NEWS RELEASE:

Anak Rimba Di TNBD Mengalami Gizi Buruk

ondisi kesehatan sejumlah anak rimba yang tersebar di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Provinsi Jambi, sangat memprihatinkan. Hal itu ditengarai karena mereka mulai kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk memenuhi pasokan gizi bagi anak-anak. Anak rimba yang kekurangan gizi tersebut berasal dari kelompok Temenggung Marituha dan Temenggung Nyenong, yang bisa diakses dengan jarak tempuh sekitar 30 kilometer dari Kota Sarolangun.

Kesehatan anak-anak rimba semakin memburuk karena mereka kesulitan mendapatkan bahan-bahan makanan. Sebab, sebagian besar kawasan hutan yang menjadi wilayah jelajah orang rimba, selama beberapa tahun terakhir sudah mengalami kerusakan cukup parah. Kawasan hutan yang dulu mampu menyediakan pasokan makanan bagi keberlangsungan hidup orang rimba, kini sudah banyak yang berubah fungsi menjadi kawasan perkebunan. Akibat kerusakan hutan tersebut kehidupan orang rimba dari hari ke hari semakin merana dan terpinggirkan. Hal itu diperparah lagi karena orang rimba kesulitan mendapatkan akses pelayanan kesehatan, baik dari puskesmas maupun dari rumah sakit.

Kondisi kesehatan sejumlah anak rimba di sekitar TNBD memang sangat memprihatinkan. Perut mereka tampak buncit, badan kurus, mata cekung dan sebagian anak lagi tulang dada mereka bergeser dan tidak simetris. Kondisi itu diduga karena gizi buruk yang mereka alami sejak masih usia dini.

Fasilitator Kesehatan KKI Warsi Kristiawan mengatakan, penanganan kesehatan anak-anak rimba saat ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah kabupaten dan provinsi. Dia mengaku miris, begitu menemukan anak-anak rimba yang mengalami gizi buruk dan gangguan kesehatan di dalam hutan. Selain dikarenakan kekurangan bahan makanan, mereka juga kesulitan mendapatkan akses penanganan kesehatan. "Akhirnya, kesehatan orang rimba semakin hari kian memburuk dan memprihatinkan,"kata Kristiawan.

Untuk bisa melihat langsung anak-anak yang mengalami gizi buruk tersebut harus menempuh perjalanan berjam-jam naik turun bukit. "Petugas kesehatan harus mau turun melihat langsung ke dalam kondisi mereka yang memprihatinkan, sayangnya petugas kita belum mau untuk masuk ke kelompok Orang Rimba yang jauh dipedalaman,'"sebutnya.

Untuk menemukan kelompok-kelompok ini, juga dibutuhkan kesabaran, karena tradisi Orang Rimba yang masih suka berpindah tempat, yang dalam bahasa Orang Rimba disebut melangun akibat tingginya angka kematian di antara Orang Rimba. "paling tidak harus dialokasikan waktu seminggu masuk rimba untuk bisa melihat keadaan mereka,"sebut Kris.

Beberapa waktu lalu, Dinas Kesehatan Sarolangun dan Puskesamas Pauh sudah turun ke lapangan tetapi mereka tidak sampai jauh masuk ke dalam rimba. Namun demikian pihak puskesmas berjanji akan menindaklanjuti temuan gizi buruk di kelompok Orang Rimba. Mereka juga berjanji akan kembali lagi ke lokasi untuk memberikan imuniasai kepadaanak-anak rimba guna meningkatkan daya tahan tubuh anak-anak rimba. Menurut Dr Nurlia Kepala Puskesman Pauh ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak rimba kekurangan gizi diantaranya tempat tinggal yang tak memenuhi standar kesehatan serta kondisi pakaian juga sangat berpengaruh. "Jadi yang menentukan seseorang bisa sehat bukan cuma dari faktor pola makan saja,"sebutnya melihat kondisi orang Rimba.

Salah seorang petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun, Masrianto, mengatakan bahwa ke depan pihaknya akan melakukan semacam pengobatan gratis ke lokasi orang rimba. Program itu bisa saja dilakukan sekali dalam dua bulan. Dengan demikian, diharapkan mampu mengatasi persoalan ksehatan yang selama ini dialami orang rimba. "Selain itu, kami juga akan menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan puskesmas. Seperti penambahan bantuan obat-obatan dan MPASI," ungkapnya.***
***





Berita terkait:
Comments: