NEWS RELEASE:

Pameran Dan Pentas Seni Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Tumbuhkan Kesadaran Menjaga Kelestarian Lingkungan
Ketika karbon dari muka bumi terus dilepas ke atmosfer lewat pembakaran bahan bakar fosil dan organik oleh milyaran manusia. Ketika jutaan hektar hutan sebagai penghisap karbon terus ditebang dan kian berkurang. Ketika itulah bencana mulai mengancam bumi. Gas karbon dan gas pencemar lain, seperti sulfur dan nitrogen, yang tergabung dalam kelompok gas rumah kaca (GRK), terkumpul semakin tebal di atmosfer menyelimuti bumi. GRK di lapisan udara atas itu, karena proses kimiawinya, akan mengurung sinar matahari yang menembus atmosfer masuk ke permukaan bumi. Akibatnya, terjadi perubahan iklim yang menyebabkan planet biru itu menjadi kian panas dalam jangka panjang akan menyebabkan terjadinya terjadinya perubahan iklim.

Perubahan iklim menyebabkan berbagai persoalan lingkungan seperti perubahan pola curah hujan yang telah mengakibatkan banjir dan longsor ataupun musim kemarau berkepanjangan, menjadi siklus yang tidak beraturan. Hal ini juga menyebabkan berubahnya pola musim tanam yang merugikan petani karena sulit menentukan pembibitan, perkiraan panen serta serangan hama tak terduga. Dari segi kesehatan, habitat kehidupan yang terganggu menyebabkan meningkatnya penyakit epidemic seperti demam berdarah dan malaria. Jika tidak ada upaya pengurangan emisi, maka bumi akan semakin panas. Kondisi ini menyebabkan es di kutub mencair dan meningkatkan permukaan air laut sehingga pulau-pulau kecil menjadi tenggelam.

?Salah satu kondisi yang bisa dirasakan adalah semakin naiknya suhu serta kian beragamnya pola iklim saat ini. Suhu yang makin tinggi berpengaruh pada terus meningkatnya evaporasi dan evapotranspirasi yang berujung pada kian menipisnya ketersediaan air, sehingga menimbulkan kekeringan berkepanjangan,?kata Direktur Eksekutif KKI Warsi Rakhmat Hidayat.

Menurut Rakhmat perlu adanya upaya-upaya untuk mengatasi persoalan lingkungan yang kini mengancam kelangsungan hidup manusia. Salah satunya memberikan dukungan kepada upaya komunitas lokal yang mempertahankan kearifan lokal untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. ?Komunitas yang memiliki kearifan lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan, harusnya mendapat dukungan dari para pihak,?sebut Rakhmat.

Disebutkannya masyarakat yang hidup disekitar dan didalam hutan, yang menggantungkan hidup mereka dengan hutan, kini juga terancam, akibat pola-pola pengelolaan hutan oleh pengusaha sektor kehutanan dan perkebunan serta kebijakan pemerintah yang belum berpihak kepada mereka,?katanya.

Lebih lanjut Kata Rakhmat, aksi-aksi destructive logging merupakan salah satu ancaman yang menyebabkan berkurangnya hutan alam dan menjadi penyumbang perubahan iklim global. ?Kini melalui momentum hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada 5 Juni diharapkan dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bersama dan merubah prilaku menjadi lebih ramah lingkungan dimulai dari diri sendiri dan sekitar kita,?kata Rakhmat.

Dalam kaitan itu, KKI Warsi bekerjasama dengan Burung Indonesia, EC Indonesia FLEGT SP dan Pinang Sebatang serta WTC Batanghari menggelar acara pameran foto dan pentas seni selama tiga dari (5-7 Juni 2007). Acara ini diselenggarakan di Mall, harapannya kampanye untuk penyelamatan hutan dan menumbuhkan kesadaran untuk berperilaku ramah lingkungan dapat disampaikan secara lebih luas kepada beragam kalangan. ?Kaum ibu, anak-anak remaja yang datang ke sini, dengan melihat pameran foto dan melihat tanda-tanda alam yang telah mulai berubah tergugah untuk berbuat, minimal tidak membuang sampah sembarangan, atau mungkin juga tergerak untuk melakukan penghijauan dimulai dari lingkungan sendiri,?katanya.

Dengan tumbuhnya kesadaran tersebut, lingkungan kita yang sudah mulai berubah akibat perubahan iklim bisa diwariskan menjadi lebih hijau untuk anak cucu kita kelak. ?Harapannya, bumi yang kita tinggali sekarang ini, tidak ditinggalkan sebagai bumi yang penuh bencana, akibat ulah manusia yang tidak menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Hal ini penting dilakukan, mengingat laju kerusakan hutan (deforestation) Indonesia pada 1985?1997 mencapai 1,87 juta hektar per tahun. 1997?2000 meningkat menjadi 2,83 juta hektar per tahun. Ini akibat euforia reformasi yang terjadi pasca tumbangnya Orde Baru. Tapi, sejak 2000?2005 laju kerusakan hutan menyusut menjadi 1,08 juta hektar per tahun atau setara 300 lapangan sepakbola setiap jamnya. Dengan laju kerusakan hutan sedemikian parah, maka dibutuhkan waktu 120 tahun untuk memulihkan kondisi hutan Indonesia, itu dengan asumsi setiap tahun ada 500 ribu hektar lahan yang dihijaukan. Jika hal itu tidak dilakukan, maka pada tahun 2015 nanti hutan Indonesia akan hilang dan bahaya lingkungan sudah tidak akan terelakkan lagi. Di Jambi sendiri hutan yang tersisa hanya tinggal 22 persen atau hanya 1,2 juta hektar saja dari 5,1 juta hektar luas Provinsi Jambi.

?Kita mengharapkan, hutan kita yang masih tersisa dapat dipertahankan, dan lahan-lahan yang kritis dipulihkan kembali. Serta kearifan masyarakat dalam mengelola hutan mendapat dukungan dari semua pihak,?sebut Rahmat. ***
***





Berita terkait:
Comments: