NEWS RELEASE:

Memperjuangkan Kemerdekaan Pendidikan Orang Rimba

Kunjungan Wamen Pendidikan Di Taman Nasional Bukit Duabelas
Hutan sangat penting untuk kehidupan Orang Rimba, sebagai tempat hidup dan berpenghidupan. Semua aspek kehidupan Orang Rimba selalu berintegrasi dengan hutan, seperti aspek religi, ekonomi, sosial dan budaya.Dengan pola hidup semi nomadik, Orang Rimba hidup dari berburu, meramu dan berladang. Namun sayangnya, hutan yang menjadi gantungan kehidupan Orang Rimba sudah jauh berubah. Dari 3.000 jiwa Orang Rimba yang ada di Provinsi Jambi sebagian besar hidup dalam kondisi yang memprihatinkan akibat kehilangan sumber hidup mereka.

Data yang dihimpun WARSI di wilayah penghidupan Orang Rimba yang tersebar di tiga kawasan besar yaitu sepanjang jalan lintas tengah Sumatera, Bukit Duabelas dan selatan Bukit Tigapuluh. Ada sekitar 28 perusahaan HPH yang pernah tercatat beroperasi di Provinsi Jambi dengan total luas konsesi hampir 2,6 juta ha. 16 perusahaan mengeksploitasi kayu, berada atau bersinggungan langsung di kawasan hidup Orang Rimba dengan total luasan konsesi sekitar 1,5 juta ha. Kini setelah hutannya terdegradasi kawasan HPH ini beralih menjadi HTI, perkebunan kelapa sawit, transmigrasi dan pertambangan.

“Mirisnya dalam setiap perubahan ini, Orang Rimba yang mendiami kawasan ini tetap tidak menjadi perhitungan, akibatnya Orang Rimba kehilangan hak-hak dasarnya sebagai warga negara. Hak dasar untuk berpenghidupan tidak sepenuhnya mereka dapatkan karena sistem pembangunan kehutanan lebih memperhitungkan kepentingan korporasi. Hak dasar untuk pendidikan juga tidak di dapatkan, karena sistem pendidikan kita belum mengakomodir komunitas Orang Rimba,” sebut Diki Kurniawan Direktur Eksekutif KKI WARSI.

Disebutkannya Orang Rimba tetap bertahan di tempat asal dalam keadaan sangat marginal.Sebagian kelompok berintegrasi dengan desa-desa atau bersifat pragmatis dan sebagian kelompok pergi mencari sisa hutan. “Meski mereka juga sangat sadar bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali tergusur dan bersiap untuk pindah,”sebutnya.

Diki mengatakan meskipun Republik Indonesia sudah merdeka 69 tahun lalu, namun hingga kini makna kemerdekaan masih sangat jauh dari kehidupan Orang Rimba. Kemerdekaan yang berarti kesempatan untuk hidup setara dengan segala hak-hak yang melekat padanya belum sepenuhnya menyentuh kehidupan Orang Rimba. Untuk itulah, sejak WARSI mendampingi Orang Rimba fokus kegiatan WARSI adalah mengadovasikan wilayah penghidupan, pendidikan, peningkatan derajat kesehatan serta pengembangan ekonomi. “Kegiatan-kegiatan ini kita melakukan dengan pola dan pendekatan yang bisa diterima dan dikembangkan Orang Rimba, tujuannya untuk mendukung Orang Rimba meraih hak-haknya sebagai warga negara dan ikut menikmati kemerdekaan,”sebut Diki.

Dijelaskan Diki selama ini penyelenggara negara lebih melihat Orang Rimba sebagai kelompok yang sulit untuk diatur sehingga cenderung diabaikan. Misalnya untuk persoalan pendidikan, sejauh ini pola pendidikan yang ditujukan untuk Orang Rimba disamakan dengan pendekatan mainstrim, dimana anak-anak bersekolah di sekolah yang diakui, di berikan buku dan modul dalam jangka waktu tertentu. “Padahal pola pendidikan seperti ini sama sekali tidak bisa diterapkan ke Orang Rimba. Hidup yang memencar dalam kelompok-kelompok kecil, akan sulit bagi Orang Rimba untuk bisa bergabung dengan sistem pendidikan yang dikembangkan pemerintah,”sebutnya.

Ditambahkan oleh Fasilitator Pendidikan WARSI JauharulMaknun, sejak awal mengembangkan pola pendidikan alternatif, yaitu pendidikan yang bisa diterima dan diterapkan di kelompok Orang Rimba. Guru tinggal bersama muridnya di hutan, tanpa batasan waktu belajar dan tanpa ruang kelas. Dalam pengajaran alternatif ini, fasilitator pendidikan akan mengaitkan bahan ajar dengan alam sekitar mereka.

“Kadang tanpa ada batas antara guru dan murid, ketika sedang belajar kalau anak-anak mulai merasa bosan, kami bisa rehat dulu untuk mencari ikan di sungai guna bekal makan, kalau anak-anak sudah semangat lagi, kami lanjut lagi belajarnya, bahkan hingga larut malam dengan penerangan lilin atau damar,” urai Makmun.

Diceritakan Makmun, ada kalanya sebagai guru bagi komunitas Orang Rimba, ia harus ikut belangunbersama dengan murid-muridnya. Dengan pola pendidikan seperti ini minat anak-anak untuk bersekolah menjadi lebih baik. “Hasilnya, tidak hanya baca tulis, sejumlah anak rimba kini sudah bisa melanjutkan di sekolah formal terutama tingkat lanjutan, SMP, SMA bahkan keperguruan tinggi meski jumlahnya tidaklah banyak, mereka tetap lebih senang bersekolah di lingkung mereka di dalam rimba dari pada harus di sekolah umum yang menyebabkan mereka terpisah jauh dari keluarganya, maklumlah untuk bisa ke luar rimba mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh paling dekat 2 jam berjalan kaki, kalau yang di tengah hutan bisa satu hari barui bisa ke sekolah terdekat, ”sebut Maknun.

Dengan kondisi ini, guru yang mendatangi mereka dan tinggal bersama mereka di hutan, jauh lebih bisa diterima Orang Rimba ketimbang harus mengikuti pendidikan yang diselenggarakan pemerintah. “Ini bentuk kegiatan kami dalam memperjuangkan kemerdekaan pendidikan bagi Orang Rimba, yaitu pendidikan yang bisa diterima dan diterapkan di dalam komunitas adat,”kataMaknun.

Untuk menjadikan Orang Rimba setara dengan kelompok lainnya dan berdaya saing, maka pendidikan menjadi kunci utamanya. Untuk itulah pengembangan pendidikan terus diupayakan WARSI. Selain itu yang paling penting adalah mendorong keterlibatan penyelenggara negara dalam proses pendidikan alternatif ini. “Untuk itu, WARSI akan menyelenggarakan seminar nasional dengan tema mewujudkan kemerdekaan Bidang Pendidikan Bagi Komunitas Adat dan Deklarasi Jaringan Pendidikan Komunitas Adat, pada 12-13 Agustus nanti. Sehubungan dengan kegiatan ini, Wakil Menteri Pendidikan Musliar Kasim, mengunjungi komunitas Orang Rimba di wilayah Terap di sisi Timur Taman Nasional Bukit Duabelas,”kata Diki Kurniawan.

Wamen pendidikan Kunjungi Orang Rimba.

Untuk mendorong pelibatan para pihak dalam untuk memmenuhi hak-hak dasar Orang Rimba, khususnya pendidikan, pada Sabtu dan Minggu (9-10 Agustus 2014) Wakil Menteri Pendidikan Musliar Kasim berkesempatan untuk melihat langsung kondisi Orang Rimba dan pendidikan yang mereka jalani. Dalam kunjungannya ke Kelompok Orang Rimba Terap ini, Musliar Kasim menyatakan dukungannya terhadap pendidikan alternatif yang dilakukan WARSI di komunitas Orang Rimba selama ini. Program ini seiring dengan program pemerintah pusat untuk memberikan kesempatan pada anak-anak rimba untuk mendapatkan pendidikan.

“Program kita sudah ada. Hanya saja karena masyarakat kita luas maka tidak ada, belum terjangkau oleh pemerintah. Makanya, kita mulai sekarang kerjasama dengan pemda mendata anak-anak seperti ini. Kalau WARSI sudah punya kegiatan seperti ini kita melanjutkan,” katanya.

Menurutnya, memberikan pendidikan kepada anak rimba bukanlah persoalan mudah. Dibutuhkan dedikasi dan semangat tinggi untuk bisa melakukan hal itu. Sehingga, guru-guru dari sekolah formal belum tentu bisa melakukan program pendidikan seperti yang selama dilakukan WARSI.

“Kita mengucapkan terimakasih pada WARSI dengan dedikasinya yang tinggi untuk membuat anak-anak seperti ini. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Tadi anak-anak sudah bisa membaca, menulis. Saya yakin dan percaya untuk membuat bisa seperti itu tidak bisa dilakukan dalam dua tahun. Ini keberhasilan luar biasa yang sudah dicapai WARSI,” ungkapnya.

Pihaknya sangat mendukung upaya pemberian pendidikan alternatif yang dilakukan WARSI. Karena saat ini sudah banyak anak-anak rimba yang memiliki cita-cita yang selama ini belum terpikir. Artinya mereka sudah bisa membangun mimpi. Tinggal bagaiman mewujudkan mimpi tersebut melalui pemberian pendidikan yang lebih baik. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan memberika kemudahan bagi mereka untuk bisa mendapatkan pendidikan jika ada yang mau melanjutkan ke sekolah-sekolah formal.

“Kami, saya dari Kementerian Pendidikan Nasional sudah bicara dengan asisten provinsi dan Kadis Pendidikan untuk melajutkan ini. Mereka kalau sudah ada yang bisa masuk ke pendidikan formal kita fasilitasi,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Wamen juga memberikan bantuan operasional layanan pendidikan khusus untuk anak rimba sebesar Rp 75 juta, yang diserahkan secara simbolis. Bantuan tersebut nanti akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak rimba. Mulai dari pemberlian buku hingga pakaian sekolah.

“Bantuan ini bukan diberikan pada bapak-bapak, tapi untuk biaya dan kebutuhan sekolah anak-anak,” katanya.

Dia menambahkan, ke depan pihaknya juga akan menyediakan guru dari sekolah-sekolah formal untuk mengajar anak-anak rimba. Baik guru yang sudah PNS maupun yang belum jadi PNS.

“Ini sebenarnya adalah talenta warsi. Kita lanjutkan. Bisa kita terjunkan guru dari sekolah terdekat untuk mengajar kesini. Si guru ini di samping menerima gaji PNS kita berika insentif tunjangan khusus. Dari pusat ada dari daerah juga ada,” pungkasnya.

Dengan kunjungan Wamen ini, WARSI mengharapkan metode yang sudah dikembangkan kembangkan, mampu di aplikasikan ditempat lain, khususnya masyarakat adat yang kondisinya hampir sama dengan kelompok-kelompok Masyarakat Adat. Tidak hanya di Jambi pada komunitas Orang rimba perjuangan kemerdekaan ini juga dilakukan oleh NGO lain seperti Yayasan Citra Mandiri Mentawai yang mengembangkan pendidikan alternatif komunitas adat Mentawai, serta yayasan Merah Putih di Sulawesi tengah yang mengembangkan pendidikan alternatif untuk komunitas adat TauTaaWana.

Dengan pendidikan yang baik dan merata di kelompok masyarakat adat, diharapkan akan menjadikan generasi ke depan komunitas ini berdaya saing dan mampu hidup layak sesuai dengan adat, budaya dan keinginan mereka. ***
***





Berita terkait:
Comments: