NEWS RELEASE:

Sedimentasi Pemicu Abrasi Di Desa Pulau Kayu Aro

S ungai Batanghari menunjukkan amarahnya, satu korban dan puluhan rumah terancam. Entah kemarahan atau sakit yang teramat parah menyebabkan sungai kebanggan masyarakat Jambi ini mengalami abrasi. Abrasi yang terjadi sebanyak lima kali di Desa Pulau Kayu Aro, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi . Peristiwa yang dimulai sejak dua pekan lalu (20/8) dan berakhir Kamis, (26/8) telah memakan satu korban jiwa dan dua rumah rusak total serta 14 rumah lainnya terancam. Sampai saat ini 14 kepala keluarga yang rumahnya terancam telah mengungsi ke rumah sanak saudaranya dan semakin terus bertambah 90 kepala keluarga lainnya.Desa Pulau Kayu Aro ini didiami oleh 387 kepala keluarga, dengan 1665 jiwa.

“Sayo dan keluarga sudah mengungsi di rumah anak, dan warga lain di sekitar tempat tinggal sayo jugo sudah mengungsi ke rumah sanak saudaronyo. Kami takut kalau malam-malam tibo-tibo ado longsor lagi,” ujar Manan (57), Selasa (4/9) salah satu korban abrasi.

Suasana penuh ketakutan masih tergambar jelas di wajah-wajah masyarakat di sepanjang Sungai Batanghari di Desa Pulau Kayu Aro. Mereka masih enggan untuk menempati rumahnya. Biasanya rumah hanya ditempati jika siang hari. Sementara malam hari, mereka memilih tinggal di rumah sanak saudaranya.

Peristiwa ini, memang bukan yang pertama kali bagi mereka. Lima belas tahun yang lalu, juga pernah terjadi abrasi. “Ini longsor yang paling parah, hingga mencapai 50 meter dari pinggir sungai,” kata Halik, yang saat itu berada di balai desa.

Tak ada tanda-tanda sebelum abrasi memporak-porandakan desa mereka. Menurut Halik,hanya buih-buih di permukaan Sungai Batanghari yang tampak terlihat dari beberapa orang pencari ikan.

“Tiba-tiba tanah langsung turun saja, dan sepertinya sudah ada lubang di bawah sana. Mungkin karena maraknya penambangan pasir,” imbuhnya.

Sedimentasi atau pendangkalan, disebut-sebut Kepala Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai Batanghari Provinsi Jambi, Garendel Siboro sebagi penyebab utama terjadinya abrasi.

“Secara teoritis, pendangkalan atau sedimentasi membuat arus menghempas ke pinggir sungai, ini dikarenakan air menjadi tidak tertampung di jalur sungai,” jelasnya.

Tingginya alih fungsi kawasan di hulu Sungai Batanghari, dan pengundulan kawasan memperparah sedimentasi. “Masalah ini tidak akan tuntas dengan hanya menanam pohon secuil-cuil, sementara alih fungsi hutan dibiarakan dimana-mana,” kata Garendel dengan nada tinggi.

Garendel juga menghimbau seluruh pihak untuk lebih peduli dengan lingkungan melalui bencana abrasi yang terjadi. Seperti yang tertuang dalam peraturan pemerintah Nomor 38 tahun 2011, juga dijelaskan terkait dengan garis sempadan sungai minimal 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil.

“Sempadan sungai jangan dipakai untuk pemukiman atau pertanian, karena fungsinya untuk penyangga antara ekosistem sungai dan daratan sekaligus batas perlindungan sungai” tambahnya.

Warga setempat mengharapkan segera terwujudnya mimpi yang sejak dulu untuk pembangunan turap,dinding penahan yang dibuat di tebing sungai. Pembangunan turap ini juga menjadi salah satu solusi dalam mengurangi abrasi. Menurut, Sekretaris Desa, Rahman, permohonan pembangunan turap ini sudah diajukan berkali-kali kepada pemerintahan Kabupaten Muaro jambi.

“Kami, sebagai pemerintah di desa ini minta bantu kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten. Harapannya kedepan supaya segera di bangun turap. Dan kita sebelumnya juga sudah mengajukan pembangunan turap sepanjang 1700 meter. Tapi sampai kejadian ini belum juga terlaksana,” jelasnya. (Elviza Diana)
***





Berita terkait:
Comments: