NEWS RELEASE:

Orang Rimba Berlatih Pembibitan Jernang

Tumenggung Grip terlihat sangat kagum dengan mata tunas yang menyembul dari biji jernang yang baru tiga hari lalu di congkelnya. Tumenggung Orang Rimba kelompok Kedudung Muda Taman Nasional Bukit Dua Belas ini takjub dengan cepatnya pertumbuhan yang terjadi. Padahal menurut pengalaman Orang Rimba, jika ada buah jernang yang jatuh ke tanah sewaktu mereka panen, kecambah dari biji jernang baru akan muncul setelah 6 bulan.

Kemunculan kecambah semakin menambah semangat 20 peserta pelatihan yang terdiri dari kelompok Ngrip dan Kelompok Betaring, yang mengikuti pelatihan pembibitan Jernang yang dilakukan oleh WARSI belum lama ini. Adalah Erinaldi Ramli, Spesialis Pengembangan Ekonomi Hijau KKI WARSI yang memiliki ide untuk mempersingkat cara pembibitan jernang bersama Orang Rimba. Jernang merupakan salah satu tanaman bernilai ekonomi tinggi. Sejak zaman dahulu nenek moyang orang rimba sudah terlibat dalam tata niaga perdagangan jernang dengan pihak luar, meski waktu itu dengan menggunakan sistem barter.

Jerneng (Dhaemorhop draco) merupakan tumbuhan merambat yang hidup di hutan-hutan tropis pas ketinggian tak lebih dari 800 mdpl. Hutan dataran rendah Jambi yang merupakan juga rumah bagi Orang Rimba merupakan tempat yang cocok untuk tumbuh jernang. Dahulu Orang Rimba dengan mudah menemukan rumpun jernang dan memanen buahnya dalam dua kali setahun. Tumbuhan ini sebagaimana jenis rotan lainnya tumbuh merambat dengan ketinggian bisa mencapai 25 meter mengikuti pohon tegakannya. Berkurangnya pepohonan di dalam hutan akibat berbagai aktivitas baik penebangan maupun alih fungsi hutan menyebabkan keberadaan jernang juga semakin sedikit.

“Untuk tumbuh alami di hutan jernang butuh waktu lama, makanya kita menggagas untuk adanya pembibitan yang akan mempercepat proses budaya jernang, kini jernang semakin sedikit yang tersedia, populasi Orang Rimba semakin berkembang, sangat sayang jika salah satu sumber ekonomi mereka ini hilang begitu saja, sedangkan sumber ekonomi lainnya untuk orang rimba juga belum berkembang dengan baik,”sebut Erinaldi.

Sejauh ini Orang Rimba belum terlalu mengenal teknih budi daya Orang Rimba merupakan komunitas yang mengantungkan hidupnya dari berburu dan meramu hasil hutan. Namun salah satu Tumenggung Orang Rimba yaitu Pak Tarip sudah melihat bahwa adanya kecendrungan semakin sulit menemukan tanaman-tanaman yang menjadi sumber pendapatan Orang Rimba yang tumbuh di alam, maka budidaya merupakan pilihan yang harus dilakukan. Untuk itulah kemudian Pak Tarip juga sangat antusias untuk melakukan pembibitan jernang. Untuk itulah kemudian Erinaldi yang sudah sangat akrab dengan dunia Orang Rimba, merasa terpanggil untuk melakukan penelitian kecil-kecilan yang bisa memberikan inovasi baru bagi pengembangan ekonomi Orang Rimba. Dari hasil mengamati dan membaca berbagai literatur dan membuat sejumlah percobaan, akhirnya Erinaldi menemukan cara baru dalam pembibitan jernang.

Inovasi untuk percepatan pembibitan tumbuhan penghasil resin yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan istilah dragon blood inilah yang kemudian di tularkan Erinaldi kepada Orang Rimba. “Selama ini jernang butuh waktu panjang untuk berkecambah, setelah diamati rupanya terdapat jaringan yang terdiri dari zat tanduk pada sekitar bakal kecambah muncul. Jaringan yang menutup mata tunas merupakan jaringan yang sangat keras dan kedap air, sehingga butuh waktu panjang untuk membukanya secara alami,”sebut Erinaldi.

Dari uji coba yang berhasil dilakukan, suasana kedap selama masa perkecambahan namun tetap ada air yang akan membantu mata kecambah keluar cukup membantu mempercepat keluarnya kecambah. Caranya buah jernnag yang sudah tua dimasukkan ke kantong plastik besar yang di dalamnya di beri air dan kemudian kantong di tutup dengan rapat kantong dibiarkan dalam keadaan gembung. Jika hanya dengan perlakuan ini kecambah akan keluar dalam waktu 3 bulan. Untuk lebih mempersingkat lagi, maka di bantu dengan cara menggerinda jaringan di sekitar mata kecambah. Bisa juga dengan mencongkel jaringan yang terdiri dari zat tanduk yang sangat keras yang berada di sekitar tempat kecambah akan keluar dengan menggunakan pisau cutter. Proses ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati supaya tidak merusak jaringan bakal kecambah.

“Dengan mencongkel jaringan tanduk ini mata kecambah akan muncul dalam waktu tiga hari, prosesnya setelah di congkel bibit di tempatkan di dalam kantong plastik yang sudah diberi air kemudian ikat,”sebut Erinaldiyang sebelum membagi ilmunya dengan Orang Rimba terlebih dahulu menguji coba ketahanan bibit dan menanamnya, sehingga bisa menghasilkan tanaman yang juga baik layaknya tanaman jernang di alam.

Setelah kecambah keluar, tanaman tetap ditempakan di dalam kantong yang kedap udara selama 1-1,5 bulan, selanjutnya bibit di pindahkan ke dalam polibag. Tumbuhan siap di tanam setelah empat daunnya tumbuh, yang biasanya memerlukan waktu selama 4-6 bulan.

Di alam jernang muda tergolong tanaman yang sangat di gemari hama, terutama monyet, babi dan hewan besar lainnya yang memakan umbut jernang yang rasanya sangat manis. Untuk itulah setelah memindahkan dari polibag ke tanah, bibit jernang yang di tanam di dalam hutan harus di pagari dengan baik untuk menghindari serangan hama.

Dengan pelatihan harapannya Orang Rimba bisa sendiri membudidayakan tanaman jernang, sehingga bisa menjadi tumpuan ekonomi Orang Rimba. Biasanya dari satu rumpun jernang, Orang Rimba bisa mendapatkan hasil satu karung buah jernang yang jika di olah akan menghasilkan 1,5 kg resin. Harga di pasaran Orang Rimba sekitar Rp 3,3 juga per kilo gram. Tindak lanjut dari pelatihan ini Orang Rimba kerudung Muda yang akan panen jernang dua bulan ke depan, berencana untuk meninggalkan sebagian buah untuk di bibitkan. (Sukmareni)
***





Berita terkait:
Comments:
  • user image azwar [2016-10-07]
    saya ingin tahu tentang tehnik pembibitan jernang,agar saya bisa dengang cepat mempraktekanya..........

  • user image max [2016-06-26]
    Saya mencari Jernang/Dragon Blood dengan kualitas yg bagus (Grade Super/minimal Grade A) dan stok di atas 50 kg. We buy (Beli) Jernang Powder from Indonesia every week (Don`t buy from kalimantan). Please contact with me by BBM, WhatsApp. Mr.Max BBM: D0B72A26 WhatsApp: +8613983452620 Phone Number: +8613983452620