NEWS RELEASE:

Ketika Sudung dan Kain Orang Rimba Hangus Terbakar

Takut di kutukan dewa dan diserang penyakit
Induk Meranu Bungo, baru saja mandi ketika mengunjungi Orang Rimba kelompok Terap di Jerambah Jelutih yang berada di kawasan Hutan Desa Jelutih Kecamatan Bathin XXIV Kabupaten Batang Hari. Di gendongannya terlihat bayi mungil yang juga bau dimandikan. Bayi itu itu hanya belum mengenakan pakaian sesuai adat Orang Rimba, kain gendongan yang menyangkut di leher ibunyalah yang akan menjadi penghangatnya. Biasanya kain untuk menggendong bayi merupakan kain dengan kualitas baik dan harus berwarna terang yang diyakini Orang Rimba termasuk bagian dari cara mendekatkan diri ke dewa dan melindungi kehidupan mereka. Sayangnya bayi malang itu kini hanya digendong dengan kain biasa yang berwarna gelap.

“Hopi ado koin lagi (tidak ada kain lagi),”kata Induk nengkaram menjelaskan. Menurutnya sangat tidak layak kalau bayi di gendong dengan kain warna gelap. Harusnya dengan yang berwarna terang. Namun apa daya, ketika pemukiman Orang Rimba di bakar oleh karyawan PT PT Bahana Karya Semesta (BKS) anak perusahaan Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk beberapa waktu lalu turut menghabiskan semua harta benda Orang Rimba.

Kain yang dipakai sekarang adalah pemberian kerabatnya dari kelompok lain setelah mereka berhasil melarikan diri dari kerusuhan yang terjadi. Tidak ada harta benda yang berhasil mereka selamatkan, hanya kain yang melekat di badan yang mereka bawa. “Kami menyelamatkan budak iyoy nan penting (kami menyelamatkan anak-anak yang terpenting,”kata Induk Meruli.

Ketika mengenang kembali kejadian pengusiran yang berujung kekerasan serta pembakaran yang terasi di Divisi IV areal perkebunan PT BKS yang berada di Dusun Baru Kecamatan Pauh Sarolangun itu, Orang Rimba menyebutnya dengan peristiwa penyiksaan yang sangat pedih. Termasuk membawa lari dua perempuan yang bau seminggu habis melahirkan, yaitu Induk Meranu Bungo dan Induk Seringan. Dengan bayi di tangan dan tubuh yang masih lemah mereka ikut berlari menyelamatkan diri dari amukan dari karyawan perusahaan perkebunan yang sebelumnya bernama Era Mitra Agro Lestari (EMAL) Bakri Plantation Group itu. Kedua bayi itu lahir di tanah peranoaan,-- tanah untuk melahirkan yang berada dalam kawasan perkebunan itu.

‘Nye hampir mati, belari ketetakuton sambil gendong budak iyoy, (dia hampir mati ketika berlari sambil menggendong bayi itu), ” ujar induk Negkaram (sekitar 55 tahun) sambi menunjuk Induk Seringan. Bagaimana tidak, baru seminggu habis melahirkan, biasanya perempuan masih akan sangat lemah, belum bisa beraktivitas berat. Namun kenyataannya mereka harus lari sekitar 15 km menghindari serbuan karyawan perusahaan. Darah nifas yang terus mengalir tidak lagi mereka hiraukan, yang jelas mereka berlari dan tidak peduli semak ataupun jalan dalam kebun yang banyak pelepah sawit dengan duri-duri tajamnya, mereka terus berhamburan mencari tempat yang aman. Lepas dari kebun sawit mereka masuk ke perkebunan karet yang dikelola PT Wana Perintisa, selanjutnya terus ke arah hulu hingga mereka sampai di Jerambah Jelutih.

Induk Seringan sendiri mengaku sangat takut dengan kejadian itu, menurutnya darah nifas yang mengalir deras kala ia melarikan diri, tidak lagi dihiraukannya, yang penting baginya adalah menyelamatkan bayi dan seorang anaknya lagi yang masih berusia sekitar 3 tahun. Satu di gendong di depan satunya di gendong di belakang.

“Kami berlari, tidak ada barang yang di bawa hanya kain yang melekat di badan, gendong budakpun tidak lagi pakai kain, pakai tangan macam iko,”katanya induk Meruli, sembari berdiri dan menyambungkan kedua tangannya di punggung. Bahkan menurutnya ketika berlari ini ada anak yang terpisah dari bapaknya.

“Iko iyoy Bepaknye piado di sio, Nye belari ke arah di kiyun (ini dia bapaknya tidak di sini, dia berlari ke arah sana),” ujar Melimau menunjuk seorang anak kecil berusia sekitar 4 tahun sembari menunjuk ke arah bapak anak itu pergi.

Tak hanya kelompok yang mendapat kekerasan yang melarikan diri, kelompok-kelompok Orang Rimba lainnya juga ikut melarikan diri dan meninggalkan pemukiman mereka ketika mendengar kabar penyerbuan Orang Rimba di PT BKS. Mereka mengungsi ke arah atas ke arah Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Di wilayah itu didiami Orang Rimba dari empat tumenggung—pimpinan tertinggi kelompok Orang Rimba, yaitu Tumenggung Nyenong, Ngamal, Ngirang dan Menyurau dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 160 atau yang dalam bahasa rimba disebut dengan bubung. Mereka hidup menyebar dalam kelompok-kelompok kecil. Biasanya bisa 3 – 30 bubung paling banyak dalam satu kelompok. Mereka sudah biasa tinggal di kawasan ini jauh sebelum kawasan menjadi perkebunan sawit maupun HTI.

Orang Rimba yang bermukim di areal PT BKS hanya sebanyak 10 bubung, masing-masing Melimum dan Menyurau dengan lima bubung. Di perkebunan yang akan menjalani replanting itu, masing-masing bubung membuat pondok-pondok sederhana beratapkan terpal tanpa dinding dan berlantaikan kayu kecil atau pelepah daun sawit yang di susun rapat. Dalam bahasa rimba pondok ini disebut dengan sudung atau sesudungon.

Di dalam sudung inilah semua kehidupan mereka berlangsung dan tempat menyimpan harta benda milik Orang Rimba. Dalam adat Orang Rimba semua aspek kehidupannya selalu terkait dengan pemujaan terhadap dewa. Kejadian-kejadian dan semua benda yang mereka miliki tersambung dengan dewa. Nyawa dan harta mereka selalu dikaitkan dengan keberadaan dewa-dewa yang melindungi mereka. Ini juga yang menjadi perlambang setiap orang rimba. Dalam penamaan setiap orang rimba selalu ada unsur dewa yang dikaitkan oleh dukun-dukun yang membantu persalinan sekaligus yang berhak memberi nama anak yang dilahirkan.

Di usir perusahaan

Pengusiran Orang Rimba dari perkebunan sawit yang masuk sebagai anggota RSPO itu, tidak pernah di sangka kelompok Melimun dan Menyurau. Sebelumnya mereka sudah sangat biasa bermukim di perkebunan itu. Namun entah apa yang terjadi belakangan Orang Rimba sering mendapat perlakuan yang tidak baik dari satpam yang menyuruh mereka pergi. Awalnya mereka mengalah saja, berkemas dan menggulung terpal atap dan mengemasi harta benda untuk di bawa pergi sehari setelah satpam mengingatkan mereka untuk meninggalkan lokasi itu. Sebagian barang ke dalam angkutan yang mereka miliki, berupa sepeda motor dan sebuah mobil carry pick up.

Pagi itu 2 juni 2016, Orang Rimba sudah mengemas barangnya. Ketika mengemas barang ini kembali satpam datang, Nenun salah satu Orang Rimba di kelompok itu kembali bertanya, apa alasan perusahaan menyuruh mereka pergi. Pertanyaan ini sangat wajar diajukan ulang oleh Nenun, karena sebelum di beli oleh Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) dan berganti nama menjadi Bahana Karya Semesta (BKS), ketika masih bernama PT Era Mitra Agro Lestari (EMAL) di bawah naungan Bakri Plantation ini, Orang Rimba sudah biasa bermukim di bawah kebun sawit itu. Rupanya pertanyaan Nenun ini membuat amarah satpam perusahaan yang bernama Anas tersulut dan diapun langsung melayangkan bogem ke tubuh Nenun. Tak lama berselang keadaan menjadi sangat kacau, perempuan dan anak-anak yang ada di lokasi langsung berteriak-teriak dan melarikan diri. Karyawan perusahaan yang merupakan warga desa setempat juga semakin banyak yang datang. Sialnya, saat yang bersamaan datang Besaring, orang rimba lainnya. Saat itu Besaring, senja
ta rakitan yang biasa digunakan orang rimba untuk berburu itu tersandang di punggungnya. Anas berupaya untuk merebut kecepek Besaring, namun pemuda rimba itu kukuh mempertahankan senjatanya. Akibatnya Besaring menjadi sasaran amukan. Ia pun menderita luka tusukan di punggung dan luka di kepala karena di pukul dengan pelepah sawit. Besaring sempat menjadi bulan-bulanan Anas dengan dibantu oleh karyawan perusahaan lainnya. Penyiksaan besaring baru berhenti ketika adiknya Nengkaram berhasil menyeretnya dan kemudian menggendongnya dipunggung menjauh dari amukan masa.

Tidak berhenti sampai di situ barang-barang orang rimba yang berada di lokasi habis di bakar oleh karyawan perusahaan. Terdapat satu unit mobil Carry pick up, 5 unit sepeda motor, 10 pembungkus kain yang masing-masingnya berisi 150 helai kain panjang harta paling berharga bagi Orang rimba, ikut ludes terbakar. Juga sudung dan barang-barang lainnya tidak ada yang tersisa.

“Adat kami Orang Rimba, kalau sudah macam iko iyoi sudah mati, piado bernyawa lagi,”ucap Ngelembu menunjuk Besaring yang merupakan adeknya. Dalam adat Orang Rimba penyerangan fisik apalagi dilakukan dari belakang, merupakan penyiksaan yang sangat menakutkan. Atas kejadian ini harus ada denda bangun nyawa yang biasa berlaku di Orang Rimba, yaitu mengganti dengan 500 lembar kain.

Sudung dan harta benda yang terbakar

Dengan cepat api membakar sudung dan benda-benda orang rimba. Kain yang merupakan harta benda paling berharga miliki orang rimba turut terbakar. Dalam mitologi Orang Rimba kain memegang peranan penting dalam aspek kehidupan mereka. Dalam kehidupan Orang Rimba ada banyak jenis kain yang mereka gunakan. Di antaranya adalah kain perabot. Kain ini terdiri dari kain kaci yaitu kain yang berwarna putih dan kain kesumbo yang berwarna merah. “Ini kain yang kami gunakan untuk menyembah dewa-dewa kami,”sebut Tumenggung Nyenong.

Menurut Nyenong kain perabot merupakan barang yang harus dimuliakan. Jangankan di bakar di langkahi orang saja tidak boleh. Menurut budaya orang rimba kalau kain ini tidak diperlakukan sebagaimana mestinya akan ada kutukan dewa yang akan diterimanya. “Kalau telangkah (dilangkahi) bisa kena buruj atau poliron (hernia),”kata Ngelembo.

Makanya selama ini, Orang Rimba selalu menyimpan kain-kain mereka dengan sangat rapi dalam gulungan-gulungan padat di dalam masing-masing sudung mereka. Pun demikian dengan kain-kain lain yang mereka simpan. Seperti yang disebut dengan pakoion dan kain perabot budak. Kain-kain ini merupakan kain yang digunakan untuk acara ritual bebalai, membawa anak turun mandi, menanam padi dan ritual lainnya.

Selain kain untuk ritual-ritual itu, orang rimba juga menyimpan ribuan kain batik dan kain panjang dan kain njekat. Kain batik dan kain panjang yang disimpan adalah kain tenun halus dengan motif dan warna cerah. Kain ini biasanya di beli dengan harga Rp 80 ribu perkeping. “Kegunaan kain ini untuk kami bayar denda adat,”kata Induk Meruli.

Disebutkannya, denda adat dikenakan ketika melakukan pelanggaran adat dan juga untuk kegiatan orang rimba lainnya. Misalnya ketika ada anak yang mau menikah, maka wajib hukumnya bagi orang tua anak laki-laki untuk memberikan kain kepada pihak perempuan sebagai maharnya yang juga disebut denda adat, jumlah yang diberikan tergantung dengan kesepakatan adat. Semakin terpandang keluarga yang dilamar semakin banyak kain yang diberikan.

Menurut induk Nengkaram jika kain yang diberikan berkualitas rendah maka akan di tolak oleh keluarga perempuan. Makanya kain yang menjadi koleksi orang rimba adalah kain yang menurut mereka sangat halus. “Akeh beli dewek kain di pasar, laki akeh belikon akeh hopi ndok, (saya membeli sendiri kain di pasar, suamiku saja membelikan kain aku tidak mau),”kata Induk Meruli.

Dijelaskan oleh antropolog Komunitas Konservasi Indonesia Warsi Robert Aritonang Orang Rimba merupakan kelompok masyarakat yang hingga kini masih membatasi diri mereka dengan masyarakat luar, sehingga adat dan budaya mereka masih dipegang teguh hingga kini. “Itu yang menyebabkan hingga kini semua aspek kehidupan mereka masih seperti yang di wariskan nenek moyang meski sudah banyak perubahan disekitar mereka. Untuk kelompok masyarakat seperti ini, harusnya tetap diakomodir oleh negara dengan memberikan jaminan untuk kelangsungan hidup mereka,”sebut Robert.

Orang Rimba sudah mengumpulkan kain sejak mulai membangun rumah tangga. Berbekal kain yang diserahkan keluarga laki-laki, kerajinan dan ketekunan mereka untuk mencari penghidupan. Semakin rajin mencari, semakin banyak kain yang dikumpulkan dan semakin kaya orang tersebut di mata anggota kelompoknya. Ketika kerusuhan terjadi dan harta berharga itu ikut terpanggang, orang rimba menjadi sangat sedih. “Itu kain untuk bayar denda nikah anak,”kata Induk Meruli lagi.

Dengan anak 6 orang induk Meruli menyebutkan bahwa dia harus menyediakan kain paling tidak 1500 lembar untuk denda adat anaknya kalau menikah nanti. Namun apa daya kini harta itu sudah lenyap berubah menjadi abu.

Tak hanya cemas untuk memulai hidup baru, Orang Rimba sedang cemas akan datangnya kutukan dewa karena sudung yang menjadi rumah mereka sudah di bakar. “Kini sudah ado budak na domom, kamia tokut dewa marah dengan kamia (kini sudah ada anak yang demam, kami takut dewa marah,”kata Melimun.

Dalam adat Orang Rimba, pembakaran atau merusakkan sudung tidak boleh dilakukan karena menyangkut mereka yakin sudung merupakan tempat yang dilindungi dewa. Jangankan di bakar di bacok atau di pukul saja tidak boleh. Kalau ada sudung yang di rusak dan ada anggota kelompok yang sakit maka menurut adat Orang Rimba yang melakukan pengrusakan wajib hukumnya membayar denda adat.

Namun kenyataannya hingga kini, penyelesaian yang ditempuh perusahaan masih belum melibatkan Orang Rimba yang menjadi korban. Sehari pasca kejadian dengan di fasilitasi oleh Polres Sarolangun perdamaian langsung dilakukan. Dalam berita acara perdamaian yang dilakukan terdapat sejumlah poin yang menjadi menjadi keputusan, yaitu 1. PT BKS sepakat menyelesaikan permasalahan melalui perdamaian adat, dan tidak melalui hukum formal. 2. Pihak PT BKS akan melakukan pemberian biaya pengobatan korban senilai 10 juta yang diserahkan kepada Jenang dan mengganti barang yang dibakar berupa satu unit mobil Cary, 5 unit sepeda motor dan 1000 lembar kain serta 500 lembar kain sebagai denda bangun. 3. Setelah kesepakatan di tanda tangani, warga SAD dalam hal ini Orang Rimba dilarang mengambil brondolan sawit perusahaan dan dan membangun pemukiman di areal perkebunan untuk selamanya. Kesepakatan damai ini di tanda tangani oleh sejumlah pihak yaitu Syarifuddin B Noor dari pihak Perusahaan, M Yunus warga Desa Baru Kecamatan Air
Hitam yang mengaku jenang dari empat tumenggung Orang Rimba yaitu Nyenong, Ngirang, Menyurau dan Ngamal.

Namun perdamaian ini di pertanyakan oleh Orang Rimba. Karena mereka selama ini mereka tidak merasa diikutkan dalam perjanjian damai itu. Dari empat tumenggung tidak satupun yang dihadirkan. Mereka mempertanyakan jenang yang disebutkan mewakili orang rimba. “Kami tau dio tetapi kami tidak mengaku jenang dengan dio,”sebut Ngelembo yang juga menjabat sebagai menti di kelompok Orang Rimba Tumenggung Menyurau. Disebutkannya kejadian yang merugikan Orang Rimba itu harusnya diselesaikan dengan melibatkan mereka langsung. ***





Berita terkait:
Comments: