NEWS RELEASE:

Mengenang Gus Dur,

Kado Terindah Bagi Orang Rimba
Indonesia kehilangan putera terbaiknya. Kemarin, 30 Desember 2009, pukul 18.45 di RSCM, Jakarta Gus Dur (panggilan akrab KH. Abdurrahman Wahid) mangkat meninggalkan kita semua setelah beberapa hari menjalani perawatan di RSCM akibat komplikasi diabetes, gagal ginjal.

Sosok Gus Dur yang lahir di Jombang, Jawa Timur 7 September 1940 begitu hangat dan suka guyon. Beliau adalah tokoh negara yang begitu dikagumi dengan ideologi-ideologi yang unik dan kokoh dalam pendiriannya. Salah satu langkah baik yang diambilnya, adalah ditetapkannya Bukit Duabelas sebagai Taman Nasional (TNBD) dalam era reformasi yang pada waktu itu, Presiden RI dijabat Abdurrahman Wahid langsung mengukuhkannya sebagai wilayah kelola Orang Rimba, dengan memperkuat SK Menhut No.258/KPTS-II/2000, dua bulan kemudian (Oktober 2000).

Sebelum dikukuhkan oleh Abdurrahman Wahid yang saat itu menjabat sebagai presiden, pemerintahan sebelumnya berencana akan mengkonversi kawasan hutan Bukit Duabelas menjadi kawasan Hutan Tanam Industri. Hal ini sama saja merupakan kiamat bagi kehidupan Orang Rimba itu sendiri. Dikarenakan kawasan Bukit Duabelas merupakan satu- satunya kawasan hutan tersisa yang didalamnya menjadi sentra populasi dan budaya Orang Rimba. Hingga saat ini, populasi Orang Rimba mencapai 1500 jiwa yang tersebar di seluruh kawasan hutan Bukit Duabelas.

Orang Rimba sangat bergantung pada hutan, semua daur kehidupan mulai dari hidup hingga meninggal terkait dengan ekologi hutan. Sebagai contoh, jika seseorang lahir; tali pusat dan ari-ari bayi akan ditanam bersama tumbuhan setabung. Tanaman ini melambangkan kehidupan anak yang terkait langsung dengan hutan. Demikian juga dengan ritual kayu sengiris dikerok kulitnya lalu diambil dan diusapkan ke dahi bayi. Maknanya agar kelak bayi tumbuh sehat dan kuat seperti pohon sengiris yang merupakan salah satu pohon paling keras di hutan. Kedua pohon ini sangat pantang untuk ditebang, jika terjadi penebangan; hukum yang berlakukan sama dengan membunuh nyawa manusia. Tidak hanya itu, berbagai ritual kepercayaan Orang Rimba hanya bisa dilaksanakan di dalam hutan. Puluhan bunga dari berbagai jenis pohon, merupakan bahan pokok yang digunakan Orang Rimba dalam penyembahan kepada para dewa.

Gus Dur mengukuhkan SK Menhut No.258/KPTS-II/2000, yang sebenarnya ini masukan dari pendapat para ahli kehutanan yang ada di jajaran Departemen Kehutanan. Dikarenakan melihat hanya Taman Nasional lah yang mempunyai aturan hukum yang jelas. Sementara itu, yang diinginkan advokasi KKI Warsi pada saat itu adalah mempertahankan status hukum cagar biosfer. Status hukum cagar biosfer dianggap lebih sesuai dalam pengelolaan kawasan berbasis tata ruang Orang Rimba. Sedikit berbeda dari Taman Nasional lainnya, kawasan Bukit Duabelas untuk pertama kali dibuat dengan maksud melindungi habitat masyarakat rimba. Ini memang sesuai dengan fungsi taman sebagai penyangga kehidupan atau dalam arti khusus sebagai penyangga bagi kehidupan Orang Rimba. Peristiwa langka ini terjadi pada zaman kepemimpinan Abdurahman Wahid. Segala keputusan dan langkah yang diambilnya, menunjukkan kedalaman berpikir, dan keterbukaan yang dimilikinya.
***





Berita terkait:
Comments: