NEWS RELEASE:

Produsen Kelapa Sawit terbesar kedua di Indonesia gagal menerapkan kebijakan keberlanjutannya.

LSM menganggap bahwa Astra Agro Lestari terlalu lambat dalam mengimplementasikan kebijakan keberlanjutannya; mereka mempertanyakan intensitas perusahaan tersebut dalam menjalankan seluruh komitmennya.
Astra Agro Lestari, Perusahaan kelapa sawit ke-dua terbesar di Indonesia, telah gagal dalam mengatasi beberapa kesenjangan dalam menerapkan kebijakan keberlanjutan yang telah diidentifikasi oleh beberapa LSM Indonesia dan Internasional pada bulan September lalu. Rainforest Foundation Norway, Mighty, KKI Warsi, Yayasan Merah Putih Palu (YMP), dan SumOfUs mengirim sebuah surat yang mempertanyakan kesigapan mereka dalam mengatasi kesenjangan tersebut dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya. Astra telah melewatkan batas waktu penyampaian informasi tersebut pada tanggal 5 Desember yang sebenarnya telah diminta pada tanggal 26 september lalu. Segera setelah itu, Astra meminta diadakan pertemuan lagi dengan LSM. Selagi menanggapi jawaban tersebut, LSM-LSM yang lain tidak merasa senang.

“kami ingin melihat informasi rinci mengenai perencanaan dan kedisiplinan mereka sesuai batas waktu yang diberikan. Sudah cukup diskusi yang diadakan, sekarang kami menginginkan aksi nyata” kata Anja Lillegraven, kepala Asia and Oceania Department of Rainforest Foundation Norway. Kegagalan Astra ini tidak bisa diterima dan menunjukkan bahwa sekedar kebijakan bagus saja tidaklah cukup.

Kebijakan keberlanjutan Astra diumumkan pada bulan September 2015 lalu, menyusul kampanye yang memuat rilis laporan mengenai deforestasi besar-besaran dan pelanggaran hak asasi manusia didalam konsesi Astra. Kampanye tersebut juga meliputi aksi “grassroot” diseluruh dunia yang ditujukan pada pemimpin Astra, seorang konglomerat kaya Jardines Matheson, dan jaringan hotel mewah mereka, the Mandarin Oriental.

“Usaha Astra untuk menyelesaikan konflik dan mengganti rugi pelanggaran HAM, seperti yang telah dijanjikan dalam kebijakan, masih jauh dari kepuasan,” kata Diki Kurniawan, Direktur KKI WARSI, salah satu LSM Indonesia yang melakukan advokasi terhadap hak-hak Orang Rimba. Anggota Kelompok suku asli Orang Rimba yang tinggal di Provinsi Jambi masih hidup diambang kelaparan pasca kehilangan lahan yang dikonversikan sebagai perkebunan sawit Astra.

“Karena musim kemarau yang sebentar lagi akan datang, kami takut Astra kehilangan system untuk mencegah kebakaran”, kata Fatah Sadaoui, Juru kampanye kelapa sawit, SumOfUs.

“Kami mempertanyakan kesungguhan Astra. Tidak ada detail perencanaan impelmentasi yang ditampilkan, mengindikasikan bahwa Astra tidak mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk kegiatan keberlanjutan mereka”, kata Anja Lillegraven, Kepala Asia and Oceania Department of Rainforest Foundation Norway

“Astra tidak menerbitkan update kwartal dalam implementasi kebijakan keberlanjutan mereka, seperti yang dijanjikan”, kata Amran Tambaru, Direktur Yayasan Merah Putih Palu, LSM Indonesia yang juga melakukan advokasi terhadap hak-hak suku adat.

“Sementara Astra telah mengurangi deforestasi didalam wilayahnya, astra telah gagal menunjukkan bahwa mereka telah cukup menangani pihak pemasok ketiga yang cukup berisiko seperti PT Austindo Nusantara Jaya (PT ANJ) yang baru saja tertangkap sedang melakukan deforestasi dalam jumlah besar di Papua”, Kata Glenn Hurowitz, CEO of Mighty. Kami sangat menyarankan Pemimpin dan para investor Astra untuk benar-benar mempertimbangkan resiko reputasi yang ditunjukkan oleh jaringan kepada mereka.

“Tidak ada lagi waktu penangguhan dan alasan, ini merupakan peringatan terakhir bagi Astra bahwa kami menginginkan aksi nyata.” kata Ibu Lillegraven.


Kontak:
Marisa Bellantonio, Mighty
203-479-2026
marisa@mightyearth.org


Anja Lillegraven, Rainforest Foundation Norway
+47 950 79 791
anja@rainforest.no
***





Berita terkait:
Comments: