NEWS RELEASE:

Budi Pencuri menjadi TNI

“Bu Agui,” ujar Budi ketika dia mengenang kembali masa-masa dia pertama kali mengenal huruf dan angka di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas. Kala itu, Budi masih mengiakan nama rimbanya, nama yang diberikan oleh Dukun yang menyambut kehadirannya di Asohon, jauh di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Agui adalah Agustina Siahaan, fasilitator pendidikan KKI WARSI yang mengajar anak rimba. Kala itu, Budi masih menjadi murid yang ikut-ikutan saja dengan kakaknya Beralun yang menjadi murid Xena panggilan akrab Bu Agui di kalangan staf WARSI.

Sama seperti anak rimba lainnya, dalam mengecap pendidikan tidaklah langsung ke sekolah publik. Namun mereka belajar membaca, menulis dan berhitung dengan fasilitator pendidikan WARSI yang datang ke kelompok-kelompok Orang Rimba. Pelajaran bisa berlangsung dimana saja, di bawah pohon, di pinggir sungai, siang ataupun malam. Tidak ada waktu dan lokasi khusus yang siapkan, semua berjalan sesuai dengan kesepakatan bersama, murid, guru dan orang tuanya. Kalau ada anak-anak yang harus ikut membantu orang tuanya, mereka akan rehat dulu sekolah, pada waktu berikutnya mereka akan ikut belajar lagi. Atau kala ada kematian yang menimpa anggota kelompok, semua orang rimba dalam kelompok itu melangun. Melangun merupakan ritual yang dilakukan Orang Rimba untuk menghilangkan kesedihannya akibat ditinggal mati anggota kelompoknya. Ketika melangun Orang Rimba akan pindah ke tempat baru dan membangun pemukiman sementara berupa pondok-pondok terpal.

Lamanya melangun tergantung dengan kesedihan yang dirasakan, semakin banyak kenangan dengan yang meninggal, maka masa melangun akan semakin lama. Kala melangun, guru yang ada di kelompok itu juga ikut melangun. Melanjutkan pembelajaran di tempat baru. Tidak hanya kematian, namun juga ketika musim panen tertentu guru juga harus ikut muridnya. Misalnya kala panen madu tiba. Biasanya menjelang panen, Orang Rimba akan membuat pemukiman sementara di sekitar pohon madu. Cukup panjang proses memanen madu, karena untuk naik ke pohon dan mengambil madu dibutuhkan patok-patok pada pohon sialang dan kemudian Dengan pola seperti ini, pendidikan yang dijalankan tidak memasang target pesta didik untuk jenjang studi yang yang dijalankan.

Namun ada kalanya, ada anak-anak rimba yang cepat dalam penerimaan pelajaran dan juga rajin dalam mengikuti setiap materi yang diajarkan. Untuk anak-anak rimba yang seperti ini WARSI sudah menjembatani mereka untuk menempuh jenjang pendidikan formal. Salah satunya, adalah Budi. Dari awalnya hanya ikut-ikut sekolah, namun Budi menunjukkan ketertarikannya pada materi-materi baru yang diajarkan padanya. Pada guru WARSI yang datang ke kelompoknya atau hanya kader yang mengajar Budi tetap tekun belajar. Kader merupakan anak rimba yang dianggap memiliki kemampuan lebih untuk mengajar pada anak-anak rimba lainnya.

Dengan staf yang terbatas dan luasnya sebaran orang rimba, mau tidak mau guru yang datang ke kelompok terpaksa digilir dan selanjutnya dilanjutkan kader yang berasal dari kelompok terdekat. Budi pun belajar dengan cara ini, setelah ikut-ikutan belajar dengan Agustina, dilanjutkan dengan kader Begenje, yang belakangan menjadi kakak iparnya, memberikan pendidikan. Selanjutnya Budi belajar dengan beberapa fasilitator WARSI ada Feri, Ninuk dan Galih. Budi belajar intensif kala gurunya Prio Uji Sukmawan. Namun sayang Bapak Ebun begitu anak-anak rimba memanggil gurunya Prio, harus terpisah selamanya dengan guru yang jago matematika itu. Sang Pencipta memanggil Prio pulang ke haribaannya, setelah berjuang melawan malaria dan bronkopneumonia yang menyerang tubuhnya. Budi dan para murid-murid Prio bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan.

Di Andi Karlina, Shasa, Maknun, Budi melanjutkan pendidikannya. Di sela masa pendidikan ini ada kalanya Budi juga tinggal bersama warga desa. Budi memiliki beberapa bapak angkat di kampung sekitar hutan. Untuk menjembatani pendidikannya, Budi dimasukkan ke sekolah SD Pematang Kabau, sekolah yang memiliki program untuk anak rimba dengan metode kelas jauh. Jadi anak-anak didiknya terutama anak rimba tidak sekolah setiap hari. Hanya beberapa haridalam sepekan, selebihnya mereka belajar di kantor lapangan WARSI atau di dalam rimba dengan fasilitator pendidikan WARSI. Dengan pendidikan ini tahun 2013 lalu, Budi bersama dengan enam temannya, Besiar, Perbal, Sekolah, Bejunjung, Besigar, dan Meranggai berhasil menamatkan mengikuti ujian penyetaraan di SDN 191, Pematang Kabau II, Kecamatan Sarolangun. Dengan nilai rata-rata 7 anak rimba ini diberi ijazah SD dan melanjutkan pendidikan ke SMPN 12 Satu Atap Sarolangun. Sama seperti di SD, di SMP inipun, sekolah yang mereka tempuh tidaklah full time seperti sekolah pada umumnya, mereka hanya sekolah dua minggu dalam sebulan.

Kala sekolah SMP anak-anak rimba ini juga menjadi kader bagi anak-anak rimba lainnya. Kader merupakan guru dari anak rimba yang sudah memiliki kemampuan untuk memberikan pendidikan ke adik-adiknya yang masih berada di rimba. Selama sekolah di SMP, Budi tinggal di kantor lapangan WARSI di Bukit Suban. Untuk meningkatkan kapasitas mereka, dalam beberapa kesempatan WARSI mengajak anak rimba melihat proses belajar di Sejumlah SMP termasuk di SMP 7 Kota Jambi. Juga mengajak mereka untuk mengikuti sejumlah perlombaan, tujuannya untuk meningkatkan kemampuan dan keberanian anak-anak rimba tampil di muka umum. Tahun 2016 Budi lulus SMP, setelah itu lanjut mengikuti SMK di Bangko, berjalan setahun.

Selanjutnya dengan dukungan TNI, terkhusus Bapak Husni Tamrin Babinsa Desa Bukit Suban, kini Budi sudah tercatat sebagai anggota TNI Yonif 142 Kesatria Jaya. Dengan masuknya Budi sebagai anggota TNI semoga menjadi penyemangat bagi anak-anak rimba lainnya untuk meraih pendidikan. Tidak ada yang tidak mungkin selama tetap berusaha dan berupaya untuk menggapai apa yang menjadi cita-citanya. ***







Berita terkait:
Comments: