NEWS RELEASE:

RSUD Bangko Bantu Pengobatan Malaria Orang Rimba

Meskipun masih terlihat pucat, wajah Gentar (19), salah seorang anggota kelompok Orang Rimba yang baru saja sembuh dari serangan malaria kronis dan penyakit gangguan lambung yang cukup parah tiba-tiba terlihat ceria dan mulai bisa menampakkan gigi-giginya yang ompong dengan senyum lebar. "Kami sungguh-sungguh menyatakan sangat berterimakasih kepada RSUD Bangko karena telah mendapatkan bantuan dan pertolongan. Entah apa jadinya jika tak ada pertolongan," kata Gentar yang telah lebih dari satu minggu lamanya dirawat inap di RSUD Bangko akibat serangan dua penyakit tersebut, setelah mendapatkan kepastian mengenai biaya pengobatannya.

Pemuda Orang Rimba dari kelompok Wakil Temenggung Tuha yang biasa mendiami kawasan Makekal Hilir ini mengaku semula sangat panik ketika diberitahukan bahwa dana JPS (jaring pengaman sosial) untuk pengobatan Orang Rimba di rumah sakit tersebut sudah habis. Sementara kartu sehat yang merupakan kartu jaminan atau tanda pengenal bagi warga miskin dan kurang mampu (termasuk Orang Rimba) untuk bisa mendapatkan layanan pengobatan dan perawatan kesehatan secara gratis dari pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat terdekat tak dimilikinya.

"Adat melangun dan berpindah sering kali membuat kartu tersebut sukar bagi kami memilikinya," kata Gentar.

Bisa dibayangkan, berapa banyak rupiah yang harus dikeluarkannya untuk membiayai seluruh proses pengobatannya akibat dia tak memiliki kartu sehat tersebut dan habisnya dana JPS. Namun atas kebaikan hati pak Nelson Manurung, kepala bagian pelayanan masyarakat dan pak Ismail, Kepala ruangan pengobatan RSUD Bangko Gentar dibebaskan dari kewajiban tersebut.

"Ya, semua ini juga atas kebaikan dan kemurahan hati pak Manurung dan pak Ismail," kata Gentar didampingi oleh salah seorang kakaknya.

Diakui Gentar keduanya sangat memberikan kemudahan selama proses pengobatan dan penyembuhannya di RSUD tersebut. "Pak Ismail dan pak Manurung selalu mengecek perkembangan kondisi kesehatan saya dan sangat memberikan berbagai kemudahan untuk saya," kata Gentar.

Sebagai pelayan masyarakat Nelson Manurung menyatakan sangat memahami cara hidup kelompok SAD yang kerap berpindah-pindah akibat adat dan kebiasaan melangun yang sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Orang Rimba. Itu sebabnya dia mengaku tidak menuntut kelompok SAD yang ingin melakukan pengobatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUD Bangko untuk memiliki kartu sehat atau memaksanya untuk melunasi seluruh biaya pengobatan karena alasan lain seperti dana JPS untuk pengobatan Orang Rimba yang sudah habis. Kabarnya, dana JPS atau jaring pengaman sosial untuk pengobatan dan perawatan kesehatan bagi kelompok SAD atau Orang Rimba untuk periode pengobatan tahun ini sebenarnya sudah habis. Dalam kasus Gentar sendiri, RSUD Bangko bersedia memberikan talangan dana pengobatan sebelum turunnya dana untuk pengobatan pada tahun depan. Sedangkan prosedur pengurusan kartu sehat sendiri kabarnya juga cukup berbelit dan cenderung birokratis.

Bagi kelompok SAD prosedur pengurusan kartu sehatnya harus melalui beberapa tahapan diantaranya harus mendapatkan rekomendasi dari Kepala Desa, Camat dan Puskesmas setempat. "Kemarin penyakit saya sudah tak tertahankan, sehingga saya minta saudara saya untuk membawa ke rumah sakit, tapi dia lupa membawa kartu sehat karena kami memang tak memilikinya," kata Gentar.

Gentar yang mengaku sudah beberapa tahun ini menderita malaria mengatakan penyakitnya tersebut sebenarnya sudah jarang kambuh. Ketika dibawa ke rumah sakit oleh salah seorang saudaranya sekitar 10 hari lalu, Gentar mengatakan sudah lebih dari tiga minggu merasakan badannya menggigil akibat penyakit malaria yang dideritanya juga gangguang lambung yang membuatnya terus menerus merasa mual dan muntah-muntah.

"Saya dan saudara-saudara semua sudah khawatir kalau penyakit ini benar-benar akan mengancam hidup saya," kata Gentar.

Masalahnya, karena obat-obatan tradisional yang biasa digunakannya di dalam rimba sudah tak mampu lagi mengatasi penderitaannya akibat serangan dari dua penyakit tersebut. Sehingga nafsu makannya benar-benar hilang dan menyebabkan berat badannya turun drastis. "Tetapi sekarang saya merasa lebih sehat dan enak. Bisa tidur nyenyak dan tidak menggigil lagi," kata Gentar yang masih harus menjalani rawat jalan di RSUD Bangko, sampai penyakitnya tersebut benar-benar dinyatakan sembuh dan dapat pulang lagi ke tempat tinggalnya di TNBD. (*)







Berita terkait:
Comments: