NEWS RELEASE:

Jadikan Ramadhan Momentum Perubahan Prilaku Ramah Lingkungan

Allah menciptakan alam semesta dan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ada tanggung jawab yang sangat besar bagi manusia dalam memanfaatkan dan mengelola alam dan lingkungan. Dalam Al Quran Allah menegaskan dalam Surat Al Qoshash ayat 77,Surat Arrum ayat 41 dan 42 juga dalam Surat Al A’raf ayat 56,56 dan 58, dijelaskan bumi merupakan rumah bagi semua makhluk,namun kemudian ada tangan-tangan yang   jawab yang merusaknya, akibat keserakahan  manusia, yang menimbulkan kerusakan di laut dan  di darat.  

Demikian disampaikan  ustadz  Dairun, SAg, M.Pd.I dalam acara buka puasa bersama yang diselenggarakan KKI WARSI Kamis 7 Juni 2018.   Melihat pada kondisi hari ini kerusakan di muka bumi memang telah tampak, hutan yang tadinya hijau telah berubah menjadi perkebunan bahkan  tidak sedikit yang  menjadi  lahan kritis. Dengan momentum Ramadhan, yang hakekatnya adalah pengendalian diri, seharusnya umat manusia juga bisa mengendalikan hawa  nafsunya termasuk nafsu merusak lingkungan.     JIka merujuk pada hasil analisis yang dilakukan WARSI, dengan mengambil satu contoh saja kerusakan yang dilakukan manusia diantaranya kehilangan hutan dalam angka  yang sangat massif. Dari analisis citra satelit, diketahui bahwa tutupan hutan Jambi bisa dikategorikan dalam kondisi darurat.  

Tutupan hutan di Provinsi Jambi 2017 tinggal 930 ribu ha, atau hanya 18 persen dari luas  daratan Jambi. “Tutupan hutan yang tinggal saat ini hanyalah kawasan konservasi. Itu pun di beberapa tempat kawasan konservasi seperti taman nasional juga tak luput dari deforestasi akibat desakan manusia,”kata Direktur KKI WARSI Rudi Syaf.  

Dikatakannya, saat ini relatif sulit menemukan kawasan yang tidak mengalami kerusakan, Taman Nasional Kerinci Seblat yang berada di Kerinci dan Merangin, mengalami penyusutan hutan karena semakin banyak perambahan yang masuk ke dalam kawasan.

Perambahan yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional hingga kini masih belum mampu memberikan solusi yang memadai baik untuk pelindungan kawasan maupun solusi untuk para perambah. Jika kondisi ini terus terabaikan maka persoalan kehilangan hutan dengan segala dampaknya akan terus menghantui daerah ini, berupa  bencana ekologis, banjir longsor hingga konflik satwa dan konflik sosial.  “Padahal menurut aturan untuk terciptanya  keseimbangan ekosistem dan memenuhi daya dukung lingkungan, hutan paling sedikit adalah 30 persen dari luas wilayah, sebagaimana diatur dalam UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang,”kata Rudi.  

Untuk itu lanjut Rudi momentum Ramadhan yang dijalani diharapkan mampu mempengaruhi prilaku untuk menjadi lebih ramah lingkungan. “Himbauan ini kita sampaikan baik untuk diri sendiri, maupun para stakeholder yang memegang peranan penting dalam pemanfaatan sumber daya dalam hal ini pemerintahan,”kata Rudi.  

Rudi juga menyebutkan selain upaya untuk mengendalikan kerusakan lingkungan, selanjutnya yang juga dilakukan adalah memperbanyak bersyukur dengan sumber daya yang sudah dimiliki. Salah satu bentuk rasa syukur ditunjukkan oleh masyarakat yang memanfaatkan sumber dayanya dengan baik dan memperhatikan keberlanjutan.   







Berita terkait:
Comments: