NEWS RELEASE:

Tingkatkan Pendapatan Petani, Kembangkan Pertanian Terpadu

Sejak isu Pemanasan Global mencuat dan menjadi perbincangan hangat para pihak di seluruh dunia, maka strategi adaptasi dan mitigasi terhadap dampak isu ini terus dimunculkan. Salah satu dampak paling fenomenal dari isu ini adalah terjadinya Perubahan Iklim. Akibatnya banyak sekali bencana yang terjadi di seluruh belahan bumi. Meningkatnya permukaan air laut, mencairnya es di kutub utara, hingga semakin seringnya terjadi banjir dan kekeringan panjang, musim yang tidak menentu, penyakit yang semakin berkembang adalah beberapa contoh akibat terjadinya Perubahan Iklim.

Perubahan iklim disebabkan oleh ketidakseimbangan adanya perubahan pada ekosistem. Selain upaya pemulihan ekosistem, upaya yang dilakukan adalah upaya untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Banyak konsep untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, diantaranya pembangunan Rendah Karbon/Emisi, Pembangunan Hijau, Ekonomi Hijau, dll. Semua konsep ini berada dalam satu irisan, yakni pembangunan yang berkelanjutan.

Di tingkat lokal, pembangunan berkelanjutan juga menjadi bagian dari konsep pembangunan pemerintah Provinsi Jambi. Konsep ini tercermin dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jambi (RPJMD) 2011-2015, dimana dalam pembangunan Provinsi Jambi selain fokus pada pro growth, pro job, dan pro poor, juga meletakkan pro environment sebagai fokus pembangunan dengan konsep geen economy.

“Praktek pembangunan berkelanjutan diterapkan pada seluruh bidang. Sebagai contoh, di bidang pertanian muncul istilah pertanian berkelanjutan. Istilah ini lahir sebagai respon atas upaya memadukan keberlanjutan usaha tani dengan upaya pengurangan dampak perubahan iklim,”kaya YulqariDeputi Direktur KKI WARSI pada pembukaan Pelatihan Pelatihan Pengembangan Sistem Usaha Tani Terpadu Terpadu Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga dan Mitigasi Perubahan Iklim Bagi Masyarakat Lokal yang diselenggarakan di Pusat pelatihan Perubahan Iklim WARSI Sebapo 26-27 November 2014.

Dikatakan Yulqari pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang secara ekologis dapat dipertanggungjawabkan, secara ekonomi dapat dijalankan, secara sosial berkeadilan, berperikemanusiaan serta dapat menyesuaikan diri. Untuk istilah pertanian berkelanjutan ini, sebagian besar masyarakat tani sudah cukup lama mendengarnya, tetapi praktek pelaksanaannya seperti apa, tidak banyak yang tahu.

“Praktek pertanian berkelanjutan yang sudah dikembangkan dan dilakukan oleh masyarakat tani di Indonesia adalah melalui Sistem Usaha Tani Terpadu, yang sebenarnya sudah lama dipraktekkan oleh masyarakat tani. Sistem dilakukan sebagai ekspresi dari usaha mereka menghadapi tantangan lingkungan yang ada untuk bertahan hidup. Hanya sayang pengembangannya sepotong-sepotong, tidak terintegrasi,”sebutnya.

Untuk itu lanjut Yulqari perlu adanya upaya untuk memunculkan sistem usaha tani terpadu dengan adanya management yang baik usaha peningkatan produksi pertanian di tingkat petani. Sebagai contoh adalah managemen lahan. Kunci upaya peningkatan produksi akan terletak pada adanya interaksi antara berbagai bentuk usaha tani yang saling mendukung sifatnya. “Dengan adanya Sistem Usaha Tani Terpadu didasarkan pada konsep daur-ulang biologis (biological recycling) antara usaha pertanaman, perikanan dan peternakan. Usaha tani berbasis tanaman memberikan hasil samping berupa pakan bagi usaha tani perikanan dan peternakan. Demikian pula sebaliknya, usaha perikanan dan peternakan memberikan hasil samping berupa pupuk bagi usahatani tanaman. Usaha perikanan menghasilkan pakan bagi peternakan, sedangkan usaha peternakan menghasilkan pupuk dan pakan untuk perikanan,”sebut Yulqari, semabri menambahkan bahwa sistem pertanian terpadu ini sudah mulai dikembangkan di sejumlah daerah.

Untuk Jambi, upaya pengembangan pertanian terpadu ini,juga sudah mulai berljalan meski berskala lokal yang berpotensi untuk dikembangkan sehingga menjadi pertanian terpadu, diantaranya ada Hompongan yang dikembangkan oleh Kelompok Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Wanatani yang dikembangkan oleh masyarakat di desa penyangga TNBD. Komoditi Tanaman Bertingkat yang dikembangkan oleh Kelompok Pengelola Hutan Desa di Kabupaten Bungo. Serta praktek Climate Smart Agriculture (CSA) yang dikembangkan oleh masyarakat desa lahan gambut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Keselurahan bentuk sistem pertanian yang dilakukan masyarakat tersebut masih bersifat usaha pertanaman atau berbasis tanaman. Sedangkan usaha perikanan dan peternakan yang dilakukan masih belum saling mendukung dengan usaha pertanaman tersebut ataupun sebaliknya. “Dengan kata lain bahwa sistem usaha tani terpadu berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan produksi dan pendapatan, namun belum dilakukan atau dikembangkan,”sebutnya.

Ditambahkan oleh Herakles dari BP REDD + menyebutkan penggunaan lahan merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya emisi karbon, untuk itu menurutnya tata guna lahan menjadi salah satu fokus BP REDD+ untuk mitigasi dan adaptasi perubahan lahan. Ada banyak hal yang dilakukan oleh BP REDD diantaranya mendorong pengembangan desa hijau, yaitu program untuk mendukung masyarakat meningkatkanpendapatannya dengan upaya pengembanganpertanian tumpang sari. Herakles mencontohkan,tumpang sari antara karet dan nanas yang dikembangkan di lahan gambut.

Sementara Adri penelitidari BPTP menyebutkan pengembangan pertanian terpadu, menjadi langkah untuk menghadapi perubahan iklim yang kini sudah sangat kita rasakan dampaknya. Adri menghimbau parapetani yang hadir dalam kegiatan pelatihan ini untuk memaksimalkan pemanfaatan lahannya, danbenar-benar fokus untuk menggali potensi dan mengintensifkan pertanian yang dikembangkan. Pertanian terpadu dicontohkannya misalnya mengembangkan karet sebagai basis utama, didukung dengan program peternakan sapi dan pengembangan tanamnsela atau palawija. “dari sapi, dengan teknologi yang ada dan sederhana, bisa di panen limbahsapi,baik padat maupun urine sapi bisa diolah menjadi pupuk. Malahan penghasilan dari pengolahan limbah sapi jauh lebih banyak dari hanya menghasilkan dari sapinya sendiri,”sebutnya.

Untuk hal ini yangpenting menurut Ardi adalah adanya kemapuan dan leinginan dari masyarakat sendiri untuk mulai merubh mindset untuk mengembangkan pertanian yang lebih baik dengan lahan yang tersedia. Menurutnyalangkah ini sangat mungkin dilakukan, jika masyarakatnya siap dan bersedia berubahuntuk menjadi lebih baik.***
***





Berita terkait:
Comments: