NEWS RELEASE:

POHON ASUH

Ketika Artis Ikut Mengasuh Pohon di Hutan Nagari
Matahari bersinar dengan cerahnya ketika Astrid dan rombongan menginjakkan kaki di Nagari Sungai Buluh Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariman. Astrid penyanyi bertubuh mungil yang terkenal dengan singlenya yang berjudul Jadikan Aku yang kedua itu, mempunyai misi khusus menyambangi nagari yang berjarak sekitar 40 menit berkendara dari Bandara Internasional Minangkabau itu.

Astrid sejatinya bersama dengan tim Hutan Itu Indonesia melalui program Musika Forestra melakukan shooting di hutan yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda pada hutan. Hutan Nagari Sungai Buluh terpilih diantara banyak hutan yang akan dikunjungi oleh artis-artis yang ikut berpartisipasi dalam program Musika Forestra yang inisiasi oleh gerakan Hutan itu Indonesia.

Masyarakat Sungai Buluh melakukan penyambutan istimewa pada Astrid dan rombongan. Tari pasambahan dan silat tradisional, ditampilkan ketika para tetamu menjejakkan kaki di Sungai Buluh. Jamuan makan siang istimewa juga disuguhkan dengan aneka masakan Minang yang kaya rempah dan tentu juga pedas.

Usai penyambutan yang luar biasa perjalanan dilanjutkan dengan menuju Hutan Nagari yang berjarak sekitar 2 km dari pusat desa dengan melintasi jalan tanah nan menanjak.

Keringat bercucuran dan napas yang ngos-ngosan membuat tim menjadi irit bicara selama perjalanan. Semuanya fokus untuk mencapai air terjun Sarasah Kuau yang berada di tengah hutan nagari. Menjelang sore, tim tiba di pinggir air terjun yang juga diorasikan lokasi perkemahan tempat tim akan menginap. Lelah yang menyergap tubuh, seolah hilang kala menyeburkan diri ke sungai nan jernih sembari menikmati air terjun.

Sumber air jernih ini, tak lepas dari pengelolaan hutan yang dilakukan masyarakatnya dengan skema hutan nagari.


Sungai Buluh menghadang illegal logging

Sungai Buluah Nagari paling Timur di Kecamatan Batang Anai Padang Pariaman, berintegrasi langsung dengan kawasan hutan lindung di gugus Bukit Barisan. Topografi perbukitan dan kondisi kawasan hutan sangat mempengaruhi sistem kehidupan masyarakatnya. Masyarakat nagari yang terdiri dari 8 korong (jorong) itu memang mengandalkan hidupnya dari pertanian. Namun dalam pengelolaannya mereka menggunakan sistem pertanian berbasis agroforest.

Karet, tanaman buah seperti durian, jengkol petai dan tanaman buah lainnya tumbuh baik di kebun-kebun yang dikelola masyarakat, di kawasan yang berbukit. Kawasan hutan yang berada di bagian hulu, tidak diusik. Hutan di gugus Bukit Barisan ini merupakan daerah tangkapan air 14 anak sungai yang mengalir di Nagari Sungai Buluh, sebelum menyatu ke Batang Anai.

Masyarakat menyadari pengelolaan yang berkelanjutan sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup di masa yang akan datang. Namun sayangnya kawasan hutan di sekitar nagari tak luput dari aksi penjarahan yang dilakukan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Galodo dan banjir menjadi ancaman nyata untuk kehidupan masyarakat, kalau kerusakan hutan terus berlanjut.

Menghentikan illegal logging merupakan keharusan, namun bagaimana melakukannya? Karena masyarakat waktu itu sama sekali tidak punya kewenangan, karena status kawasan yang merupakan hutan lindung sehingga tanggung jawab pengelolaan di pegang Kementrain Kehutanan.

Namun masyarakat tak lelah, peluang untuk mengelola hutan terbuka sejak adanya skema perhutanan sosial yang diluncurkan pemerintah. Masyarakat Sungai Buluah mengambil peluang untuk bisa mengelola hutan. Bagi masyarakat legalitas pengelolaan menjadi penting. Apalagi pelaku pembalakan berasal dari daerah tetangga, sehingga tanpa legal sanding yang tepat peneguran dan pencegahan sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik sosial. Masyarakat Sungai Buluh pun segara mengajukan hak kelola Hutan Desa. Hingga kemudian terbit SK nomor 856/Menhut-II/2013 pada tanggal 2 Desember 2013, tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Nagari kepada masyarakat Nagari Sungai Buluh seluas 1.336 Hektar. Proses fasilitasi pengusulan Hutan Nagari ini difasilitasi oleh KKI WARSI, bekerja sama dengan Pokja PHBM Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, BPDAS Agam Kuantan dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman.

SK ini menjawab kegelisahan masyarakat yang kini memiliki kekuatan hukum untuk mencegah aksi pembalakan di kawasan hutan di lingkup nagari mereka. Tak hanya bencana ekologis yang ditakutkan, namun juga untuk memastikan sumber mata air selalu terjaga. Dari Sungai yang mengalir di Sungai Buluah ini, merupakan sumber air PDAM untuk ribuan masyarakat Padang Pariaman, termasuk kebutuhan air bersih untuk Bandara Internasional Minang Kabau.

Sejak adanya SK nagari melalui kelompok pengelola, membuat aturan pengelolaan yang bisa langsung diimplementasikan. Salah satu hal kongkrit yang telah dilakukan oleh Wali Nagari dan Kelompok Pengelola Hutan Nagari Sungai Buluh adalah penangkapan pelaku illegal logging beserta barang bukti berupa kayu dan chainshaw, yang kemudian diserahkan ke pihak yang berwajib.

Dengan adanya legitimasi hukum ini, masyarakat Nagari Sungai Buluh juga melakukan pengayaan kawasan hutan nagari dengan berbagai jenis tanaman kayu dan buah-buahan yang bermanfaat, melindungi kawasan ikan larangan dan mulai menguatkan kelembagaan pengelola hutan nagari sebagai lembaga perwalian pengelolaan hutan. Terjaganya Hutan Nagari, juga akan sangat berkontribusi besar bagi umat manusia, selain tetap terjaganya fungsi hidrologi bagi pengairan sawah serta sumber PDAM, mengurangi resiko bencana ekologis, juga berkontribusi bagi pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dan lahan.

Di samping juga upaya masyarakat menjaga hutannya ini menjadi bagian penting dari Indonesia untuk menurunkan emisi dari kegiatan pengelolaan hutan melalui pencegahan deforestasi dan degradasi hutan sekaligus mengendalikan pemanasan global.


Mengasuh pohon

Program Pohon asuh di Sumatera Barat sudah diluncurkan sejak tahun lalu. Ada empat Nagari yang memiliki program Pohon Asuh di Sumatera Barat yaitu hutan nagari Sungai Buluh di Pariaman, Hutan Nagari Sirukam dan Simanau di Solok serta hutan nagari Simancuang. Program ini dikelola kelompok pengelola hutan nagari (KPHN) di masing-masing nagari, bersama dengan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI. Program Pohon Asuh merupakan upaya menjaga lingkungan dan mendukung pembangunan masyarakat nagari.

Sejak diluncurkan tahun lalu, sudah banyak pihak yang memberikan donasinya untuk mengasuh pohon di hutan nagari. Tak ketinggalan para pesohor tanah air seperti Dian Sastro, Daniel Manata ikut menjadi pengasuh pohon. Total sudah ada 600 pohon yang diasuh oleh para pihak di lokasi-lokasi hutan nagari, hutan desa dan hutan adat yang sudah dipersiapkan.

Pun demikian dengan Astrid yang berkunjung ke hutan nagari sungai buluh juga langsung tertarik untuk ikut mengasuh pohon. Bahkan Astrid memilih langsung pohon yang akan diasuhnya yang berada di pinggir air terjun Sarasah Kuau. Yaitu jenis pohon Tarok (Arthocarpus walichianus – Moraceae). Astrid memilih mengasuh pohon tersebut berdua dengan Arlan sang suaminya yang turut serta mengunjungi Sungai Buluah.

Ide pengasuhan pohon ini muncul dari keprihatinan akan kelanjutan pengelolaan sumber daya hutan. Masyarakat sudah mengelola hutannya dengan baik, mencegah masuknya pelaku illegal logging pada kawasan hutan. Namun kemudian setelah masyararakat berhasil menjaga hutannya, masyarakat berhak untuk mendapatkan penghargaan atau reward yang sudah mengelola hutannya. Pengasuhan pohon merupakan satu langkah untuk memberikan nilai tambah pada masyarakat atas upaya mereka untuk memelihara hutan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain bahkan yang sangat jauh dengan hutan tersebut.


***





Berita terkait:
Comments: