NEWS RELEASE:

Meningkat, Akses Pelayanan Kesehatan Bagi Orang Rimba

Akses pelayanan kesehatan bagi orang rimba semakin membaik. Kini, mereka dapat berobat di pusat-pusat layanan kesehatan terdekat kapan saja membutuhkannya.
Akses pelayanan kesehatan bagi Orang Rimba sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jika dulu Orang Rimba seringkali ditolak untuk mendapatkan pengobatan di pusat-pusat layanan kesehatan, sekarang ini hal tersebut sudah berubah drastis. ?Sama halnya dengan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum, Orang Rimba dapat berobat setiap saat mereka membutuhkannya,? kata dr Dennison, dokter ahli bedah di RUSD Bangko.

Salah satu contohnya ketika beberapa waktu lalu seorang anak kecil dari masyarakat Orang Rimba menderita infeksi telinga yang cukup parah akibat terkena parang saat bermain, RUSD Bangko dengan cepat dan sigap segera membantu memberikan pengobatan. Penguar (7) nama anak Orang Rimba tersebut mengaku sudah lebih dua bulan menderita infeksi telingga bagian kiri hingga membengkak dan bernanah. Namun, karena lokasi tempat tinggalnya di dalam rimba, anak Orang Rimba dari kelompok (rombong) Temenggung Mirak yang mendiami kawasan Sungai Seranten desa Bunga Tanjung tersebut hanya mendapatkan pengobatan tradisional sederhana sehingga mengakibatkan luka pada telinga tersebut semakin parah.

Dengan bantuan beberapa saudara lelakinya, Penguar memberanikan diri mendatangi RSUD Bangko. Hingga pada akhir Juni lalu RSUD Bangko berhasil melakukan operasi pembedahan pada telingga Penguar berikut layanan rawat inap selama beberapa hari di rumah sakit tersebut. Dr Dennison SpB yang memberikan perawatan dan pengobatan kepada Penguar menyatakan, sejauh ini Penguar dinyatakan sehat. ?Infeksi telinga yang dialami Penguar menuntut dilakukan pembedahan sebab kondisi telinganya yang membengkak sudah sangat memprihatinkan. Jika tidak segera dilakukan pembedahan dikhawatirkan dapat mengakibatkan tuli,? kata dia.

Menurut Dr Dennison, kondisi telinga Penguar sudah lebih sehat dan hanya menunggu lukanya kering. ?Kami juga sudah melakukan beberapa kali pemeriksaan terhadap luka dan bekas operasinya. Saat ini dia hanya melakukan pengobatan rawat jalan sejak dibolehkan pulang setelah operasi,? kata Dr Dennison.

Bagi dr Dennison dan sejumlah para medis di rumah sakit - rumah sakit maupun pusat layanan kesehatan di kawasan yang berinteraksi langsung dengan TNBD, kondisi ini justru menggembirakan. Karena hal ini berarti kepedulian masyarakat Orang Rimba terhadap kesehatan semakin meningkat. ?Terutama karena kerusakan hutan telah mengakibatkan beberapa jenis tumbuhan yang selama ini banyak digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional sudah semakin sulit didapat. Sedangkan kondisi air sungai yang semakin tercemar bisa jadi menyebabkan daya tahan tubuh masyarakat Orang Rimba kian menurun,? kata dokter Dennison pula.

Sedangkan seluruh biaya untuk kebutuhan untuk pengobatan Penguar menurut dr Dennison menjadi tanggungan dari biaya pengobatan SAD yang ada di RS tersebut. ?Namun masyarakat Orang Rimba tak perlu khawatir, jika tidak ada biaya kami bersedia membantu dan mengusahakannya,? kata dia.

Penguar sendiri mengaku saat ini merasa lebih nyaman sebab sebelum dilakukan operasi dia sering merasakan nyeri pada bagian telingganya tersebut. Luka yang dideritanya tersebut menurut Penguar akibat terkena parang salah seorang temannya saat bermain. ?Lukanya sudah dua bulan lalu dan sudah mendapat pengobatan tetapi rupanya belum sembuh dan menjadi bengkak sampai mengeluarkan nanah sehingga terpaksa dibawa ke rumah sakit ,? kata Bakilat, salah seorang saudara Penguar yang ikut mengantarkan anak tersebut ke rumah sakit.

Selain mendapatkan pengobatan rawat jalan, Penguar juga mendapatkan bantuan obat-obatan. ?Kami pun bisa berobat dan mendapatkan obat-obatan jika sakit dan mendatangi Puskesmas yang dekat dengan TNBD,? kata Bekilat.(*)

***





Berita terkait:
Comments: