NEWS RELEASE:

Pesan Dari Kampung Untuk Masyarakat Global

Sekarang ini isu REDD telah menjadi isu besar secara internasional. Asumsi dasarnya sederhana yaitu dengan mempertahankan hutan dari deforestasi dan degradasi maka iklim bumi akan bisa dikendalikan. Walaupun asumsinya sederhana namun masalahnya sangat kompleks. Dalam kompleksitas masalah ini hal terpenting yang cenderung luput dari untuk mendapat perhatian adalah hak-hak komunitas lokal di dalam dan sekitar hutan.

Bagi komunitas lokal, isu REDD sangat jauh dari jangkauan dan hampir tidak punya akses untuk turut menentukan arah dan kebijakan REDD. Pada hal isu ini akan berkaitan langsung dengan kawasan hutan dimana komunitas ini hidup dan berpenghidupan. Jika REDD ini diimplementasikan oleh negara tanpa kepastian hak-hak komunitas di dalam dan sekitar hutan akan sangat membahayakan keberadaan mereka. Berbagai kemungkinan bisa terjadi yang mengancam hak-hak mereka terhadap sumber daya hutan sebagai implikasi dari REDD. Seperti pembatasan hak dan akses terhadap sumber daya hutan dan semakin tidak diakuinya hak mereka terhadap hutan.

Di Sumatera Bagian Selatan banyak kelompok-kelompok masyarakat asli dan lokal yang hidupnya sangat bergantung kepada sumber daya hutan. Dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan berkeadilan yang telah dilakukan selama ini dalam bentuk Hutan Adat, Rimbo Larangan, Rimbo Hulu Air, Kawasan Lindung Desa, Lubuk dan Lebung Larangan, Parak, Talang dan Masyarakat mengelola hutan memperlihatkan kearifan yang terbukti mampu menjaga kelestarian hutan, di beragam tipe ekosistem tempat hidup dan berpenghidupan juga beragam, mulai dari kawasan lahan basah di Pantai Timur sampai hutan hujan tropis dataran tinggi di sekitar Bukit Barisan.
Saat ini , KKI WARSI sedang dan telah melakukan proses konsultasi terkait isu REDD diberbagai komunitas yang hidup pada berbagai tipe kawasan hutan. Ada banyak ide-ide, saran, ketakutan, keraguan dan harapan terhadap REDD. ;Muncul pertanyaan, apakah kehadiran REDD akan menjadikan pengelolaan hutan akan menjadi lebih baik atau malah akan sebaliknya. Hal-hal semacam itu menjadi catatan penting yang di dapat selama melakukan proses konsultasi.
Sejalan dengan rangkaian pelaksanaan Musyawarah Besar Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI dan hari jadi yang ke18, maka KKI WARSI akan menyelenggarakan Lokakarya ?Pesan dari Kampung untuk Masyarakat Global Dalam Menghadapi Perubahan Iklim?. Lokakarya ini diharapkan menjadi media awal untuk menyalurkan berbagai informasi yang diperoleh selama konsultasi pada berbagai pemangku kepentingan utama yang terkait dengan perubahan iklim secara umum dan REDD pada khususnya, sehingga suara-suara tersebut bisa menjadi rujukan terhadap berbagai kebijakan yang akan diambil terkait skema tersebut.

Harapannya tentu skema REDD hendaknya bisa menjadi salah satu strategi untuk mendorong proses pengakuan dan perluasan kawasan kelola masyarakat. Juga sebagai upaya untuk mendorong terciptanya keberdayaan dan partisipasi aktif masyarakat dan Pemerintah Daerah di dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Berbagai skema pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan juga telah dibuka, baik dengan memakai pendekatan Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, Kemitraan serta Hutan Tanaman Rakyat juga Hutan Adat.
***





Berita terkait:
Comments: