NEWS RELEASE:

Mendorong Tanjabtim Menjadi Kabupaten Ramah Gambut

Komunitas Konservasi Indonesia WARSI terus mendorong untuk terlaksananya pengelolaan gambut berkelanjutan. Tanjung Jabung Timur sebagai kabupaten dengan luas lahan gambut mencapai sekitar 65 % atau  3.120 km2  dari luasnya merupakan gambut, menjadi fokus WARSI dalam berkegiatan di gambut, dengan mendorongnya menjadi kabupaten ramah gambut.

WARSI telah berkegiatan di wilayah ini, dengan melakukan rehabilitasi lahan gambut di antaranya dengan melakukan penanaman kembali lahan gambut dengan tanaman gambut. Selain itu juga ada upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat gambut dengan mengembangkan pertanian ramah gambut, yaitu menanam tanaman yang bisa beradaptasi dengan lahan gambut seperti kopi liberika, lada, pinang, nanas dan tanaman lainnya yang tidak memerlukan adanya penurunan muka air gambut. Kegiatan lain yang dilakukan adalah menjaminkan air muka gambut tetap dalam kondisi basah. Untuk pembahasan ini WARSI mendukung masyarakat Desa Sungai Beras untuk membangun sekat kenal yang berada di Hutan Lindung Sungai Buluh yang sebagian kawasan hutan ini berstatus Hutan Desa Sungai Beras. Juga dilakukan kegiatan untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat pada lahan gambut dengan mendukung kelompok masyarakat peduli. Kegiatan yang dilakukan WARSI di lahan gambut ini sejalan dengan upaya untuk memulihkan gambut.

Pasca kebakaran hebat di kawasan gambut pada 2015 lalu, para pihak yang berkegiatan di lahan gambut sebagian besar sudah memiliki komitmen untuk mencegah terulangnya kembali kejadian yang menyengsarakan tersebut. Pemerintah Tanjung Jabung Timur sudah membuat perencanaan untuk pengelolaan gambut.  Diantaranya akan memasukkan pengelolaan gambut berkelanjutan dalam RPJMD kabupaten dengan kegiatan revitalisasi ekonomi masyarakat dengan dukungan Badan Restorasi Gambut, khususnya di desa Jati Mulyo pada areal seluas 230 Ha yang akan dikelola menjadi areal budi daya kopi liberika.

Kegiatan ini masih terkendali karena peta. Dalam peta hidrologi gambut lokasi sentra Kopi Liberika di Jati Mulyo terkategori gambut dengan fungsi lindung dengan kedalaman lebih dari 3 m. Namun di lapangan kedalaman gambutnya sudah kurang dari 3 m dan merupakan wilayah APL, sehingga wilayahnya sangat cocok untuk dikembangkan budi daya kopi oleh masyarakat. Untuk mengatasi persoalan ini, sudah dilakukan ground check oleh Bappeda dan Dinas PUPR dan Tata Ruang untuk diajukan ke BRG dan KLHK supaya peta KHG dapat direvisi.

Komitmen untuk mengelola gambut berkelanjutan dan juga mencari solusi untuk kegiatan gambut yang ramah dan mendukung masyarakat disekitarnya mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Menyigi Kontribusi Kabupaten Tanjung Jabung Timur dalam Implementasi Pengelolaan Gambut Berkelanjutan yang diselenggarakan WARSI di Bappeda Tanjung Jabung Timur (14/5) lalu.

Dalam kegiatan yang dibuka Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur Robby Nahliyansyah menyebutkan pemerintah Tanjabtim menyambut positif inisiatif WARSI dan para pihak dalam pengelolaan gambut. Menurut Robby pengelolaan gambut berkelanjutan ini, sejalan dengan visi pemerintah Tanjabtim yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat yang disingkat dengan Merakyat. Visi ini tuangkan dalam misi yang pada poin pertamanya menempatkan meningkatkan pembangunan infrastruktur daerah yang berkualitas dan berwawasan lingkungan.

Dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan berwawasan lingkungan ini,  pemkab akan fokus pada pemulihan gambut dengan program tanaman ramah gambut seperti kopi liberika yang sudah di tanam masyarakat di daerah penyangga hutan lindung Londrang yang pada musim kemarau 2015 lalu mengalami kebakaran hebat. Pemkab juga berkomitmen tidak ada lagi perizinan sawit di lahan gambut karena sawit membutuhkan kanal yang sangat berpotensi menyebabkan gambut kehilangan air dan kemudian sangat rawan terbakar.

Untuk memudahkan pengelolaan gambut dan menjalin kerja sama yang saling mendukung untuk pemulihan gambut, ke depan di kabupaten ini akan dibuat format bank datanya dan akan dibuat berupa database di Bappeda Tanjabtim yang akan menghimpun data restorasi gambut dari para pihak Pemprov, Pemkab, NGO, perusahaan dan masyarakat. Selanjutnya dari data yang tersedia ini akan disusun indikator-indikator Kabupaten Ramah Gambut. Harapannya gambut Tanjung Jabung timur dapat di kelola dengan lestari, memberi kontribusi untuk masyarakatnya dan alam lingkungannya tetap lestari. ***







Berita terkait:
Comments: