NEWS RELEASE:

Ketika Orang Rimba Terpapar Asap

Warsi Siapkan Rumah Evakuasi
Bencana kabut asap telah menyesakkan masyarakat Sumatera dan Kalimantan. Tidak ketinggalan Orang Rimba yang mendiami hutan-hutan sekunder di Provinsi Jambi. Pola hidup mereka yang tinggal di pondok-pondok sederhana di alam terbuka menyebabkan Orang Rimba kesulitan untuk melindungi diri dari serangan kabut asap. Akibatnya sebagian besar Orang Rimba terserang ISPA dan penyakit pernafasan lain serta penyakit pencernaan.

Kondisi ini semakin diperburuk dengan musim kering yang juga sudah berlangsung lama, sehingga ketersediaan hewan buruan juga semakin menyusut. Melihat persoalan ini, perlu adanya langkah antisipasi terutama membantu Orang Rimba untuk bertahan dan melewati musim asap tahun ini.

“Sekarang serba sulit, anak-anak sudah banyak yang sakit, kabut asap sudah mengganggu kami. Akhirnya kami suruh anak-anak keluar (rimba), cari tempat aman dulu,” kata Mangku Besemen, salah satu tetua Orang Rimba di Kedudung Muda Taman Nasional Bukit Duabelas.

Beruntung kata Mangku di luar rimba sudah ada rumah singgah yang disiapkan Warsi untuk di tempat evakuasi Orang Rimba yang tengah menghadapi musibah kabut asap. Menurut Mangku Orang Rimba memilih keluar rimba sementara, mengingat kabut asap tahun ini paling parah setelah peristiwa kabut asap yang terjadi pada tahun 1997 dan telah menyebabkan sebagian besar Orang Rimba terserang batuk-batuk dan penyakit lainnya.

“Kami juga mencari pertolongan pengobatan keluar, kebetulan WARSI membuat posko, jadi kami bisa langsung berobat di sini,”kata Mangku.

WARSI sejak beberapa waktu ini menyediakan rumah evakuasi bagi Orang Rimba khususnya di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Sarolangun. Rumah dua lantai yang merupakan kantor lapangan awalnya merupakan tempat transit staf WARSI sebelum ke rimba dan juga merupakan rumah singgah bagi Orang Rimba. Sejak asap menggila di kawasan ini, diubah fungi menjadi tempat evakuasi Orang Rimba dari kelompok Kedundung Muda dan sekitarnya. Di ruangan ini disediakan dua ruangan khusus yang disterilkan dari asap yang dilengkapi dengan penjernih udara. Ruangan ini di khususnya bagi anak-anak dan ibu hamil serta menyusui

Selain itu, para Fasilitator Kesehatan WARSI juga siaga ditempat ini untuk merawat Orang Rimba yang membutuhkan penanganan kesehatan. Ada sekitar 80 kepala keluarga (KK) Orang Rimba yang tinggal tempat rumah evakuasi ini, yang sebagian besar mengalami gangguan kesehatan.

Fasilatator Kesehatan WARSI Yomi Rivandi mengatakan, keluhan utama Orang Rimba adalah batuk, diare dan masalah kulit. “Kita rawat mereka yang mengalami masalah kesehatan, namun jika ada kondisinya yang buruk akan segera kita rujuk ke rumah sakit terdekat,”sebut Yomi sembari menyebutkan WARSI juga meniadakan satu unit ambulans untuk membantu keadaan darurat. Hasil pemeriksaan 40 orang terserang ISPA, 30 anak-anak dan 10 orang dewasa.

Di rumah singgah ini, terlihat Orang Rimba melakukan berbagai aktifitas, termasuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar pada anak-anak rimba yang biasanya dilakukan di dalam rimba. Abak-anak rimba tampak belajar didampingi fasilitator pendidikan yang biasanya mengajar anak-anak di dalam rimba. Namun sejak mereka di evakuasi ke rumah singgah kegiatan belajar juga di lakukan di rumah ini.

Menurut Asisten Koordinator Program Pemberdayaan Masyarakat Komunitas Konservasi Indonesia WARSI evakuasi Orang Rimba ke ruangan yang memiliki udara lebih bersih merupakan langkah yang harus dilakukan. “Orang Rimba merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan kondisi di sekeliling mereka. Kabut asap yang sudah beberapa bulan ini telah mengganggu kesehatan sebagian besar Orang Rimba. Jika masyarakat lain memilih berdiam di rumah untuk menghindari asap, Orang Rimba mau menghindar ke mana ketika asap menyelimuti seluruh rimba mereka,”katanya.

“Untuk itulah makanya kami menyiapkan rumah evakuasi sehingga Orang Rimba sementara waktu menjelang kondisi udara menjadi lebih baik,”sebut Ade.

Anak-anak dan ibu-ibu yang mengalami gangguan pernapasan akibat asap diungsikan ke rumah singgah bisa bergantian menggunakan ruang steril untuk menghirup udara segar. Untuk penanganan lebih lanjut, Warsi juga melakukan koordiasi dengan pemerintahan setempat. Mulai dengan melakukan koordinasi dengan pihak pemerintahan desa hingga ke puskesmas terdekat. Jika kondisi tidak membaik atau jika ada Orang Rimba yang mengalami sakit parah agar bisa ditangani lebih lanjut.***

Foto: dok. KKI WARSI
***





Berita terkait:
Comments: