NEWS RELEASE:

Dari Masyarakat Jambi Untuk Kenyamanan Bumi

Pemanasan global dan perubahan iklim, semakin nyata mengancam kehidupan manusia. Secara sederhana dampak perubahan ini terlihat ketika musim yang tidak bisa lagi bisa diprediksi, suhu bumi yang semakin tinggi dan penyakit yang semakin beragam. Pemanasan global yang terjadi saat ini, merupakan dampak dari perilaku global, sehingga penanganannya juga harus bersifat global. Bumi yang kita diami benar-benar dalam ancaman nyata, jika tidak melakukan apapun untuk mengatasi pemanasan global.

Dalam konvensi UNFCCC yang berlangsung di Bali sejak 3 Desember lalu dan berakhir hari ini, paling tidak sudah menampakkan beberapa titik terang dan komitmen untuk menurunkan emisi karbon, biang keladi yang menyebabkan pemanasan global. Negara maju harus menurunkan emisinya dan negara berkembang yang memiliki hutan diberi insentif untuk tetap mempertahankan hutannya selaku cadangan dan penyerap karbondioksida yang semakin pekat menyelimuti atmosfer bumi. Walaupun dalam realita nanti belum tentu akan berjalan seperti skenario yang akan disusun dalam bentuk Bali Road Map, tak salah kiranya kita tetap harus optimis kalau perubahan iklim yang mengancam kehidupan bumi dapat diatasi bersama.

Selain komitmen untuk menurunkan emisi karbon, maka pemulihan dan mempertahankan fungsi hutan selaku penyerap dan pereduksi karbon menjadi suatu yang mutlak dilakukan. Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan hujan tropis yang masih cukup luas memegang peranan yang penting dalam mengatasi pemanasan global. Walau juga tidak dipungkiri bahwa jutaan hektar kawasan hutan juga telah terdegradasi akibat destructive logging serta deforestasi akibat konversi kawasan menjadi perkebunan sawit, HTI, pertambangan dan areal transmigrasi. Namun dibagian lain ditengah masyarakat juga berkembang model-model pengelolaan yang ternyata mampu mempertahankan kelestarian sumber daya hutan dan tetap memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat di dalam dan sekitarnya. Di Jambi, model-model pengelolaan hutan berbasis masyarakat telah banyak dikembangkan dan terbukti bisa memberikan nilai manfaat tanpa mengurangi fungsi hutan. Model kelola yang dikembangkan masyarakat misalnya berupa hutan adat, perlindungan hutan yang dilakukan Orang Rimba dengan membuat hompongon, mempertahankan kebun karet campur, hutan desa dan sebagainya.

Agaknya tidak berlebihan, jika kita penghuni Bumi ini belajar kepada kearifan lokal masyarakat dalam mengelola sumber daya hutan, supaya Bumi yang hanya satu ini nyaman untuk dihuni. Hutanlah yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi gas rumah kaca yang dihasilkan dari peningkatan life style umat manusia diberbagai belahan dunia.

Bagi masyarakat didalam dan sekitar hutan, mereka telah berdampingan hidup dengan hutan sejak dahulu kala. Hutan memiliki multifungsi, ekonomi, sosial, budaya dan religi. Keterkaitan inilah yang menyebabkan masyarakat di dalam dan sekitar hutan untuk terus mempertahankan hutan dan mengelolanya secara bijak berdasarkan kearifan lokal yang masih bertahan hingga saat ini.

Orang Rimba, hidup dalam pelukan alam dan dengan kesadaran penuh selalu menjaga alam. Bagi Orang Rimba hutan adalah rumah mereka, tempat yang memberi mereka kehidupan. Hidup dari berburu dan meramu, membuat Orang Rimba sangat menyadari arti penting hutan. Jika mengambil hasil hutan pun Orang Rimba melakukannya secara sederhana dan hanya untuk kebutuhan mereka saja. Ketika hutan habis, maka habis jugalah sumber kehidupan mereka dan itu berarti Orang Rimba akan hidup dalam kemiskinan. Dalam hidupnya Orang Rimba akan merasa sangat kaya, ketika hutan mereka masih lebat dan menyimpan banyak makanan berupa hewan buruan dan buah serta umbi untuk mereka, dan tentu juga menyediakan bunga-bungaan yang akan menjadi medium penghubung mereka dengan sang pencipta sesuai dengan keyakinan mereka.

?Hutan sudah mulai rusak, karena orang terang sering mengambil kayu di hutan kami, sehingga kami kesulitan untuk mendapatkan makanan dan juga kedinginan ketika malam tiba,? ujar Tumenggung Tarib pimpinan kelompok Orang Rimba Air Hitam yang mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi. Untuk diketahui Taman Nasional Bukit Duabelas, merupakan satu-satunya taman nasional di Indonesia yang keberadaannya diperuntukkan bagi komunitas yang berada di dalamnya.

Orang Rimba, terus berupaya untuk menghadang Orang terang masuk ke dalam rimba dan menjarah hutan mereka. Orang Rimba yang berusaha ?memagar? kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas dengan membuat hompongon. Hompongon memiliki multifungsi untuk kehidupan Orang Rimba. Secara ekonomi merupakan sumber pendapatan, secara sosial dapat mengurangi ketergantungannya terhadap hasil hutan serta mengarahkan masyarakat ke pengelolaan lahan pertanian secara intensif. Secara Budaya tanaman-tanaman bernilai religi untuk ritual Orang Rimba di hutan bisa diselamatkan. Secara Ekologi melindungi keragaman hayati TNBD dari perambahan perladangan masyarakat luar. ?Hompongon nioma kami buat untuk menghompong mentaro Orang terang dengan rimba, sehinggonye rimba kami piado habis adat kami piado helang, yongka penting di hompong? (hompongon ini kami buat untuk memagari orang luar dengan rimba, sehingga rimba tidak habis adat kami tidak hilang, makanya penting di batas),?demikian sebut Orang Rimba.

Upaya yang dilakukan Orang Rimba dalam menjaga hutan, sebenarnya tidak hanya untuk kepentingan Orang Rimba semata, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat di hilir. Kawasan hidup Orang Rimba di Bukit Duabelas, merupakan salah satu hulu DAS Batanghari, jika kawasan ini terjaga dengan baik, maka kekritisan DAS Batanghari yang membahayakan masyarakat di hilir dapat diminimalisir. Dan tentu juga dengan terpeliharanya hutan, akan mereduksi berton-ton karbon dioksida yang kini mecemari udara dan menyebabkan pemanasan global.

Tertarik dengan kearifan lokal masyarakat Jambi dalam memperlakukan alam, Erik Socheim Menteri Lingkungan Hidup dan Kerjasama Internasional Norwegia, yang baru saja mengikuti konvensi UNFCCC di Bali, akan berkunjung ke Jambi. Dalam kunjungan selama dua hari di Jambi, Erik Socheim dam rombongan akan melihat kondisi hutan Jambi dan juga kearifan lokal masyarakat dalam mempertahankan hutan. Dijadwalkan Menteri dan rombongan akan tiba di Jambi pada Hari Sabtu (15/12) dengan menggunakan pesawat khusus. Kedatangan rombongan akan disambut oleh Gubernur Jambi beserta unsur Muspida. Selanjutnya rombongan akan berkunjung ke kantor KKI Warsi. ?Kita akan mempresentasikan apa yang telah kita lakukan dan juga menyampaikan kearifan-kearifan lokal masyarakat yang selama ini kita dukung dan bantu kembangkan. Terbukti bahwa kearifan lokal terhadap pengelolaan sumber daya alam, merupakan salah satu langkah untuk adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim,?kata Direktur Eksekutif KKI Warsi Rakhmat Hidayat.

Dengan menggunakan Helikopter, menteri dan rombongan akan melihat langsung kondisi hutan Jambi dari udara dan melakukan peninjauan langsung ke komunitas Orang Rimba Bukit Duabelas di Air Hitam. Bupati dan unsur Muspida Sarolangun akan menyambut kedatangan rombongan di Desa Pematang Kabau yang merupakan desa terdekat dengan Komunitas Orang Rimba pimpinan Tumenggung Tarib. Selanjutnya menteri akan masuk ke dalam hutan yang menjadi kawasan hidup Orang Rimba. Semoga kearifan dan budaya orang Rimba dalam menjaga alam dapat memberikan pelajaran bagi umat manusia untuk bersahabat dengan alam. Demi kelangsungan kehidupan di Bumi yang hanya ada satu. ***
***





Berita terkait:
Comments: