NEWS RELEASE:

Kasus Asap, Berkas Empat Perusahaan Siap Diadili

Berkas empat perusahaan yang sudah dilakukan tahapan penyidikan terkait kasus Kebakaran Hutan dan Lahan telah dikirim ke Kejaksaan Tinggi Jambi. Hal ini disampaikan Kanit Reserse Tindak Pidana Tertentu Salpandri dalam Seminar Hasil Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Konsesi Perusahaan Perkebunan dan Kehutanan di Provinsi Jambi. “Ada empat perusahaan yang berkasnya terkait dengan kasus kebakaran hutan dan lahan telah direkap dan dikirim ke Kejati. Totalnya ada delapan perusahaan dan 18 perorangan yang kita lakukan proses penyidikannya,” tegasnya.

Keempat perusahaan yaitu, PT Ricky Kurniawan Kertapersada (RKK), PT. Agro Tumbuh Gembilan Abadi (atga), PT. Tebo Alam Lestari (TAL), dan PT. Dyera Hutan Lestari (DHL).

“PT. Ricky Kurniawan Kertapersada (RKK) tersangka atas nama Munadi selaku head of opartion (hoo) berkas perkara telah dikirim kekejati jambi. PT. Agro Tumbuh Gembilan Abadi (ATGA) tersangka atas nama Dermawan Eka Setia Pulungan estate manager berkas perkara telah dikirim kekejati jambi, PT Tebo Alam Lestari (TAL) tersangka atas nama Cipriano Purba Estate manager berkas perkara telah dikirim kekejari tebo dan PT. Dyera Hutan Lestari (DHL) tersangka atas nama Iwan worang selaku direktur utama,” tambahnya.

Sementara keempat perusahaan lainnya, PT. Gemilang Jambi Permai (GJP), PT. Bara Eka Prima (BEP), PT. Mugi Triman International (MTI), dan PT. Jambi Agro Wijaya (JAW) masih dalam tahapan penyidikan.

Besarnya nilai kerugian yang ditimbulkan akibat tragedi kabut asap di Provinsi Jambi yang mencapai Rp. 44,7 Trilyun. Angka tersebut sangat bombastis, dan menambah catatan buruknya pengelolaan sumber daya alam di Provinsi Jambi. Dari hasil Pemantauan yang dilakukan tim koalisi Melawan Asap di empat kabupaten, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Sarolangun di sembilan perusahaan mendapati sejumlah temuan. Nelly Akbar Koordinator Program Pemanfaat Ruang dan Perubahahan Iklim KKI WARSI menyebutkan beberapa temuan kelalaian perusahaan. “ Temuan yang kami dapati terkait dengan pamantauan kebakaran lahan dan hutan ada beberapa fakta menarik diantaranya adanya kelalain dari pihak perusahaan. Tidak hanya itu, perusahaan khususnya di lahan gambut melakukan praktek pemanfaatan dan pengelolaan lahan dengan membuat kanal-kanal besar membuat gambut rentan terbakar, “ katanya.

Nelly juga menyebutkan, kurang berjalannya fungsi pengawasan terhadap perusahaan yang dilakukan oleh Pemerintah (Provinsi maupun Kabupaten) membuat perusahaan dengan semena-mena mengeksploitasi gambut tanpa mengikuti kaidah konservasi. “ Harusnya pemerintah juga terus melakukan pemantauan kesiapan perusahaan ketika mendekati musim kemarau untuk pencegahan dan penanganan kebakaran lahan. Kita menemukan di lapangan perusahaan tidak dilengkapi dengan peralatan, jangankan perlatan yang stndar selang aja tidak ada. Pemerintah harusnya tegas, begitu ada perusahaan yang tidak melengkapi peralatan mereka, langsung kenakan sangsi,” imbuhnya.

Kebakaran hutan dan lahan merupakan penyumbang utama emisi karbon (Gas Rumah Kaca / GRK) dan memunculkan bencana asap rutin tiap tahunnya. Terutama kebakaran yang berasal dari lahan gambut. Emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan ini tentunya berkontribusi terhadap proses perubahan iklim. Menurut Hooijer et al, (2010), emisi karbon dari lahan gambut dan alih guna lahan hutan menyumbang lebih dari setengah total emisi Indonesia. Selain itu, hasil kajian lainnya menyebutkan bahwa kebakaran lahan gambut merupakan kontributor terbesar (85%) terhadap total emisi Provinsi Jambi bersama sektor kehutanan. “Jika tidak terdapat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini, emisi Provinsi Jambi diperkirakan akan meningkat 30% hingga tahun 2030. Sebaliknya, jika upaya perbaikan dilakukan dilakukan seperti konservasi gambut, maka diperkirakan akan berkontribusi sebesar 48% terhadap pengurangan emisi Provinsi Jambi,” tambahnya.

Karakteristik gambut yang unik membutuhkan perlakuan khusus dalam pengelolaannya, sebab jika salah dalam pengelolaannya akan menuai bencana. Bambang Hero Saharjo Guru Besar Fakultas Institut Pertanian Bogor menyebutkan kegiatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut harus dengan menerapkan manajemen pengendalian kebakaran hutan dan lahan, seperti early warning system (sistem peringatan dini), early detection system (sistem deteksi dini) dengan peralatan yang memadai, dan tenaga terampil. Hal ini dikarenakan gambut yang dikelola dengan tidak memperhatikan aspek lingkungan sangat rnetan terbakar. Selain itu Bambang mengatakan pemerintah harus menata ulang perizinan yang telah diberikan kepada perusahaan.
***





Berita terkait:
Comments:
  • user image Yoyok [2016-04-20]
    Kawal terus proses hukumnya. Semoga pembakar lahan jera dan tahun ini tidak ada lagi kabut asap.