NEWS RELEASE:

Campak Menghantui Orang Rimba

Sudah 47 Orang positif, 26 orang masih di rawat
Hingga hari ini, masih ada 26 Orang Rimba yang menderita demam campak yang di rawat dia jumlah rumah sakit di Provinsi Jambi. Mereka tersebar di Rumah Sakit Haji Abdul Madjid Batoe Muara Bulian sebanyak 17 pasien, di Rumah Sakit Chatib Quswain Saronagun sebanyak 8 pasien dan di Rumah Sakit Raden Mattaher satu pasien. Sejak awal bulan ini, Orang Rimba terus berdatangan ke rumah sakit akibat wabah campak yang menyerang kelompok Orang Rimba Terap dan Sepintun, tercatat total yang sudah 47 pasien.
“Kami masih terus mengupayakan pengobatan dengan mengevakuasi yang sakit ke rumah sakit untuk penanganan yang lebih lanjut, sedangkan yang di dalam jika masih ada yang demam masih terus diupayakan pengobatan dulu, jika tidak ada kemajuan kita upayakan untuk di bawa keluar menuju rumah sakit,”kata Rusli Efendi Fasilitator Kesehatan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI.
Dikatakannya, kondisi Orang Rimba saat ini cukup memprihatinkan sejak serangan wabah campak awal bulan ini. Kondisi cuaca yang juga hujan, menyebabkan untuk akses dan mobilitas Orang Rimba lumayan sulit untuk menuju ke rumah sakit.
“Campak, merupakan penyakit yang menakutkan bagi Orang Rimba karena ini mewabah, bisa menular ke anggota kelompok dengan sangat cepat,”kata Rusli.
Bahkan lanjut Rusli jika tidak ditangani dengan baik, maka bisa berakibat kematian. Untungnya sekarang kesadaran mereka untuk berobat medis sudah lumayan baik, sehingga mau di bawa ke rumah sakit. Hanya saja yang menjadi kendala ala biaya hidup keluarga yang turut mengerti Orang Rimba selama di rawat. “Kalau ada satu anggota keluarga yang sakit biasanya akan ada dua atau tiga orang yang ikut serta, jika di rawat selama satu minggu saja, butuh biaya yang sangat besar untuk mereka selama di luar,”kata Rusli.
Tanggulangi penyakit menular pada Orang Rimba
Antropolog WARSI Robert Aritonang menyebutkan Orang Rimba merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan dengan segala perubahan lingkungan. Dengan pola hidup semi nomadik dan kondisi cuaca serta sumber pasokan pangan yang tidak menentu, menyebabkan Orang Rimba sangat rawan terkena penyakit. Dengan pola hidup berkelompok maka penularan penyakit juga berlangsung sangat cepat. “Inilah yang menyebabkan Orang Rimba bisa sakit dalam jumlah banyak dan memerlukan bantuan medis dari kita semua,”kata Robert.
Menyikapi kondisi ini, menurut Robert yang paling mungkin dilakukan adalah memberikan layanan imunisasi ke seluruh kelompok Orang Rimba secara berkala. Untuk diketahui, tahun lalu Lembaga Molekuler Eijkman melakukan studi pada Orang Rimba terhadap hepatitis dan malaria. Hasilnya kedua penyakit ini sangat tinggi prevalensinya pada orang Rimba, hepatitis mencapai 33,9 persen sedangkan malaria 24 persen.
“Waktu itu karena keterbatasan dana yang diteliti adalah hepatitis dan malaria saja, namun dengan ada muncul kasus campak sekarang, kemungkinan penyakit menular lainnya masih banyak di derita oleh Orang Rimba, untuk itu kita berharap pemerintah mau turun tangan langsung melakukan pengambilan sampel darah pada Orang Rimba untuk menentukan langkah-langkah penanganan yang tepat dan sesuai dengan Orang Rimba,”sebut.
Namun untuk jangka pendek, harapan Robert, imunisasi dasar bisa langsung diberikan kepada Orang Rimba oleh puskesmas terdekat. “Sebenarnya dengan kondisi sekarang yang semakin terbuka, akses pada Orang Rimba sudah semakin dekat, yang paling jauh pun kelompoknya bisa di jangkau dengan berjalan kaki paling lama enam jam, jika ada niat dan itikad baik dari semua pihak, kami yakin penanganan kepada Orang Rimba bisa dilakukan,”pungkasnya.
***





Berita terkait:
Comments: