NEWS RELEASE:

Bukit Duabelas Ditetapkan Sebagai Taman Nasional

Kawasan hutan lindung yang berada di Bukit Duabelas, Propinsi Jambi, ahkirnya ditetapkan oleh Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Dephutbun) sebagai taman nasional. Ketetapan itu berdasarkan Keputusan Menhutbun No.258/Kpts-II/2000, tanggal 23 Agustus lalu, ditandatangani Nurmahmudi Ismail, atau sehari sebelum departemen yang dipimpinnya dipangkas menjadi Menteri Muda Kehutanan.

Keputusan itu, antara lain menyebutkan, kawasan Taman Nasional (TN) Bukit Duabelas berasal dari perubahan fungsi sebagian hutan produksi terbatas Serengam Hulu seluas 20.700 ha, dan sebagian hutan produksi tetap Serengam Hilir seluas 11.400 ha, serta penunjukan sebagian areal penggunaan lain seluas 1.200 ha dan kawasan suaka alam dan pelestarian alam (cagar biosfer) seluas 27.200 ha. Dengan demikian luas TN Bukit Duabelas menjadi 60.500 ha.

TN Bukit Duabelas berada di empat kabupaten (Batanghari, Sarolangun, Bungotebo dan Merangin) dan persis di tengah-tengah Propinsi Jambi. Kehadirannya juga melengkapi tiga TN lain yang masuk dalam wilayah Propinsi Jambi: TN Berbak, TN Bukit 30 (sebagian masuk Riau), serta TN Kerinci Seblat (sebagian berada di tiga propinsi lain: Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan).

Tidak Ditanggapi Keputusan tentang status kawasan konservasi di Bukit Duabelas itu sudah lama ditunggu-tunggu. Semula, melalui surat usulan Gubernur Jambi No. 522 Tahun 1984, kawasan itu ditetapkan sebagai cagar biosfer. Namun usulan itu tidak mendapat tanggapan, karena status cagar biosfer belum ada diatur secara lebih jauh dalam UU No. 5 Tahun1990 tentang Sumberdaya Alam Hayati beserta Ekosistemnya.

Meskipun keberadaan usulan cagar biosfer tidak mendapat tanggapan, namun kawasan itu harus dilindungi, sehingga dilakukan berbagai kajian yang dapat mendukung keinginan itu. Kajian itu antara lain menyebutkan kawasan lindung ini merupakan derah tangkapan hujan dan hulu dari sejumlah anak Sungai Batanghari, sehingga mampu menjaga fungsi hidro-orologi (tata guna air). Juga menciptakan keseimbangan iklim, terutama iklim mikro, melindungi mamalia besar --seperti harimau dan tapir yang sudah langka-- dari habitatnya.

Selain itu, taman nasional ini akan menyelamatkan keragaman hayati yang kandungannya cukup tinggi, termasuk tanaman obat, sumberdaya perikanan seperti jenis ikan patin, arwana putih dan belido yang berada di sejumlah sub DAS yang berhulu ke TN Bukit Duabelas. Dan, yang juga penting, sumberdaya pencarian Orang Rimba, berupa hasil hutan nonkayu juga makin terjamin, karena sumbernya berada dalam kawasan taman yang baru saja ditetapkan.

Setelah SK itu keluar, bukan berarti persoalan yang dihadapi pengelola taman nasional ini selesai begitu saja. Tekanan yang dihadapi kini kian berat, dengan leluasanya sejumlah pengusaha mengeksploitasi kayu. Kegiatan yang berlangsung ilegal ini ada yang dengan melibatkan masyarakat, juga yang dilakukan sendiri. Tentu diperlukan keseriusan berbagai pihak untuk segera mengamankan kawasan ini, agar tidak menjadi target operasi penebangan ilegal yang sudah berlangsung sejak lama. (ET)







Berita terkait:
Comments: