NEWS RELEASE:

Orang Rimba Diterkam Buaya

Konflik Manusia Vs Satwa
K onflik manusia vs satwa kembali mengejutkan masyarakat di daerah Jambi. Kali ini melibatkan seekor buaya dengan Malali, salah satu Orang Rimba dari kelompok Temenggung Nyenong. Meski berhasil selamat dari amukan buaya, namun tubuh Malali berlumuran darah dicabik buaya saat bergulat selama beberapa menit dengan si raja sungai itu.

Peristiwa tragis ini dialami Malali, Selasa (28/8) lalu. Pertarungan sengit melawan buaya itu berawal ketika Malali bersama beberapa rekannya sedang berburu labi-labi di sungai Sokolado, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari. Mereka berburu labi-labi untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Semula Malali begitu gembira saat menemukan binatang buruan yang ia kira adalah seekor labi-labi besar. Tombak di dalam genggaman tangannya pun meluncur deras menghantam kepala binatang buruan itu.

Namun, kegembiraan Malali untuk mendapatkan binatang buruan besar hari itu tiba-tiba pupus. Tombak di tangannya patah saat berbenturan dengan sasaran yang sangat keras. Keterkejutan Malali tak berakhir sampai di situ. Selang sekejap, buaya yang merasa terusik dengan serangan Malali langsung beraksi. Ia membalas dengan melakukan serangan balik terhadap Malali. Terkaman moncong buaya yang sangat mematikan mengancam Malali. Tak ingin mati konyol, Malali berjibaku dalam pertarungan hidup mati melawan si raja sungai. Pergumulan berlangsung beberapa menit di dalam sungai. Malali berhasil selamat dan menjauh dari amukan buaya setelah dibantu oleh beberapa rekannya yang menyaksikan peristiwa itu. Meski bisa selamat, namun beberapa bagian tubuhnya berkucuran darah setelah dihajar buaya.

Karena kehabisan banyak darah, usai kejadian itu Malali jatuh pingsan. Saat ini ia masih harus menjalani pengobatan secara intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSDU) Haji Abdoel Madjid Batoe (HAMBA) Muarabulian, Kabupaten Batanghari. ***

Selama beberapa tahun terakhir konflik antara manusia dan satwa semakin sering terjadi. Tak hanya konflik antara buaya dengan manusia, beberapa waktu lalu konflik yang melibatkan manusia dengan harimau, dan manusia dengan beruang juga sering terdengar. Padahal, pada dasarnya baik harimau maupun buaya bukanlah satwa pemangsa manusia. Berbagai spesies buaya di dunia, termasuk sejumlah spesies buaya yang ada di Indonesia memiliki ciri-ciri yang tidak jauh berbeda. Hewan jenis ini memiliki habitat di perairan air tawar seperti danau, rawa, air payau, dan sungai.

Spesies buaya merupakan hewan pemangsa jenis penyergap yang mencari makan dengan cara menunggu mangsa. Begitu mengetahui ada mangsa, mereka akan mendekat dan secara mendadak bergerak cepat menerkam mangsanya. Buaya tak ingin memberikan kesempatan kepada mangsa untuk menghindar dan menyelamatkan diri. Biasanya buaya memangsa hewan dari jenis ikan, burung, dan beberapa jenis hewan mamalia lainnya. Dalam memburu mangsa buaya tidak saja mampu bergerak cepat dan tiba-tiba, tapi buaya juga mempunyai kemampuan mencengkeram yang kuat dengan menggunakan rahang yang kuat di dalam mulutnya.

Untuk kasus konflik antara manusia dan satwa seperti yang dialami Malali jangan dianggap hal yang sepele. Peristiwa ini perlu disikapi dengan bijaksana oleh semua pihak. Karena pada dasarnya, meski merupakan jenis binatang buas dan pemangsa, namun buaya bukanlah hewan pemangsa manusia. Karena buaya sangat jarang sekali mengganggu manusia jika mereka tidak merasa sedang terancam.

Yang perlu dicemati, selama beberapa tahun terakhir di Jambi telah terjadi perubahan ekosistem yang akhirnya memciu terjadinya konflik antara satwa dan manusia. Kerusakan hutan dan ruang hidup satwa merupakan salah satu pemicu terjadinya konflik antara satwa dan manusia. Konflik manusia dan satwa juga menandakan bahwa keseimbangan alam tengah terganggu oleh keserakahan manusia. Karena tanpa pandang bulu, manusia acapkali melakukan perusakan alam yang selama ini merupakan kawasan hidup dan ruang jelajah satwa.

Agar kasus seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari, perlu kiranya menyisakan ruang hidup untuk aneka satwa yang masih tersisa. Sebab, tanpa kita sadari kehadiran satwa sebenarnya juga dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Sudah saatnya para pihak terkait memikirkan cara bijak untuk bisa berbagi ruang dengan satwa. Satwa tidak akan mengganggung jika habitat mereka tidak terganggu.

Demikian juga sebaliknya, Orang Rimba tidak akan berkonflik dengan satwa jika ruang jelajah mereka selama ini tidak dirusak. Namun, yang terjadi selama ini, ruang jelajah Orang Rimba semakin terdesak akibat maraknya aksi illegal loging dan dan pembukaan konsesi perkebunan dalam skala besar. Jika dulu Orang Rimba hanya berkonflik dengan pihak perusahaan dan orang-orang desa, saat ini konflik semakin meluas dengan melibatkan satwa. Karena satwa juga merasa sudah terancam dengan aktifitas manusia yang terus melakukan perusakan terhadap ekosistem dan ruang hidup mereka. (Herma Yulis)
***





Berita terkait:
Comments: