NEWS RELEASE:

Menelisik bentrok Orang Rimba di Mentawak

Isu itu langsung merebak dan sampai ke telinga Bujang Keriting yang sekarang sudah berusia sekitar 35 tahun. Tentu saja dia tidak terima dengan tudingan itu. Bujang pinggir mengadu ke orang rimba lainnya yaitu kelompok Jang dan tiga tumenggung lainnya. Mereka bermaksud menemui Tumenggung Ngepas untuk mempertanyakan isu yang kadung menyakitkan tersebut. Dalam pertemuan itu kelompok Ngepas berkukuh tidak ada mereka menyebarkan itu itu, bahkan sampai menyebutkan bahwa mereka rela berperang dari pada harus mengaku. Pertemuan itu usai tanpa ada kejelasan.

Untuk berjaga-jaga, Ngepas akhirnya menghubungi kelompok Orang Rimba lainnya yaitu Tumenggung Roni dan Jamal. Kelompok Orang Rimba ini tersebar di Merangin hingga Dharmasraya Sumatera Barat. Awalnya mau membicarakan lagi masalah itu, sehingga bisa tercapai perdamaian antar kelompok. Sementara rombong Jang yang mengetahui ada mobilisasi Orang Rimba lainnya, tersulut emosi. Diikutinya rombong tersebut hingga sampai ke tempat Jon di Mentawak, sehingga terjadilah keributan. Perang batu dan penggunaan senjata tajampun terjadi, terdapat dua korban luka serius dari kejadian ini.

Untuk meredam semakin meluasnya kejadian ini, aparat keamanan juga turun mengamankan lokasi dan Orang Rimba yang bertikai di bawa ke kantor Dinsosdukcapil Merangin. Melibatkan polres dan pihak terkait, di carilah solusi untuk mencegah terulangnya bentrok. Lama berunding dan diambil keputusan untuk bersama semua kelompok, bahwa yang terjadi adalah murni kesalahpahaman dan pihak yang melempar isu juga sudah mengakui kesalahan. Di akhir kesepakatan damai pihak yang menderita luka, pihak yang diserang dan pihak yang dirugikan nama baiknya mendapatkan timbang rasa dari Dinas sosial masing-masing Rp 500.000 .

Selesaikan masalahnya?

Untuk menelusurinya, perlu dilihat silsilah orang rimba yang terlibat pertikaian. Secara garis besarnya di Merangin ada empat rumpun kelompok Orang Rimba. Rumpun kelompok yang pertama adalah Orang Rimba Sungai Rasau yang terdiri dari Orang Rimba Kelompok Jhon di Desa Lantak Seribu, Kelompok Carak di Desa Bukit Bungkul, Kelompok Abraham di Desa Bukit Beringin, dan Kelompok Philip di Desa Sungai Putih. Rumpun Orang Rimba yang kedua berasal dari Sungai Limbur Tembesi yang terdiri dari Kelompok Sikap di Desa Pelakar Jaya, Kelompok Mansur di Desa Pauh Menang, Kelompok Sikap di Desa Pematang Kancil, Kelompok Nungkai di Desa Pelakar Jaya, dan Kelompok Roni di Desa Rejosari. Rumpun kelompok Orang Rimba yang ketiga berasal dari Sungai Tabir yang terdiri dari Kelompok Kitap di Desa Mentawak, Kelompok Sikar di Desa Mentawak (walau desa sama namun berbeda lokasi), Kelompok Tampu dari Desa Sinar Gading. Rumpun kelompok Orang Rimba ke empat berada di Sungai Mengkilam yang terdiri dari Kelompok Sani di Desa Talang Jernih,
Kelompok Ali di Desa Pulau Tebakar, dan Kelompok Karim di Desa Nalo Gedang. Anggota kelompok tersebut juga sering bermigrasi dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain masih masih termasuk dalam satu kelompok rumpun Orang Rimba. Migrasi ini berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi seperti aktivitas berburu di komunitas Orang Rimba.

Setiap anggota rumpun dipimpin oleh ketua kelompok yang biasanya merujuk pada seseorang yang dituakan dan memiliki kecakapan untuk memimpin anggota kelompoknya. Sebagian kelompok Orang Rimba yang sudah tergabung dengan desa, ketua kelompok tersebut mendapat julukan sebagai ketua RT. Namun, pada tahun 2014 pemerintah kabupaten Merangin memberikan gelar pemimpin kelompok tersebut sebagai Tumenggung.

