NEWS RELEASE:

Sokola Orang Rimba di Bukit Duabelas

Program Pendidikan Informal Bagi Orang Rimba

Sejak awal tahun 1998, Warsi mengembangkan program pendidikan bersama Orang Rimba di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dahulu Cagar Biosfer Bukit Duabelas. Program ini bukan dengan menyiapkan gedung dan ruang belajar, guru-guru dan kurikulum, maupun fasilitas lainnya.

Program pendidikan yang dimaksud adalah memberikan pelajaran baca-tulis-hitung yang praktis dan sederhana, sehingga bisa dimanfaatkan oleh Orang Rimba dalam kehidupan sehari-hari, terutama jika berinteraksi dengan masyarakat di luar komunitas mereka. Tahun ini program tersebut kembali dikembangkan staf Warsi, Saur Marlina Manurung (Butet), lulusan Antropologi Unpad Bandung, yang berperan sebagai pendamping.

Pertama kali diperkenalkan di Makekal, sisi barat TNBD kawasan hidup Orang Rimba dari kelompok Wakil Tuha. Mereka menyebutnya sokola (berarti sekolah), tapi tidak menyerupai sistem persekolahan yang berlaku selama ini: tanpa gedung, ruang kelas dan baju seragam. Pada awalnya, program yang dikembangkan pada semua kelompok Orang Rimba ini, belum diterima. Misalnya, Kelompok Wakil Tuha yang sempat menolak anggotanya diperkenalkan dengan dunia baca-tulis-hitung. Alasannya jika sudah mengenal paket ini, anggotanya dikhawatirkan akan menjadi orang dusun (mereka menyebut kelompok di luar komunitasnya sebagai Orang Terang) yang dituduh turut merusak dan menggadaikan hutan sebagai kawasan hidup mereka secara turun temurun.

Namun, dengan pendekatan yang dilakukan dengan sabar dan tekun, akhirnya sebagian kelompok mulai menerima. Alasannya, pengetahuan baca-tulis-hitung diperlukan agar tidak lagi ditipu dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang dusun atau di luar komunitas mereka. Sejak empat bulan lalu, salah satu anggota kelompok ini, yakni Gentar (16 tahun), sudah bisa menjadi kader, yang membantu Butet menjadi instruktur bagi Orang Rimba di kelompok lain.

Selain Gentar, saat ini ada sekitar 20 anak-anak Orang Rimba yang menjadi peserta. Jumlah ini bisa bertambah, dan juga berkurang, seiring dengan mobilitas melangun mereka. Melangun atau mengembara dilakukan jika pada satu kelompok ada anggota keluarga yang meninggal, maka kelompok itu akan pergi jauh sebagai tanda kesedihan mereka. Dengan demikian program ini akan ditinggal oleh anggota kelompok yang mendapat musibah.

Gentar sendiri, sejak dua bulan belakangan, sudah mulai aktif mendampingi Orang Rimba dari Pakuaji, sisi selatan Taman Nasional Bukit Duabelas, dengan memperkenalkan huruf dan angka. Jika salah satu dari anggota kelompok ini sudah ada yang bisa menjadi 'kader', maka Butet dan Gentar akan pindah ke kelompok lain. (*)







Berita terkait:
Comments:
  • user image Sarah [2016-04-20]
    Adanya sekola rimba ini dapat membatu kehidupan orang rimba menjadi lebih baik, lankutkan.