorang penduduk Desa Jernih, tepatnya petani di RT I (Lebuh) yang tergabung dalam kelompoik tani Payo Lebar. Menurut Kepala Desa RT I, Lukman, hama itu telah menyebabkan sang petani tak bisa panen sama sekali. Meminta penjelasan dari PPL: pun sampai saat ini belum ditanggapi serius dengan turun langsung ke sawah yang bermasalah. Peran petugas PPL masih dirasa kurang.

Menanggapi hal itu, Khairul, petugas PPL Jernih-Semurung, menjelaskan sejauh petani melakukan penanaman secara serentak dengan jenis bibit yang baik, persoalan hama bisa diatasi. Dan selama tingkat aktifitas hama menyerang masih diambang ekonomi (ambang batas) cara semprot tak boleh dilakukan., karena racun peptisida atau klorat yang dipakai akan berimbas pada kualitas hasil panen. Dinas Pertanian Kabupaten Sarolangun pun juga telah mengusulkan agar petani melakukan pemanfaatan agen hayati seperti penggunaan jerami, untuk penanggulangan hama .(*)







Berita terkait:
Comments: