NEWS RELEASE:

Harimau Di Hutan Adat Guguk

Kamera trap yang ditempatkan KKI Warsi bekerja sama dengan ZSL dan Pengelola hutan adat Guguk, berhasil merekam adanya harimau dan sejumlah satwa dilindungi di dalam kawasan hutan adat Guguk Desa Guguk Kecamatan Ranah Pembarap Kabupaten Merangin. Selain harimau di kawasan seluas 630 ha ini juga terekam satwa lain yang statustnya juga dilindungi diantaranya beruang madu, kucing batu, tapir dan kijang muncak. Satwa ini mendapat status Appendict I sesuai dengan PP no 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. Juga terdapat monyet beruk, simpai dan kuaw raja, yang statusnya appendict II atau jika tidak diindungi akan mendekati kepunahan. Dengan terekamnya satwa-satwa ini menyatakan bahwa kawasan hutan adat Guguk yang keberadaannya dikelola dengan kearifan lokal masyarakat, menyimpan kekayaan yang sangat beragam.

"Keberadaan harimau dan satwa lain yang terancam punah di kawasan ini memperlihatkan bahwa kawasan hutan adat Guguk memegang peranan penting sebagai habitat satwa tersebut, sehingga keberadaannya perlu terus dipertahankan dan dijaga,"sebut kata Yul Qari Koordinator Program KKI Warsi.

Kondisi kesehatan sejumlah anak rimba di sekitar TNBD memang sangat memprihatinkan. Perut mereka tampak buncit, badan kurus, mata cekung dan sebagian anak lagi tulang dada mereka bergeser dan tidak simetris. Kondisi itu diduga karena gizi buruk yang mereka alami sejak masih usia dini.

Disebutkannya harimau sumatera merupakan satwa endemik yang keberadaannya di hutan-hutan primer semakin sedikit. Alih Fungsi hutan dan tingginya perburuan harimau menyebabkan harimau sumatera terancam punah. "Dalam rantai makanan harimau sebagai pemangsa puncak, dengan posisi ini, harimau memegang peranan penting menjaga keseimbangan ekosistem. Karena harimua membutuhkan habitat yang luas dengan tutupan hutan yang baik,"sebutnya sembari menambahkan pemotretan dilakukan selama satu bulan sepanjang Maret lalu.

Disebutkannya dengan posisi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem hutan, harimau berperan melindungi kelestarian dan menyelamatkan kehidupan liar lainnya. Dengan keseimbangan ekosistem ini membawa keuntungan bagi manusia.

"Secara langsung jika habitatnya rusak sebagimana yang terjadi disejumlah tempat di Jambi, harimau keluar habitatnya dan kemudian memangsa manusia. Ini contoh kasarnya, tetapi yang lebih penting dari itu bahwa ketika hutan yang menjadi habitat harimau rusak, bencana ekologis akan menghampiri manusia, seperti banjir dan longsor,"sebutnya.

Untuk itu lanjut Yul Qari, habitat harimau sudah seharusnya di jaga dan dipertahankan sebagaimana yang dilakukan masyarakat Guguk pada hutan adat mereka. Untuk diketahui masyarakat Guguk berhasil mengklaim wilayah adat mereka terhadap perusahaan HPH diberi izin oleh pemerintah untuk mengelola kawasan tersebut.

Melalui perjuangan panjang, akhirnya masyarakat berhasil mengeluarkan perusahaan di wilayah tersebut dan kemudian mengajukan izin kelola sebagai hutan adat ke Bupati Merangin dan dikabulkan Bupati pada 2003 silam. Dengan adanya SK pengukuhan hutan adat ini, masyarakat Guguk mengelola kawasan ini secara lestari.

Tak lupa kelompok pengelola hutan adat yang dipilih masyarakat desa, juga menetapkan sejumlah aturan untuk kelestarian kawasan. Diantaranya adanya patroli rutin dan memberikan denda yang cukup besar bagi pelaku penebangan pohon di kawasan ini. Kayu dikawasan ini hanya boleh dimanfaatkan untuk fasilitas publik dan itupun harus melewati diputuskan melalui rapat adat. Dengan model pengelolaan ini, banyak manfaat yang didapatkan masyarakat, diantaranya fungsi hidrologi yang berjalan dengan baik, konflik dengan satwa tidak terjadi dan masyarakat Guguk kini menjadi salah satu model pengeloaan hutan yang kerap dikunjungi pihak lain sebagai media belajar bersama baik dari dalam maupun luar negeri.

"Kearifan lokal masyarakat membuktikan mereka mampu mengelola kawasan dengan baik, yang mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitarnya, sekaligus juga memberikan ruang bagi stwa sehingga meminimalkan konflik manusia dan satwa,"sebut Yul Qari.

Apalagi lanjut Yul, saat ini harumau sumatera hanya berkisar 300-400 ekor saja, kalau tidak ada perlindungan habitat dengan dukungan kebijakan pemerintah, bisa jadi nasib harimau sumatera akan sama dengan harimau bali dan harimau jawa yang sudah lebih dahulu punah. ***
***





Berita terkait:
Comments: