NEWS RELEASE:

Orang Rimba terserang Campak

Kelompok Orang Rimba Terap di Kabupaten Batanghari dan Sepintun di Kabupaten Sarolangun terserang Penyakit campak. Saat ini ada tujuh Orang Rimba dari Kelompok Terap yang sedang di rawat di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi dan 4 orang dari rombong Sepintun yang di rawat di Rumah Sakit Haji Abdul Madjid Batoe Muara Bulian.

“Untuk saat ini, bagi yang kondisinya parah, kami bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut, sedangkan di kelompok asal, kamu upayakan untuk mencegah penularan ke anggota kelompok lainnya, terutama dengan penanganan pasien demam,”kata Yomi Fasilitator Kesehatan Orang Rimba Komunitas Konservasi Indonesia WARSI, Yomi Rivandi.

Untuk yang sedang di rawat di RS Raden Mattaher usianya bervariasi dari empat sampai 41 tahun. Mereka adalah Nembo Bungo (4) dan ibunya Melundang (21), Meringgau (13), Melikau (15) Mentara (14) Menggerau (9) dan Tumenggung Menyurau. “Sejak di rawat Jumat lalu, kondisi mereka sudah mulai membaik, namun Tumenggung yang masih perlu penanganan lebih lanjut karena terindikasi selain campak juga terserang bronkopneunomia (radang paru).

Sedangkan di Terap masih ada 5 pasien yang sudah mulai keluar bintik di kulit dan 20 lainnya mengalami demam. Rusli Efendi fasilitator kesehatan WARSI lainnya, saat ini sedang berusaha untuk mengobati Orang Rimba yang demam dan yang masih belum bisa di evakuasi untuk ke rumah sakit.

Dikatakan Yomi, Orang Rimba merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap campak sehingga bisa menimbulkan komplikasi dengan penyakit lain. “Orang Rimba selama ini belum dapat imunisasi campak, imunisasi wajib yang menjadi program pemerintah. Akibatnya campak yang menyerang Orang Rimba bisa saja menimbulkan komplikasi dengan penyakit lain, bahkan bisa menimbulkan kematian, makanya kita harapkan dinas kesehatan bisa terlibat aktif dalam penanganan campak ke kelompok orang rimba di sejumlah lokasi yang juga terindikasi terkena wabah,’kata Yomi.

Bahkan menurutnya menggambarkan situasi saat ini, serangan campak pada orang Rimba bisa mengarah ke keadaan luar biasa. Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Ketika pasien yang terkena campak batuk, maka cairan batuk yang terhisap oleh orang lain sangat bisa menulari. “Dengan kondisi Orang Rimba yang berkelompok sangat mungkin mereka tertular satu sama lain, untuk itu sangat penting adanya pemisahan yang pengobatan intensif pada kelompok Orang Rimba yang anggota kelompoknya sudah terjangkit,”kata Yomi.

Gejala campak di antaranya demam, mata merah dan sensitif terhadap cahaya, gejala menyerupai pilek seperti sakit tenggorokan, batuk kering dan hidung beringus, kehilangan selera makan, diare bahkan muntah-muntah. Juga bisa muncul, bercak kecil berwarna putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan.

Sesandingon

Orang Rimba Terap yang mengalami wabah campak, saat ini selain menerima pengobatan dari fasilitator kesehatan WARSI secara tradisional juga mulai melakukan penghambatan penyebaran penyakit dengan cara sesandingon atau memisahkan diri dari yang sakit yang diistilahkan dengan cenenggo atau ber-cenengg. Istilah ini secara luas juga bisa diartikan sebagai kelompok yang terserang penyakit. Untuk mengatasinya mereka selalu berhati-hati melakukan kontak dengan siapa saja, baik dengan orang terang maupun dengan orang rimba yang berasal dari kelompok lain ataupun yang baru melakukan kontak dengan orang dusun.

Biasanya cenenggo dan sesandingon dilakukan dengan menempatkan orang-orang yang sakit terpisah dengan yang masih sehat. Namun keluarga inti biasanya masih akan menyertai yang sakit, sehingga kemungkinan tertular masih sangat mungkin terjadi. Dengan melihat ini penanganan dengan cara pengobatan dan pemberian imunisasi masih sangat perlu dilakukan.
***





Berita terkait:
Comments:
  • user image Edy Purwanto [2017-02-17]
    Alamat Kantor WARSI di Jambi di mana ya?