NEWS RELEASE:

Orang Rimba berharap diimunisasi

Kasus wabah campak yang menyerang Orang Rimba telah menyebabkan pemukiman Orang Rimba di Terap pinggir Taman Nasional Bukit Dua Belas Kecamatan Bathin XXIV Batanghari menjadi lengang. Dari 166 KK yang tinggal di wilayah itu, sudah hampir sepertinyanya keluar hutan untuk mendapatkan perawatan di beberapa rumah sakit. Orang Rimba yang masih tingal di dalam berharap ada bantuan untuk mencegah penularan penyakit yang mewabah di kelompok Orang Rimba.
“Kami kepepeningon, benyok nang sakit, lari keluar rimba (kami pening, banyak yang sakit, lari keluar rimba untuk mencari pengobatan), “ kata Menti Ngelembo salah satu pimpinan Kelompok Orang Rimba Terap.
Dikatakannya, sudah sepertiga orang rimba yang berada di luar rimba untuk berobat, hanya tinggal sekitar 20 KK saja di dalam yang masih belum terkena. “Kami dengar campak nio bisa di cegah dengan imunisasi, kalau urang desa dapot imunisasi, ngapo kami orang rimba hopi dapot imunisasi (kami dengar campak ini bisa dicegah dengan imunisasi, kalau orang desa dapat imunisasi, kenapa kami orang rimba tidak dapat diimunisasi,”sebut Ngelembo.
Diharapkannya pemerintah tergerak untuk mengunjungi dan memberikan imunisasi kepada Orang Rimba lainnya yang belum terkena wabah campak. Penyakit yang mewabah menyebabkan dampak lain kepada anggota kelompok orang rimba yaitu mereka kesulitan untuk mencari bahan pangan.
“Kami sibuk keluar rimba membawa nang sakit, hopi ado waketu mencari, kami kesulitan pemakon (kami sibuk membawa yang sakit keluar rimba untuk berobat ke rumah sakit, tidak punya waktu untuk bekerja dan mencari buruan, kami kesulitan mendapatkan bahan pangan),”sebutnya.
Untuk itu, dia berharap ada penanganan yang dilakukan untuk Orang Rimba, seperti pemberian imuniasasi sehingga tidak lagi mereka disibukkan dengan perkara penyakit yang sangat mudah mewabah. Pun demikian untuk penyakit lainnya yang sangat mudah menimpa orang rimba juga diharapkan bisa ditangani oleh pemerintah.
Menurut Ngelembo membawa Orang Rimba berobat keluar butuh perjuangan berat, apalagi pada musim hujan ini, jalanan penuh dengan lumpur. Mobil sangat sulit masuk ada kalanya terpaksa dilansir terleih dahulu baik dengan berjalan kaki ataupun menggunakan motor. “Kalau dulu kito nang naik kotor musim hujan macam ko bisa motor naik kito, nang sakit makin sakit dengan kondisi mumpa nio (kalau dahulu kita naik motor, kalau sekarang motor yang kita harus dorong dan panggul, sehigga orang yang sakit semakin parah sakitnyo dengan kondisi yang seperti ini,”sebutnya.
Saat ini Orang Rimba di rawat menyebar di tiga rumah sakit yaitu Raden Mattaher di Kota Jambi, Rumah Sakit Haji Abdul Majid Batoe Muara Bulian dan Rumah Sakit Chatib Quswain Sarolangun. Dari catatan WARSI sudah masih ada 26 orang yang di rawat di tiga rumah sakit tersebut.
Menyikapi kondisi nOrang Rimba, selain mengevakuasi penderita ke rumah sakit, Komunitas Konservasi Indonesia WARSI yang selama ini aktif melakukan pendampingan pada Orang Rimba, juga sudah mengkomunikasikan wabah yang dialami orang rimba ke instansi terkait. Salah satunya ke Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Hari. “Kami sudah sampaikan persoalan Orang Rimba ke Dinas Kesehatan, kepala dinasnya menjanjikan untuk membuat posko kesehatan di shelter Terap kerjasama WARSI dan Puskesmas Bathin XXIV untuk mengatasi kondisi darurat wabah pada Orang Rimba, sedangkan untuk jangka panjang dijanjikan akan ditempatkan tenaga medis di shelter sehingga orang Rimba lebih mudah untuk menjangkau layanan kesehatan, kami harapkan janji dinas ini benar-benar bisa direalisasikan, sehingga bisa mengatasi masalah yang dihadapi Orang Rimba,”sebut Ade Chandra Asisiten Program Pemberdayaan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI. ***
***





Berita terkait:
Comments: