NEWS RELEASE:

Besudut, Potret Perjuangan Pendidikan Orang Rimba

Anak Rimba Pertama Ikuti Un Sma
i tengah sengkaturnya pelaksanaan UN tingkat SMA tahun ini, ada sesuatu yang membanggakan bagi Jambi, yaitu adanya anak rimba yang perdana dan satu-satunya yang mengikuti Ujian Nasional yang digelar awal minggu lalu hingga kamis kemarin. Besudut, anak rimba dari kelompok Tumenggung Ngadap di Bernai Makekal , barat Taman Nasional Bukit Dua Belas menjadi salah satu peserta ujian nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan pada 2013 ini. Berikut Laporan tentang Besudut yang disekolahnya diberi nama Irman Jalil mengikuti ujian nasional yang diikutinya di SMA 14 di Jalan Pintas Bangko Kecamatan Muara Tabir Kabupaten Tebo.

Matahari masih terlihat malu-malu di ufuk timur, kokok ayam pun masih sesekali terdengar di ujung jalan simpang pasar SPA Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo. Namun sepagi ini Besudut sudah, terlihat cukup sibuk. Dia telah siap dengan seragam batik abu-abunya dan memacu motornya ke SMAN 14 Tebo. Hari itu merupakan hari ketiga dia mengikuti Ujian Nasional. Setibanya di sekolah, Besudut terlihat langsung akrab dengan beberapa temannya. Mereka bercengkerama sambil menikmati nasi rames racikan warung bukde, yang berada di sekitar sekolahnya. Tak lama ia bergeser ke kelas tempat pelaksanaan ujian.


Di dalam kelas, dia bersama empat belas temannya yang merupakan siswa kelas XII IPS telah bersiap menghadapi kerumitan soal matematika yang merupakan mata pelajaran yang membuatnya berkeringat. Namun dengan tenang dia tetap mencoba untuk konsentrasi pada lembaran soal di tangannya dan mulai mengisi lembar jawaban.

“Setibanya kami di kelas, semua muka kawan-kawan menekuk dan menahan napas panjang. Kami semua poning,” ungkapnya sembari mengekspresikan kesulitannya setelah selesai ujian.

Padahal sebelum UN di gelar Besudut atau yang sehari-hari dipanggil Herman, meski nama yang tertera di Izajahnya Irman Jalil, telah berusaha untuk mempersiapkan diri, termasuk mengikuty try out yang diadakan sekolahnya. Meski demikian Besudut dan peserta ujian lainnya di sekolah ini cukup kewalahan menghadapi soal-soal yang disodorkan kepadanya. Namun demikian Bahasa Indonesia dan Geografi merupakan pelajaran favoritnya, Besudut menganggap ia cukup bisa menjawab soal-soal yang disodorkan.

“Bagi kami pencapaian Besudut seperti sekarang merupakan salah satu bentuk perkembangan pendidikan yang kami gagas sejak 1998 silam.”sebut Rudi Syaf Manager Komunikasi KKI Warsi.


Sebelum terdaftar disekolah formal Bedusut merupakan salah satu murid pendidikan alternatif yang diselenggarakan Warsi di wilayah Makekal. Perjuangan dan perjalanan panjang serta pasang surut kehidupan dijalani Besudut.

Setelah mengikuti pendidikan alternatif bersama Warsi, Besudut sempat keluar rimba dan hidup bersama masyarakat kampung dan disekolahkan di sekolah dasar. Pada suatu waktu setelah tamat SD dan masuk SMP Besudut kembali ke rimba untuk berkumpul dengan keluarganya. Hingga kemudian pada 2009 Besudut bertemu dengan fasilitator pendidikan Warsi dan berharap bisa menjembataninya untuk melanjutkan pendidikan. Itulah kemudian ia dimasukkan ke SMP 14 SP B Bangun Serenten Muara Tabir Kabupaten Tebo yang pada waktu itu menyelenggarakan program SMP terbuka. Dengan model pendidikan di SMP terbuka tetap memberi Besudut peluang untuk tinggal bersama keluarganya di Bernai yang bisa ditempuhnya dengan menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki sejauh 10 km.

Setelah menamatkan SMP, Warsi kembali mengadvokasikan supaya Besudut bisa diterima di SMA paket reguler. Dari advokasi Besudut diterima di SMA 14 Tebo yang berjarak sekitar 15 km dari Bernai. Dengan kondisi yang demikian Besudut difasilitasi untuk bisa tinggal di SPA dan lebih dekat dengan sekolahnya.
Selama mengikuti sekolah SMA, Besudut mendapatkan keringanan dalam membayar buku-buku dan administrasi dari sekolahnya. Dan pihak sekolah juga memberikan beasiswa untuk biaya hidupnya sehari-hari. Selain mendapatkan beasiswa, Besudut juga mendapatkan biaya sekolah dari membantu membersihkan kebun pamannya. Kegiatan ini dilakukannya ketika libur sekolah. Upah yang didapatkan ini digunakan untuk tambahan biaya sekolahnya.
Namun selama ujian berlangsung pihak sekolah menyebutkan tidak ada perlakuan khsus buatnya. Sekolah memberikan metode pengajaran dan persiapan ujian yang sama dengan siswa lainnya.


“Kita tidak memberikan persiapan khusus dengan Besudut untuk Ujian Nasinoal ini. Semua siswa mendapatkan pelajaran tambahan dan try out sebelum ujian,” ujar Kepala Sekolah SMAN 14 Tebo, Suparjo S. Pd.

Menurut sang kepala sekolah Besudut dikenal sebagai murid yang rajin dan baik di sekolahnya. Menurut beberapa guru-guru di sekolahnya dia jarang sekali tidak hadir ke sekolah. Besudut biasanya datang lebih pagi dibandingkan teman-teman lainnya.

Kini, lulus ujian Nasional dengan nilai yang memuaskan adalah harapan Besudut dan pihak sekolahnya. Besudut terus berjuang dengan mimpinya hingga ke perguruan tinggi, dan dia ingin membuktikan bahwa Orang Rimba juga mampu untuk sekolah tinggi sama dengan kelompok masyarakat lainnya. Selain itu, Besudut berharap agar kawan-kawannya di Rimba juga termotivasi untuk mengecap pendidikan.

“Mudah-mudahan bisa lulus, dan melanjutkan lagi ke perguruan tinggi. Kalau ado kuliah yang tidak masuk tiap hari, jadi biso cari kerjo di luar,” sebutnya.

Dia juga berharap ada pihak yang mau bekerjasama untuk membuat program mengajar anak-anak rimba di hutan. Harapan itu juga disampaikan Suparjo, dia menyebutkan akan membuka kesempatan yang besar untuk generasi penerus Besudut yang ingin sekolah.”Kita selaku pihak sekolah akan membuka tangan dengan lebar jika ada generasi penerus Besudut yang ingin sekolah di sini. Mereka memiliki hak yang sama,” jelasnya.

Kini meski sudah sekolah Besudut dikala libur Besudut terus berkunjung pada orang tua dan keluarganya di rimba minimal sebulan dua kali. Hanya selama pelaksanaan ujian saja Besudut mengurangi kunjungannya ke rimba. Bagi Besudut Rimba tetap rumahnya. Seperti diawal dia memutuskan untuk bersekolah dan meninggalkan rimba, Besudut mendapatkan penentangan yang keras dari induk dan paman-pamannya. Mereka merasa takut dengan keluarnya Besudut dari rimba akan putus hubungan adat kerimbaan dengannya. Namun kegigihannya membuktikan bisa menyelesaikan pendidikan formal sejauh ini, telah membuat induknya Meranti Sanggul dan dua adik-adiknya Mbelah Batu dan Ngeretek bangga dan bisa menerima pilihannya untuk sekolah.

Meski sudah berada sekian lama di luar hutan dan berbaur dengan orang desa. Besudut bahkan masih bisa menyebutkan dengan jelas aturan-aturan adat di rimba dan temenggungnya saat ini.”Masih ingatlah adat-adat rimba dan waktu pemilihan Temenggung aku ikut. Temenggung Ngadap, namo temenggung kami,” ujarnya sembari tersenyum.

Besudut juga berharap jejaknya akan bisa ditiru dengan kawan-kawan lainnya di rimba. Sehingga menurutnya ilmu pengetahuan mereka miliki bisa sama dengan masyarakat di luar.

“Orang Rimba tidak bisa ditipu lagi karena memiliki ilmu yang sama dengan orang luar. Misalnya di tanah garo, banyak yang menipu orang rimba, misalnya jernang sekilo cuma dikasih kain satu sampai duo keping. Padahal jernang harganya 500 ribu,” pungkasnya.***
***





Berita terkait:
Comments: