NEWS RELEASE:

Siaga Bencana pada Suku Adat Marginal

Kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap di kelompokkan suku adat marginal (SAM) sebagai bencana yang paling menakutkan dan mempengaruhi hidup mereka. Berada di dalam hutan namun kondisi gelap di siang hari karena tebalnya kabut asap merupakan kejadian yang menakutkan. Tak hanya itu, bencana ini datang penyakit juga banyak menyerang komunitas ini.  Persoalan ini mengemuka dalam kegiatan Pelatihan Penanggulangan Resiko Bencana Bagi Komunitas Masyarakat Adat yang digelar Komunitas Konservasi Indonesia WARSI dan PT Restorasi Ekosistem Indonesia yang berlangsung 30-31 Mei 2018.

Dengan melibatkan masyarakat adat dari Suku Orang Rimba, Talang Mamak dan Batin Sembilan diharapkan pengetahuan kebencanaan suku-suku yang tinggal di pedalaman ini meningkat dan paham dengan penanggulangan penanganan  bencana. “Dengan pelatihan ini kita harapkan masyarakat mampu mengidentifikasi potensi bencana di sekitar mereka dan membangun sikap kesiapsiagaan menghadapi bencana bagi komunitas adat,”kata Kristiawan Koordinator Suku-Suku Komunitas Konservasi Indonesia WARSI.

Dikatakannya, masyarakat adat selama ini merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan dengan bencana yang mungkin datang ke mereka. Di sisi lain, kelompok ini juga masih belum terlalu siap dengan dampak yang ditimbulkan. “Akibatnya masyarakat adat menjadi semakin sulit untuk mengatasi dampak bencana yang timbul,”kata Kris.

Selain itu, Kerentanan masyarakat adat ini juga disebabkan rendahnya kemampuan sosial dan lingkungan dalam menghadapi dampak bencana alam yang mungkin akan mereka hadapi. Dengan pelatihan yang dilakukan ini, setelah teridentifikasi potensi bencana masyarakat juga bisa membangun sistem sederhana peringatan dini bencana di setiap lokasi. Untuk langkah yang paling mungkin dilakukan suku adat marginal ini diantaranya dengan pengorganisasian komunitas, kerjasama dengan stakeholder lain seperti dinas kesehatan, BPBD, dinas sosial, PMI dan lembaga swadaya masyarakat.

Dikatakan Kristiawan pengurangan resiko bencana untuk siku adat marginal merupakan masalah yang cukup rumit, dibutuhkan kerja sama berbagai pihak dan harus di tangani secara komprehensif. “Misalnya saja ketika terjadi kabut asap, biasanya disertai dengan beragam penyakit saliran pernafasan, diare dan bahkan kekurangan pangan. Jika kondisi ini jua tidak tertangani dengan baik bisa menimbulkan masalah lebih besar bagi suku adat marginal bahkan hingga kematian,”sebut Kristiawan.

Untuk itu menurutnya perlu dalam pelaksanaannya komitmen politik dan hukum, serta dilakukan secara terintegrasi dengan kebijakan dan perencanaan pembangunan keselluruhan. Di samping itu perlu ada sinergi antara pemerintah dan para pemimpin komunitas untuk secara bersungguh-sungguh dan terus menerus mengkampanyekan aksi-aksi pengurangan resiko bencana. ***







Berita terkait:
Comments: