NEWS RELEASE:

Warsi Bantu Korban Banjir

Untuk meringankan penderitaan masyarakat Desa Batu Sawar Kecamatan Muaro Sebo Ulu Kabupaten Batanghari, dan masyarakat Desa Tanah Garo dan Tambun Arang Kecamatan Muaro Tabir Kabupaten ini sebagai wujud keprihatinan KKI Warsi terhadap desa-desa penyangga Taman Nasional Bukit Dua Belas, yang mengalami musibah banjir sejak 1 januari lalu. Bantuan diterima oleh masing-masing kepala desa untuk kemudian di distribusikan kepada warga desa.

Musibah yang melanda warga desa ini akibat Sungai Batang Tabir tidak mampu lagi menampung tumpahan air hujan, hingga meluap hingga pemukiman warga, hingga ketinggian sepinggang orang dewasa. Di tempat yang lebih rendah ada rumah yang hanya kelihatan atapnya saja.
Bantuan ini disambut baik oleh warga desa. Sejak dilanda banjir warga Desa Batu Sawar belum sekalipun menerima bantuan. Apalagi banjir yang telah melanda seminggu lebih, sangat menyulitkan roda perekonomian warga. ?Kami tidak bisa menyadap karet, kebun terendam juga. Kalaupun surut belum tentu kami bisa menyadap karena batang karet masih basah dan juga tempurung penampung getah telah hanyut terbawa banjir,?keluh Kepala Desa Batu Sawar Datuk Khalik.

Tak hanya itu, gilingan padi yang biasanya menyuplai kebutuhan beras warga juga ikut terendam sehingga tidak bisa menghasilkan beras untuk dikonsumsi warga. ?Beruntung ada yang bantu. Namun kami mengharapkan tidak hanya LSM yang memperhatikan kami, tetapi kami juga berharap pemerintah bisa membantu mengatasi kesulitan yang tengah kami hadapi,?kata Datuk.

Warga desa juga mengeluhkan minimnya persediaan air bersih untuk dikonsumsi. Sumur-sumur warga sudah tenggelam, hanya satu yang masih bisa diambil airnya, itupun untuk ke lokasi sumur warga harus menggunakan perahu. Kondisi sulit ini memaksa sebagian warga untuk mengkonsumsi air sungai yang tengah meluap dan berwarna kecoklatan. Meski sadar air sungai tak layak konsumsi, tetapi warga tak punya pilihan lain. Akibatnya, sejumlah penyakit juga mulai menghampiri warga desa yang dihuni 120 kk tersebut. ?Mulai ada yang terserang gatal-gatal dan diare,?keluh kades.

Banjir diawal tahun yang melanda wilayah ini, tergolong cukup besar. Walau perkampungan warga berada di pinggiran sungai, namun sangat jarang banjir besar datang. Seperti tahun lalu, tidak ada banjir yang datang, musim hujan hanya menyebabkan naiknya muka air sungai, namun air tidak sampai menggenangi pemukiman warga. Menurut pengakuan warga, banjir tahun ini, hampir menyamai banjir besar yang juga melanda daerah ini pada 2003 lalu.

Kehilangan hutan picu tingginya banjir

Alih fungsi hutan di wilayah Jambi diyakini sebagai penyebab banjir yang melanda sejumlah daerah. Hutan yang merupakan daerah tangkapan air, jika hujan turun akan menyerap hujan ke dalam tanah dan menjadikannya sebagai air tanah. Namun akibat kehilangan hutan, hujan yang turun langsung menjadi run off (aliran permukaan), dan langsung menuju sungai. Aliran permukaan yang sangat besar inilah yang tidak sanggup ditampung sungai sehingga sungai menjadi meluap dan masuk ke pemukiman warga.

?Harus ada penanganan yang lebih konfrehensif di wilayah-wilayah hutan yang telah rusak, seperti penghutanan kembali daerah-daerah kritis, jika tidak banjir akan selalu jadi masalah yang terus berulang di setiap musim hujan,?kata Deputi Direktur KKI Warsi Mahendra Taher. ******





Berita terkait:
Comments: