NEWS RELEASE:

Seminar Regional Sumatera

Dari Jambi Untuk Dunia
Modernisasi dunia yang telah berlangsung sejak tiga abad belakangan, telah mengirimkan sinyal bahaya menyangkut kompleksitas interaksi ekologi yang menopang kehidupan di Bumi. Kegiatan manusia, khususnya dalam hal produksi dan konsumsi energi yang menggunakan bahan bakar fosil dan tindakan deforestasi, untuk menciptakan berbagai sarana yang menunjang "kenyamanan" hidup telah membuat atmosfer Bumi dipenuhi gas-gas buangan yang volumenya semakin besar. Rata-rata emisi tahunan karbon dioksida di dunia meningkat pesat tiga kali lipat pada kurun mulai tahun 2000 hingga sekarang, bila dibandingkan dengan era tahun 1990-an.

Berdasarkan penelitian CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization) Marine and Atmospheric Research and the Global Carbon Project dalam laporannya "Proceeding of National Academy of Sciences" ditemukan fakta bahwa rata-rata pertambahan emisi karbon dioksida meningkat dari 1,1 persen per tahun pada 1990 menjadi 3,3 persen per tahun pada tahun 2000. Pada tahun 2005 secara global 8 juta ton karbon dioksida telah mencemari atmosfer. Meningkat pesat bila dibandingkan tahun 1995 yang hanya 6 juta ton.

Kerangka Kerja PBB tentang Konvensi Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) telah menggolongkan enam jenis gas sebagai gas rumah kaca, yakni karbondioksida (CO2)--komponen terbesar--, dinitroksida (N2O), methana (CH4), sulfurheksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFCs), dan hidrofluorokarbon (HFCs). Menurut Prof Emil Salim, usia satu kilogram gas dalam atmosfer adalah 50-200 tahun untuk karbon dioksida, 12 tahun untuk methana, 114 tahun untuk nitrogen oksida.

Keberadaan gas buangan ini diatmosfir menyebabkan suhu bumi juga meningkat. Suhu bumi ini akan terus naik, seiring dengan peningkatan emisi karbon di atmosfer. Diprediksi kenaikan ini akan mencapai tiga derajat Celsius pada akhir abad ini dan berpotensi mengubah pola cuaca secara ekstrim. Bencana sudah di depan mata, kalau manusia tidak mengubah cara hidupnya. Sebagian gejalanya sudah tampak. Banjir yang makin hebat dan kekeringan berat, ledakan penyakit-penyakit yang timbul melalui vektor seperti malaria, demam berdarah, dan flu burung, hasil panen merosot, kelaparan, malnutrisi, rusaknya ekosistem laut dan punahnya sekitar 15-40 persen spesies keragaman hayati yang mendukung keberlanjutan kehidupan.

Protokol Kyoto yang telah disepakati 172 negara ternyata belum mampu mengurangi emisi karbon diatmosfir. Amerika Serikat dan Australia sebagai penghasil emisi karbon terbesar di dunia hingga kini belum mau meratifikasi Protokol Kyoto, dengan alasan ekonomi dan menganggap Protokol Kyoto belum sempurna. Padahal, Amerika serikat diperkirakan menghasilkan 20-25% emisi karbon, dengan penduduk Amerika Serikat hanya 4% dari total penduduk dunia.

Pada 2000, total emisi karbon dunia mencapai lebih dari enam miliar metrik ton. Suatu ironi memang. Bagi Indonesia dan negara-negara pemilik hutan terbuka peluang untuk berkontribusi positif dalam mengatasi persoalan emisi karbon disektor kehutanan. Deforestasi merupakan penyumbang 20 persen dari emisi karbon yang dihasilkan. Indonesia sendiri dalam Konvensi UNFCCC di Bali Desember 2007 direncanakan untuk membahas mekanisme insentif REDD (Reducing Emission from Deforestation in Developing Countries) yaitu pengurangan emisi dari deforestasi di negara berkembang, yang akan diberikan kepada negara-negara Non-Annex I yang menjaga hutannya.

Indonesia memiliki kesempatan baik untuk membawa posisi yang kuat bagi mekanisme insentif REDD dengan menciptakan pengukuran dan kebijakan untuk mengurangi dan memonitor laju deforestasi. Indonesia juga perlu mendesak negosiasi dengan kelompok-kelompok negara lain agar mendapatkan dukungan disisi REDD. Langkah-langkah adaptasi dan pengurangan emisi dari sektor kehutanan dapat dipersiapkan dan diimplementasikan dengan serius maka dapat menjadi sinyal positif bagi masyarakat bahwa Bangsa Indonesia siap menghadapi kemungkinan terburuk dari perubahan iklim.

Perubahan iklim merupakan fenomena global, dan penyebabnya bersifat global, yakni kegiatan manusia di seluruh dunia. Dampaknya juga bersifat global yang dirasakan oleh seluruh makhluk hidup, diberbagai belahan dunia. Oleh karena itu, solusinya pun harus bersifat global, tapi dalam bentuk aksi lokal. Kita tidak bisa lagi menghindar dari persoalan ini. Salah-satu cara menahan laju perubahan iklim, yakni melalui kegiatan mitigasi atau mengurangi emisi gas rumah kaca, hasil aktivitas manusia. Ini bisa dilakukan, antara lain dengan menggunakan bahan bakar dari sumber energi yang lebih bersih, seperti menggunakan sumber energi terbarukan, yakni tenaga matahari, angin, atau biomassa. Selain itu yang juga penting dilakukan dalam menghambat laju emisi karbon adalah dengan mempertahankan dan penghutanan kembali daerah-daerah yang gundul.

Kelompok Kerja III dari IPCC menyatakan bahwa PDB (Pendapatan Domestik Bruto) akan dipotong 0.12% agar level CO2 dunia dapat bertahan di bawah level paling rendah sampai tahun 2030 sedangkan diperkirakan total keseluruhannya sekitar 3% sampai tahun yang sama. Dalam review-nya, Sir Nicholas Stern mengingatkan kembali bahwa dunia akan mengeluarkan 5-20% dari PDB-nya dan bahkan lebih besar ketika tidak ada tindakan yang dilakukan dari sekarang untuk mencegah perubahan iklim ekstrim.

Jambi merupakan daerah yang memiliki keunikan terkait menghambat fenomena perubahan iklim ini. Saat ini di Jambi telah eksis 4 Taman Nasional yang hingga kini kondisinya relatif lebih baik. Taman Nasional ini merupakan tameng terakhir keberadaan hutan di Jambi. Berdasarkan analisis peta citra satelit diketahui bahwa tutupan hutan Jambi kini tinggal 22 persen.

Namun sayangnya Jambi juga kerap menjadi penyumbang emisi karbon melalui pembakaran hutan dan lahan yang hampir tiap tahun terjadi. Di sisi lain, ditingkat lokal masyarakat Jambi memiliki kearifan dalam menjaga sumber daya hutan. Orang Rimba di dalam Taman Nasional Bukit Dua Belas, misalnya hingga kini berupaya supaya hutan yang menjadi tempat hidup mereka tidak ditebang. Untuk itu Orang Rimba membuat hompongon, yaitu garis pembatas berupa kebun karet di pinggir Taman Nasional. Dengan adanya hompongon ini, maka orang yang berada di luar taman tidak bisa masuk membuka ladang ke dalam kawasan taman. Atas upaya menjaga taman dari penjarahan inilah, Tumenggung Tarib salah satu pimpinan Orang Rimba memperoleh penghargaan Kalpataru dari Presiden SBY tahun lalu.

Masyarakat Lubuk Beringin sangat menyadari arti penting hutan bagi kehidupan mereka, dengan kearifan yang mereka miliki tetap mempertahankan kebun karet campur yang mereka miliki. Dikebun karet campur ini masyarakat menanam berbagai pohon lainnya, sehingga selain karet mereka juga bisa panen buah-buahan yang tumbuh dikebun mereka. Selain itu di kebun karet campur ini juga ditemui pohon-pohon kayu untuk kebutuhan masyarakat. Jadi masyarakat di desa ini tidak perlu merambah hutan lindung Batang Gadis ataupun Taman Nasional Kerinci Seblat untuk memenuhi kebutuhan kayu mereka. Dengan terjaganya hutan maka daerah tangkapan air juga terjaga, dan itu berarti bagi masyarakat Desa Lubuk Beringin juga akan memberikan penerangan kepada masyarakat desa mereka. Karena air yang mengalir akan memutar kincir untuk pembangkit listrik. Demikian juga masyarakat Guguk dan Batu Kerbau yang dengan penuh gigih memperjuangkan hutan di desa mereka dengan membuat hutan adat. Dengan kearifan yang dimiliki mereka menjaga dan mempertahankan hutan dengan tata cara adat yang mereka miliki.

Kearifan-kearifan lokal ini merupakan nilai positif bagi Jambi dalam menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global. Hutan yang dipertahankan tidak hanya untuk kebutuhan dan kepentingan masyarakat Jambi tapi juga memberikan manfaat untuk masyarakat luas dibelahan bumi. Semoga apa yang dilakukan masyarakat ini dapat menjadi contoh tauladan dan juga dapat menjadi bahan untuk bargaining Indonesia dalam konvensi UNFCCC. Untuk itulah KKI Warsi bersama dengan Partnership for Governance Reform menggelar Seminar Regional Sumatera untuk menjaring aspirasi para pihak, khususnya yang ada di Sumatera. Selain itu acara ini juga digelar untuk mengkampanyekan perubahan iklim kepada masyarakat luas sehingga masyarakat kita juga bisa menghadapinya dan bisa beradaptasi. (Sukmareni, dari berbagai sumber).
***





Berita terkait:
Comments: