NEWS RELEASE:

Wujudkan Orang Rimba Cerdas dan Sehat

Cerdas dan sehat adalah harapan semua orang. Termasuk komunitas Orang Rimba. Perubahan yang drastis pada kawasan hutan yang menjadi tempat hidup mereka, telah menjadikan Orang Rimba marginal. Keseriusan dan dukungan semua pihak untuk mendukung Orang Rimba bisa setara dengan kelompok masyarakat lainnya sangat dibutuhkan. Secara umum, ruang hidup dan penghidupan Orang Rimba terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama, yaitu Orang Rimba yang tinggal di hutan dan masih memiliki sumberdaya untuk mendukung kehidupan mereka. Kelompok ini berada di kawasan TNBD. Kategori kedua, merupakan Orang Rimba yang berada di sekitar perkebunan dan minim akan sumberdaya mereka. Kelompok ini banyak ditemukan di sebagian Orang Rimba Jalan Lintas Sumatera dan Selatan TNBT. Kategori ketiga, merupakan kelompok Orang Rimba yang sudah menetap dan terintegrasi dengan desa. Sebagian dari mereka masih memiliki sumberdaya dan sebagian lagi tidak memiliki sumberdaya. Kelompok ini banyak tersebar di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, Sarolangun-Bungo. Kelompok kedua dan ketiga menghadapi persoalan yang serius untuk pemenuhan kebutuhan ruang hidup dan penghidupannya. Sedangkan pada kelompok ketiga, meskipun sudah terintegrasi ke desa terdekat namun akses layanan jangka pendek seperti kebutuhan administrasi kependudukan, kebutuhan layanan pendidikan dan kebutuhan layanan kesehatan masih sulit untuk mereka jangkau. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan cara pandang dan penanganan pada komunitas ini. Untuk itulah advokasi dilakukan supaya Orang Rimba dengan latar belakang dan kondisi yang sudah mereka jalani bisa masuk ke dalam sistem negara dan keberadaan mereka diakui.

Dari advokasi yang dilakukan sudah didapatkan sejumlah dukungan untuk Orang Rimba, di antaranya pemerintah mulai menempatkan guru-guru bantu di beberapa kelompok. Dari advokasi yang dilakukan, terdapat perkembangan yang cukup baik. Pemerintah kabupaten sedang gencar memberikan perhatian dalam bidang administrasi kependudukan, akses layanan pendidikan dan layanan kesehatan khususnya bagi Orang Rimba yang berada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera. Pemerintah kabupaten sudah membuat terobosan dengan menyediakan guru khusus yang mengajar di lokasi pemukiman Orang Rimba. Guru khusus Orang Rimba tersebut telah meningkatkan minat anak usia sekolah dan orangtua di kelompok Orang Rimba dalam mengakses pendidikan formal yang tersedia di sekeliling mereka. Minat anak usia sekolah untuk mengakses pendidikan formal dapat dilihat dari 134 anak yang telah menempuh pendidikan di sekolah formal. Pembangunan dalam bidang pendidikan dan kesehatan merupakan bagian dari usaha untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembangunan nasional. Adapun tujuan pembangunan nasional seperti tertuang dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa, dan seluruh tumpah darah Indonesia, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Orang Rimba merupakan salah satu komunitas adat minoritas yang sumber penghidupannya mengandalkan aktivitas berburu dan meramu hasil -hasil hutan. Namun seiring dengan semakin berkurangnya ruang jelajah mereka, memaksa Orang Rimba untuk melakukan adaptasi atas perubahan yang terjadi. Adaptasi yang dilakukan Orang Rimba di antaranya dengan mulai mengikutkan anak-anak mereka dalam pendidikan formal maupun informal. Dengan kata lain, sudah mulai terbentuk kesadaran bahwa mereka bisa menjadi lebih baik dan memiliki posisi sejajar dengan komunitas lain dengan cara mengikuti pendidikan, serta mulai melakukan adaptasi untuk menjadi lebih sehat dan bersih. Dalam bidang pelayanan kesehatan, pemerintah kabupaten telah menugaskan puskesmas untuk melakukan kunjungan dan pengobatan rutin ke lokasi Orang Rimba Jalan Lintas Sumatera. Adanya kunjungan tersebut telah mengurangi angka kesakitan di lokasi komunitas serta meningkatkan pengetahuan Orang Rimba untuk menjaga kesehatan mereka. Selain itu, adanya program jaminan asuransi kesehatan dari pemerintah kabupaten telah meningkatkan peluang Orang Rimba untuk mengakses kebutuhan layanan rujukan Orang Rimba di puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Adanya program pembangunan dalam bidang pendidikan dan kesehatan yang diberikan pemerintah daerah ke Orang Rimba Jalan Lintas Sumatera masih membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Untuk menumbuhkan dukungan dan peran semua pihak, WARSI bekerjasama dengan instansi terkait dan para guru-guru yang sudah mendedikasikan dirinya pada Orang Rimba menggelar rangkaian acara yang dikemas dalam Jambore Orang Rimba Lintas dengan tema “Membangun Budaya Cerdas dan Sehat Bagi Orang Rimba Jalan Lintas Sumatera”.

Dengan kegiatan ini harapannya dapat meningkatkan partisipasi para pihak untuk akses layanan pendidikan dan kesehatan di Orang Rimba Jalan Lintas Sumatera. Para guru anak rimba jalan lintas Sumatera dari Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin antusias mengikuti workhsop parapihak yang berlangsung di kantor Dinas Sosial Kabupaten Merangin. Selain guru hadir juga siswa Orang Rimba Lintas dan perwakilan mahasiswa. Kegiatan ini juga melibatkan Kasi SAD Sarolangun, dinas pendidikan Merangin, Dinas Sosial, WARSI, dan TNI/Polri. Wakil direktur KKI WARSI Adi Junedi mengatakan, jambore orang rimba ini digelar selama tiga hari dengan berbagai kegiatan dimulai dengan perlombaan anak-anak rimba di hari pertama, lomba guru Orang Rimba dari Kabupaten sarolangun dan Merangin di hari kedua, kemudian ditutup dengan workshop para pihak dan pameran foto di hari ketiga. Menurut dia, NGO memiliki keterbatasan sumber daya dalam memberdayakan Orang Rimba. Untuk itu, perlu dipikirkan bagaimana membuat program yang bisa dilanjutkan oleh pihak pemerintah.

Orang Rimba dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Pertama yang masih hidup di dalam hutan, kedua yang hidup di lintas Sumatera dan selatan Bukit Tigapuluh dengan kondisi sudah kehilangan hutan, yang hidup di perkebunan-perkebunan sawit, dan orang rimba yang sudah menetap dan terintegrasi dengan desa. Bagi yang sudah kehilangan hutan dan hidup di perkebunan banyak memicu terjadinya konflik pemanfaatan lahan. Sejauh ini, Kabupaten Sarolangun dan Merangin sudah memberikan dukungan dan kepedulian terhadap pemberdayaan Orang Rimba. Misalnya dengan mengalokasikan dana untuk merekrut guru bagi anak rimba. Untuk di bidang kesehatan juga sudah diminta memberikan layanan, dengan adanya kesempatan bagi Orang Rimba mengakses layanan kesehatan secara gratis. Dengan diskusi dalam workshop yang digelar merupakan langkah berikutnya untuk membangun sinergisitas para pihak dalam membangun kemandirian Orang Rimba. Tujuan para pihak bekerjasama untuk memberdayakan Orang Rimba. Sinergisitas ini diperlukan untuk membangun keharmonisan dalam memberdayakan Orang Rimba. Kusminarni, S.Pd. Penilik Sekolah Dinas Pendidikan Merangin mengatakan, pihaknya sudah memberikan kendaraan roda 2 dan memberikan insentif kepada guru yang ditugaskan mengajar anak rimba. Insentifnya tak penuh ke atas penuh ke bawah, hanya 750 ribu. Namun tenaga pendidik masih banyak mengalami hambatan. Pertama tentang peserta didik dan kedua tentang tenaga pendidik. Kami mohon tenaga pendidik cukup sabar dengan keadaan ini," ujarnya. Menurutnya, Dinas Pendidikan Merangin ke depan akan memperhatikan pendidikan Orang Rimba karena mereka juga warga negara dan berhak mendapatkan pendidikan. Kasi Bina Pendidikan SAD Sarolangun Jamaris mengatakan, pihaknya sangat mendukung pemberdayaan Orang Rimba di wilayah mereka. Terutama terkait pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi mereka. Untuk pendidikan, pihaknya telah menugaskan sebanyak 10 orang guru honorer yang mengajar anak rimba. "Guru-guru ini khusus menangani pendidikan anak Rimba di Kabupaten Sarolangun. Saat ini untuk setingkat SD saja sudah ada sekitar 350 orang," ujarnya.

Para guru ini tersebar di kecamatan Limun, Kecamatan Cermin Nan Gedang (CNG), Kecamatan Air Hitam, Kecamatan Batin VIII, dan Kecamatan Pauh. Dan untuk meningkatkan layanan pendidikan bagi mereka, ke depan diharapkan kepada semua pihak terkait agar membuat kurikulum khusus yang bisa menjadi acuan bagi guru-guru. "Ke depan pendidikan seharusnya ada kurikulum yang bisa dijadikan pedoman agar bisa lebih baik lagi," ujarnya. (Kristiawan/Hermayulis).







Berita terkait:
Comments: