NEWS RELEASE:

WARSI sesalkan kekerasan pada Orang Rimba

Penyerangan Orang Rimba di Bungo

Selasa sore (19/6) berubah jadi hari yang menakutkan dan mencekam bagi kelompok Hari dan Badai, Orang  Rimba yang  bermukim di perumahan sosial Pasir Putih Desa  Dwi Karya Bakti Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Jambi. Sabtu (16/6)  tepat di hari lebaran kedua Idul  Fitri Orang Rimba dari 51 KK Orang Rimba di lokasi ini  sudah mualaf itu mendapat kunjungan dari Ilham, Orang Rimba dari Kelompok Kitap yang bermukim sekitar Nalo Tantan  Kabupaten Merangin.  

Entah bagaimana ceritanya Ilham disebutkan menghina kelompok Pasir Putih dengan kata-kata yang  tidak pantas dan menyinggung perasaan. Tidak terima dengan perkataan tersebut Orang Rimba Badai dan Hari melaporkan kejadian tu  ke polsek Pelepat. Pelaporan ini juga di dasari adanya perjanjian antara kedua kelompok pada tahun sebelumnya yang juga sempat bertikai. Dalam perjanjian yang dibuat pada 2017 itu, disepakati jika terjadi pertikaian lagi maka akan dikenai denda adat sebesar Rp 20 juta. Denda adat akan meningkat menjadi dua kali lipat yaitu Rp 40 juta jika ada kelompok yang membuat kericuhan di kelompok yang sudah berdamai tersebut.


Atas perjanjian inilah kemudian Badai dan Hari melaporkan ke Polsek Pelepat, pada hari Minggu (17/6).Tujuannya pelaporan ini meminta dukungan polisi supaya  Ilham memenuhi perjanjian damai yang sudah di buat pada tahun sebelumnya.

Pada  Minggu sore pihak polisi menyampaikan jika  Ilham tidak di ketemukan oleh polisi alasannya itu bukan wilayah kerja Polsek Pelepat. Namun Orang Rimba tetap menunggu polisi untuk menemukan  Ilham.

Karena tidak ada kejelasan  Pada Selasa sore  (19/6) sekitar jam 17.30 Orang Rimba Pasir Putih mendatangi Polsek untuk menanyakan kejelasan kasus ini.Mereka dating  dengan mengendarai  sekitar 12 motor, Orang Rimba membawa  pentungan panjang  sekitar 1 meter.   Melihat Orang Rimba datang, pihak aparat melepaskan tembakan peringatan 3 kali.

Bagi Orang Rimba letusan senjata walaupun itu tembakan peringatan  menyebabkan mereka terpancing dan malah semakin mendekati polsek sehingga ada yang memecahkan kaca  kantor polisi tersebut.

Tidak di sangka pecahnya kaca tersebut di balas aparat dengan menembakkan senjata ke arah Orang Rimba yang menyebabkan lima orang rimba mengalami luka tembak. Korban yaitu Bujang : tiga luka tembak dua di kaki kanan, satu di tangan kiri.  Jatim : dua luka tembak,  satu di tangan satu di kaki.  Unom,  satu luka tembak di paha kanan.  Buyung : satu luka di kaki. Supri anaknya edi : satu luka tembak di kaki kiri.

Pasca  keributan ini Badai yang merupakan tumenggung di kelompok ini sempat di tahan, sehingga suasana makin panas.  Orang Rimba menuntut Badai di lepas dan adanya ganti rugi atas kejadian yang mereka alami dan pengobatan  terhadap korban yang jatuh.

Komunitas Konservasi Indonesia WARSI sangat menyayangkan atas kejadian tersebut. “Tidak seharusnya aparat melepaskan tembakan ke arah Orang Rimba,mereka bukan penjahat kelas kakap.  Bungo merupakan salah satu daerah yang ada Orang Rimbanya. Ada perbedaan pandangan antara Orang Rimba dan Melayu. Bagi Orang Rimba ketika senjata sudah meletus itu artinya situasi makin buruk dan mereka akan melawan. Harusnya aparat yang bertugas di daerah-daerah yang ada Suku Adat Marginal seperti Orang Rimba diberi pemahaman untuk menghadapi komunitas ini, karena pada dasarnya Orang Rimba takut dengan polisi, namun kalau sudah terpancing mereka  bisa bertahan juga dengan melakukan tindakan yang dianggap melawan hukum,” kata Rudi Syaf Direktur KKI WARSI lembaga pendamping suku adat marginal.

Dikatakan Rudi sangat disayangkan  yang memprovokasi Orang Rimba sehingga mereka menjadi anarkis. “Harusnya aparat menjadi pengayom yang baik untuk semua kelompok masyarakat termasuk bagi kelompok Orang Rimba yang masih sangat sedikit pengetahuannya tentang hukum positif yang berlaku di negeri ini,” jelas Rudi.

Untuk itu menurut Rudi,WARSI menghimbau kepada aparat pemerintah dan kepolisian untuk menyelesaikan masalah ini dengan bijak dan menunjukkan bahwa negara hadir untuk mengayomi semua kelompok masyarakat termasuk Orang Rimba.

Tidak hanya itu, yang paling penting juga adalah melihat akar masalah yang sesunggunya. “Dalam survey yang dilakukanWARSI padatahun2008 silam,  kami sudah mengingatkan para pihak bahwa kehidupan Orang Rimba terutama di sepanjang jalan lintas, tempat yang menjadi lokasi Ilham, Badai dan Heri, merupakan kawasan yang sudah kehilangan hutan. Padahal hutan adalah sumber penghidupan Orang Rimba. Kehilangan hutan artinya kemarginalan gai merekayang hidup di daerah itu,”kata Rudi.

Kehilangan sumber daya inilah yang menjadi alasan utama seringnya konflik antar kelompok dan bisa melebar ke persoalan lain, walau hanya di picu oleh hal-hal sederhana. Ilham yang berasaldari kelompok Kitap di Nalo Tantang Merangin kawasan hutan mereka sudah menjadi areal perkebunan yang dikuasai oleh Sinar Mas Plantation, Badai dan Heri wilayah penghidupan mereka beralih menjadi Hutan Tanaman Industri miliknya Malaka Agro Perkasa dan perkebunansawit milik HArum Group. Dan saat ini mereka dirumahkan, tanpa ada sumber penghidupan. Sangat berbeda dengan kelompok masyarakat lain yang diakomodir negara,misalnya dengan skema transmigrasi. “Harusnya negara juga mengakomodir mereka dikawasan-kawasan penghidupan mereka yang sudah berubah menjadi perkebunan, dengan cara mengalokasikan lahan tersebut dengan skema reforma agrarian untuk Orang Rimba. “Ketika mereka sudah memiliki sumber daya, kami yakin  konflik bisa diminimalisir dan aparat tidak akan kehabisan waktu untuk mengatasi masalah serupa yang terus berulang,”pungkasnya.







Berita terkait:
Comments:
  • user image Dedy [2018-08-21]
    Terimakasih infonya bro...