Penyebutan Tumenggung ini mereferensikan Orang Rimba yang masih kuat memegang adat istiadat mereka seperti Orang Rimba di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Namun sejak tahun 1983 Orang Rimba di Kabupaten Merangin tepatnya di Sekitar Jalan Lintas Sumatra sudah mengalami tekanan atas hutan sebagai ruang hidup dan penghidupan mereka. Tekanan atas ruang hidup dan penghidupan lebih dari 32 tahun telah menyebabkan sebagian adat dan nilai-nilai budaya Orang Rimba sulit dapat ditemukan di generasi muda mereka. Bahkan mereka mulai menyebut diri mereka sebagai Suku Anak Dalam (SAD), sebagaimana penamaan yang diberikan pemerintah pada mereka.

Transformasi sosial dan nilai-nilai budaya yang terjadi di Orang Rimba Jalan Lintas Sumatra seperti di Kabupaten Merangin tidak sepenuhnya dapat diterima oleh masyarakat umum. Tekanan yang mereka dapatkan dari hilangnya sumber daya hutan, minimnya pendidikan, minimnya pengetahuan dan keahlian untuk membuat variasi sumber pendapatan ekonomi selain berburu, telah menempatkan kelompok Orang Rimba kelompok kelas bawah dari stratifikasi sosial masyarakat. Sementara arus moderisasi semakin gencar mempengaruhi pola perilaku ekonomi Orang Rimba.

Sebelumnya kelompok-kelompok dalam satu rumpun masih dapat mencukupi kebutuhan ekonomi mereka dari aktivitas berburu di sekitar mereka. Namun semakin menipisnya ketersediaan hewan buruan di sekitar mereka dan semakin bertambah jumlah populasi mereka menyebabkan kelompok ini membutuhkan area yang lebih luas lagi. Permasalahan kurangnya daya dukung hewan buruan juga dirasakan oleh anggota rumpun Orang Rimba yang terdapat di Kabupaten Merangin. Alhasil pertemuan antar rumpun kelompok di lokasi perburuan seperti di wilayah Kabupaten Bungo, Kabupaten Darmasraya dan Kabupaten Tebo semakin meningkat. Interaksi ini berlanjut pada hubungan pertemanan bahkan sampai hubungan perkawinan antar anggota kelompok rumpun. Dalam lima tahun terakhir, fenomena terbentuknya hubungan kekerabatan antar rumpun Orang Rimba telah menyentuh semua kelompok Orang Rimba khususnya di kabupaten Merangin.

Fenomena lain dari meningkatnya hubungan antar rumpun kelompok telah memunculkan tokoh-tokoh muda yang membentuk kelompok-kelompok baru. Tokoh-tokoh muda yang menjadi kelompok baru seperti: kelompok Roni di Kungkai, Kelompok Bujang Dong, Kelompok Jang, dan Kelompok Carak, dan Kelompok Mudo. Misalnya kelompok Bujang Dong yang menetap di Kungkai sebagian anggotanya dari kelompok Sikar dan kelompok Pilip. Kelompok Sikar sendiri juga pecah menjadi Tumenggung Jon dan anggotanya sebagian juga berasal dari kelompok Kitap dan kelompok Tampu. Selanjutnya ada kelompok Bujang Dong, kelompok ini pecah menjadi tiga kelompok Pak Jang di Sungai Ulak, kemudian Bujang Dong di Desa Kuamang Kuning, belakangan bergabung dengan Roni pasca terusir dari Kungkai dan ada juga yang ke Sungai Rumbai Darmasraya Sumbar. Kini di Sungai Ulak itu juga bergabung Bujang Keriting yang yang dulunya berasal dari kelompok Sikar.

Pembauran dan interaksi antar kelompok Orang Rimba di Kabupaten Merangin ini terjalin sangat baik. Adanya kepemilikan hand phone di semua kelompok telah mempermudah mereka untuk berbagi informasi antar kelompok. Dengan kondisi ini, hal-hal kecil yang terjadi di dalam satu kelompok akan sangat mudah tersebar ke kelompok yang lainnya.

Sebagai salah satu contoh misalnya informasi mengenai tuduhan perkosaan yang dialamatkan ke Bujang Keriting oleh salah satu kelompok Orang Rimba, dalam waktu yang sangat cepat langsung sampai ke kelompok Jang dengan Bujang Keriting sebagai anggotanya. Bujang Keriting sebagai orang yang tidak pernah merasa melakukan perbuatan tersebut tidak terima atas tuduhan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Setelah mengetahui asal mula penyebar fitnah tersebut, Jang bersama Bujang Keriting menggalang dukungan dari kelompok Orang Rimba yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan kelompok mereka. Pun demikian, kelompok yang telah menyuarakan informasi tersebut juga telah mengumpulkan masa Orang Rimba yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka.

Ketegangan kedua kelompok yang lebih besar tersebut telah melibatkan hampir seluruh Orang Rimba yang berada di Kabupaten Merangin. Mereka tidak lagi mempertimbangkan kelompok mana yang benar dan kelompok mana yang dirugikan tetapi mereka hanya melihat bahwa kelompok yang tersebut masih keluarga dekat mereka. Alhasil bentrokan antar kedua kelompok besar telah menyebabkan 3 orang menderita luka-luka dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.

Perkelahian antar kelompok besar ini juga pernah terjadi pada tahun 2013 yang disebabkan adanya salah satu anak Orang Rimba menaiki rumah Orang Rimba yang telah di tinggal penghuninya. Namun pemilik rumah berkukuh rumah tersebut masih mereka tempati dan masih terdapat barang-barang berharga di rumah tersebut. Tuduhan pencurian yang dialamatkan kepada anak tersebut kemudian berujung pada denda adat yang mereka konversi dalam sejumlah uang yang bernilai jutaan rupiah. Namun keluarga anak tersebut tidak menerima keputusan sepihak dari pihak yang mempunyai rumah tersebut. Akhirnya, permasalahan yang tidak menemukan solusi tersebut pecah menjadi konflik terbuka. Bentrokan tersebut terjadi di depan kantor Polres Merangin. Kedua kelompok saling baku hantam serta berlarian di sepanjang jalan lintas tengah Sumatera yang melibatkan baik laki-laki maupun perempuan Orang Rimba. Kejadian tersebut sontak menjadi tontonan masyarakat di kota Bangko.

Kasus-kasus sepele dan informasi yang kurang bertanggung jawab sering menjadi penyebab bentrokya kedua kelompok besar Orang Rimba dan kemudian menimbulkan kehebohan dan meresahkan ketertiban umum di masyarakat. Dampak lanjutan dari fenomena ini, persepsi dan sterotip dari masyarakat umum tentang komunitas Orang Rimba semakin kuat, sehingga proses asimilasi dan alkulturasi untuk hidup berdampingan semakin jauh dari yang di harapkan pemerintah.

Adanya pergeseran nilai dan budaya pada Orang Rimba sangat terlihat di Orang Rimba Jalan Lintas Sumatra terutama di Kabupaten Merangin. Faktor hilangnya ruang hidup dan penghidupan mereka telah menyebabkan munculnya nilai-nilai baru yang kurang dapat diterima oleh masyarakat umum. Kesan nilai hukum rimba semakin menguat ketika semua persoalan yang melibatkan mereka diselesaikan dengan pengerahan masa dan dengan konflik terbuka. Tidak jarang pengerahan masa dan konflik terbuka ini terselesaikan dengan didapatkannya denda adat yang sudah mereka konversi dalam bentuk uang yang bernilai jutaan rupiah. Tentunya ini sangat memprihatinkan semua pihak, apabila semua permasalahan dapat terselesaikan dalam bentuk sejumlah uang.

Tentu menjadi pertanyaan apakah ini menjadi cara baru bagi Orang Rimba untuk mendapatkan sumber penghasilan? Bisa jadi trend yang sedang dibangun mengarah ke demikian. Namun tentu saja ini menjadi kondisi yang buruk, dan berpeluang menjadikan orang rimba berada dalam masalah sosial berikutnya.

Untuk ini perlu dicarikan solusi dan penyelesaian yang menyentuh langsung ke inti persoalan Orang Rimba. Jika dilihat sangat dinamisnya Orang Rimba di Merangin, disebabkan karena sumber daya yang menjadi sumber penghidupan juga sudah sangat jauh berkurang. Kehadiran perkebunan sawit, hutan tanaman dan transmigrasi di lokasi-lokasi Humber penghidupan Orang Rimba telah menempatkan Orang Rimba dalam posisi yang kehilangan sumber daya. Hidup terlunta dan bisa berada di mana saja, dan bisa kapan saja kembali ke tanah yang memang punya ikatan kuat dengan masing-masing kelompok. Pola hidup yang demikian menempatkan orang rimba berada dalam kemarginalan dan semakin dianggap sebagai masalah sosial.

Dampak buruk lanjutan dari kemarginalan orang rimba yaitu memudarnya tatanan sosial, norma, dan lembaga yang melindunginya. Ini bisa disamakan dengan chaos, karena pegangan nilai atau norma bersama hilang atau tidak berfungsi.

Misalnya untuk kasus tuduhan perkosaan sebenarnya itu sangat mustahil bisa terjadi. Jaman dulu, jangankan pemerkosaan memegang barang-barang yang berlainan jenis sudah digolongkan tarik rento, atau setara pemerkosaan. Jika pemerkosaan termasuk kategori berat seperti menikam bumi (inses), melebung delom (ibu dengan anak laki-lakinya) maka hukumannya nyawa,atau setara nyawa.

Jadi kasus pemerkosaan ini hanyalah salah satu simbol dari kehancuran keseluruhan tatanan kehidupan Orang Rimba. Di sisi lain orang rimba karena kemarginalan atau nasib buruknya tidak punya kekuatan untuk membangun nilai atau norma, kelembagaan dalam beradaptasi ke kehidupan dalam dunia yang mereka hadapi saat ini. Pun demikian dengan kasus-kasus tuduhan lain, sangat jarang dijumpai pada Orang Rimba dahulu. Namun kini dengan adanya banyak tuduhan dan kemudian menjadi trend baru dalam pola kehidupan Orang Rimba harusnya menjadi perhatian para pihak.

Fungsi negara/pemerintah itu dalam penangan spesifik masalah Orang Romba, tidak memadai. Dalam hal kasus Orang Rimba di Merangin, semua kelompok ini pada dasarnya pernah mendapat sentuhan dari Kementrian Sosial. Setiap kelompok pernah mendapatkan bantuan perumahan sosial. Hanya saja kenapa kemudian upaya perumahan ini tidak memberikan solusi pada Orang Rimba. Karena penanganan yang dilakukan sifanya hanya dirumahkan saja. Sangat berbeda perlakukannya dengan transmigrasi yang ada di sekitar mereka.

Dalam transmigrasi sudah dipastikan ada lahan usaha yang diberikan selain perumahan dan pekarangan. Plus bantuan untuk hidup selama satu tahun pertama. Bagaimana dengan Orang Rimba? Perumahan yang dibangun hanya rumah saja, bahkan di banyak tempat tanpa memiliki pekarangan yang memadai. Lahan usaha tidak ada. Persamaannya hanya pada jatah hidup yang diberikan. Maka jangan heran ketika jatah hidup habis banyak perumahan sosial ditinggalkan begitu saja.

Berkaca dari sini, maka pemerintah harus sampai pada tingkat memfasilitasi adaptasi yang memungkinkan berfungsinya sistem sosial orang rimba menghadapi kondisi dunia sekeliling mereka. Bagi orang rimba di yang hidup tanpa hutan, harus diadaptasikan dengan pembangunan terpadu yang memadai dan berjangka panjang, setidaknya untuk dua generasi. Untuk melakukan ini dibutuhkan totalitas peran negara. WARSI sudah membuat percontohan pengelolaan pembangunan terpadu untuk Orang Rimba di Sepintun Sarolangun. Dalam lima tahun berjalan dengan baik, penanganan pada masalah mendasar Orang Rimba berjalalan dengan tepat. Dan yang paling penting pembangunan terpadu ini mendapat dukungan kuat dari Orang Rimba. Namun tentu WARSI tidak akan mampu menjangkau semua kelompok Orang Rimba, untuk itu perlu adanya peran serta negara dalam hal ini pemerintah.

Sedangkan untuk jangka pendeknya guna menangkal persoalan serupa muncul adalah perlunya di bangun komunikasi intensif dengan masing-masing kelompok Orang Rimba dan kemudian mendorong mereka membentuk forum silaturahmi yang akan menjadi ajang untuk membicarakan semua persoalan Orang Rimba. Forum ini perlu untuk menghidupkan kembali norma yang berlaku umum di Orang Rimba, sekaligus mengembalikan norma dan nilai adat yang berlaku di mereka. (Sukmareni/Kristiawan)***
***





Berita terkait:
Comments: