NEWS RELEASE:

In Memory Of Yusak The Orang Rimba Education Hero

Mengenang 14 Tahun Meninggalnya Guru Rimba
Dalam rangka mengenang 14 tahun meninggalnya pionir guru Orang Rimba, Yusak Adrian Hutapea, kemarin (3/4), Komunitas Konservasi Indonesia Warsi menggelar kegiatan bertajuk In Memory of Yusak The Orang Rimba Education Hero. Kegiatan ini juga menampilkan aksi teatrikal yang menggambarkan perjuangan Yusak saat mengajar Orang Rimba. Acara ini dihadiri ibu kandung Yusak, Ibu Rusni, dari Jakarta, dan murid-murid rimba generasi pertama dari Makekal, Bukit Duabelas, Provinsi Jambi.

KKI Warsi adalah lembaga yang pertama mengenalkan pendidikan alternatif pada Orang Rimba pada 1998. Tugas advokasi pendidikan Orang Rimba pertamakali dilakukan oleh Yusak Adrian Hutapea. Studi awal pilot projek pendidikan dimulai 15 Juni hingga 15 Juli 1998. Kemudian dilanjutkan pada 25 Juli hingga 2 Agustus 1998. Fokus studi dilakukan di daerah Makekal Hulu dan Makekal Hilir.

Upaya advokasi ini tidak langsung berjalan mulus. Memberikan pendidikan bagi Orang Rimba tidak mudah. Orang Rimba berkeyakinan bahwa semua yang datang dari budaya luar akan mengubah adat dan budaya mereka. Pendidikan dipandang sebagai sumber malapetaka jika mereka ikut mempelajari.

Penolakan itu tidak membuat Yusak menyerah. Baginya, sebuah penolakan bukan alasan untuk membiarkan Orang Rimba terus terkungkung dalam lingkaran kebodohan dan terbelakang. Harapannya tidak muluk-muluk, hanya ingin mengajari anak rimba bisa baca, tulis, hitung, sehingga mereka mampu membela hak dan kepentingan minoritas mereka yang semakin terdesak oleh pengaruh dari masyarakat luar.

Pada 27 Juli 1998, kerja keras Yusak membuahkan hasil. Pagi itu, Terenong, Pengusai, Beseling, Grip, Mendawai, dan Ngentepi, menjadi murid pertama yang akan mengikuti pelajaran. Namun, membangun sekolah alternatif bagi Orang Rimba ternyata tidak gampang. Serangan penyakit, digigit nyamuk dan lintah, tersesat di rimba belantara, serta rintangan lainnya, sewatu-waktu bisa menyurutkan semangat. Tapi itu tidak berlaku bagi Yusak. Ia pantang menyerah.

Diki Kurniawan, rekan seperjuangan Yusak di Warsi mengatakan, agar tidak menimbulkan kecurigaan, peralatan belajar yang dilakukan Yusak saat itu juga diambil dari benda-benda yang ada di sekitar mereka. Pada masa-masa awal, tak ada alat tulis dan buku-buku. Sebagai pengganti, Yusak menggunakan ranting, tanah, dan arang. Mereka bisa menulis di atas tanah atau di dinding-dinding pondok.

?Yang jelas, pada waktu itu jangan sampai atribut luar banyak masuk. Sehingga dalam mengajar almarhum menggunakan media tanah, arang, dan kapur. Kegiatan coret-coret bisa di papan pondok, sehingga papan itu dipenuhi gambar dan huruf-huruf,? ujarnya.

Namun, belum lama Orang Rimba mengikuti pendidikan, tiba-tiba mereka dirundung kesedihan. Pada 25 Maret 1999 Yusak meninggal dunia akibat serangan malaria. Meski Yusak, sebagai guru pertama sudah meninggal, kegiatan pendidikan tetap berlanjut. Selama rentang waktu 1998-2013, fasilitator pendidikan yang mengabdikan diri di Warsi tercatat sebanyak 14 orang yaitu; Saur Marlina Manurung (Butet Manurung), Oceu Apristawijaya, Saripul Alamsyah Siregar, Agustina D. Siahaan, Ninuk Setya Utami, Fery Apriadi, Galih Sekar Tyas Sandra, Abdul Rahman, Kartika Sari, Priyo Uji Sukmawan (alm.), Karlina, Nazariah dan Huzer Apriansah.

Setelah melewati proses pajang tersebut saat ini sekitar 400 Orang Rimba sudah memiliki kemampuan baca, tulis dan hitung. Proses pendampingan pendidikan pun telah menyentuh berbagai aspek, termasuk advokasi kebijakan pendidikan terhadap Orang Rimba. Dalam hal ini KKI Warsi mencoba mendorong negara untuk ikut terlibat aktif memberikan layanan pendidikan formal yang spesifik bagi Orang Rimba.

Ibu kandung Yusak, Rusni Simatupang, pada acara mengenang empat belas tahun meninggalnya Yusak kemarin, mengaku bangga atas kiprah anaknya mendidik Orang Rimba. Meski awalnya sempat khawatir dengan keputusan anaknya, namun begitu melihat tekad kuad Yusak dia pun luluh. Yusak diizin bekerja sebagai guru Orang Rimba di Warsi.

?Waktu itu dia bilang sangat tersentuh melihat kondisi Orang Rimba. Dan dia ingin berjuang mengajar mereka supaya tidak selalu dibodohi. Lalu saya izinkan dia mengajar. Saya hanya berpesan agar dia berhati-hati dan jangan lupa berdoa,? katanya.

Begitu mendengar kabar Yusak meninggal, Rusni pun sempat terpukul. Dia tak mengira Yusak akan pergi secepat itu. Padahal, sehari sebelum meninggal, Yusak masih sempat menelpon ke Jakarta. Ketika itu, Yusak mengabarkan sedang berada di Bungo dan akan masuk ke dalam rimba. Tapi pada tanggal 26 Maret 1999 dia akan ambil cuti dan pulang ke Jakarta.

?Begitu mendengar dia akan pulang, kulkas langsung saya penuhi dengan makanan. Dan akhirnya dia memang pulang pada tanggal 26 itu. Tapi hanya jenazahnya saja,? kenang Rusni dengan mata berkaca-kaca.

Terpisah, Manager Komunikas KKI Warsi, Rudy Syaf mengatakan, kegiatan mengenang empatbelas tahun meninggalnya Yusak yang dilakukan di kantor Warsi kemarin sengaja dilakukan agar semangat yang diusungnya akan terus berjalan. Tujuannya adalah terpenuhinya hak-hak hidup Orang Rimba sebagai bagian dari warga negara. Salah satunya adalah di bidang pendidikan. Sebab, selama ini negara pada kenyataannya belum berhasil memenuhi hak-hak hidup Orang Rimba sebagaimana mestinya.

?Selain untuk mengenang meninggalnya Yusak, dengan kegiatan ini kita ingin terus menyimpan semangatnya supaya tidak lupa. Kita tidak ingin mengkultuskan Yusak, namun ini adalah momen yang harus tetap diingat supaya spiritnya tetap ada,? katanya.*
***





Berita terkait:
Comments: