NEWS RELEASE:

7 Zonasi Menguatkan TNBD sebagai Rumah Orang Rimba

Penetapan Taman Nasional Bukit Duabelas secara nyata diperuntukkan bagi kepentingan Orang Rimba. Komunitas yang seluruh aspek kehidupannya sangat tergantung dengan hutan. Kawasan Bukit Duabelas  diadvokasikan WARSI untuk perlindungan sumber penghidupan Orang Rimba yang terancam dengan alih fungsi hutan yang sangat masih di era tahun 1990-an. Bisa dilihat sekitar Bukit Duabelas sudah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan transmigrasi.

Di tahun 2000, Pemerintah selaku pemegang kuasa atas hutan sepakat untuk mencabut izin yang sudah terlanjur diberikan kepada PT Inhutani V yang akan mengelola perusahaan hutan tanaman. Advokasi yang dilakukan WARSI dengan dukungan para pihak di Provinsi Jambi berhasil meyakinkan pemerintah pusat untuk mencabut izin hutan tanaman dan menjadikannya kawasan hidup Orang Rimba dengan nama Taman Nasional Bukit Duabelas.

Butuh waktu panjang dari waktu pencadangan taman hingga ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional oleh Kementrian Kehutanan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.4196/Menhut-VII/ KUH/2014. Dengan penetapan kawasan hutan, berikutnya yang menjadi tantangan adalah menjaminkan keberadaan dan peran Orang Rimba dalam kawasan hutan dalam sistem zonasi sebagaimana layaknya taman nasional. Pemetaan ruang kehidupan Orang Rimba sangat penting untuk memberikan gambaran zonasi yang mengakomodir kebutuhan dan keberadaan Orang Rimba dalam taman nasional. Masukan dan dukungan untuk zonasi yang berdasarkan adat dan budaya Orang Rimba disahkan oleh Kementrian Kehutanan Pengelolaan TNBD dilakukan dengan sistem zonasi sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen PHKA Nomor : SK.22/IV-KKBHL/2015. TNBD di bagi ke dalam tujuh zona. Zona Inti seluas 8.166,63 ha (14,91%), Zona Rimba seluas 795,18 ha (1,45%), Zona Tradisional seluas 36.309,20 ha (66,28%), Zona Religi seluas 6.473,58 ha (11,82%), Zona Pemanfaatan seluas 522,85 ha (0,95%), Zona Rehabilitasi seluas 278,64 ha (0,51%) dan Zona Khusus seluas 2.234,32 ha (4,08%).pada tahun 2015. . 

Dalam penetapan zonasi ini  memperlihatkan Orang Rimba sebagai penghuni utama kawasan Bukit Duabelas. Kawasan yang bisa dikelola Orang Rimba dinamakan dengan zona tradisional. Zona ini mendapat porsi yang paling luas, yaitu hampir 70 % atau seluas 36.309,20 ha kawasan. Zona tradisional merupakan zona yang bisa dikelola oleh Orang Rimba untuk berladang, berburu, berkebun dan membangun pondok. Zona tradisional hanya berlaku untuk Orang Rimba, tidak untuk pihak luar tidak.

Pada zona rimba dengan luas seluas 795,18 ha ditujukan sebagai tempat pusaron (pusara) Orang Rimba, tanah perana’on (tanah tempat melahirkan) dan  benuaron (kawasan yang menjadi tempat tumbuh aneka buah). Dalam adat Rimba keberadaan kawasan ini sangat sakral dan sangat berpantang untuk dimasuki oleh pihak liar.  Berikutnya adalah zona religi seluas 6.473,58 ha untuk melakukan ritual adat, seperti bebalai, bededikiron,dan ritual lainnya.

Kawasan yang sudah terdegradasi dimasukkan ke dalam zona rehabilitasi yang luasnya lebih kecil yaitu 278,64 ha, bertujuan untuk melakukan penanaman kembali lahan-lahan yang kritis untuk menjadi rimba kembali. Zona berikutnya adalah zona pemanfaatan seluas 522,85 ha, tujuannya untuk pengembangan ekowisata dan tempat penelitian, dan pengembangan biodiverisity yang banyak dikembangkan di Balai TNBD

Pada TNBD juga terdapat zona khusus seluas 2.234,32 ha. Zona khusus ada karena adanya usulan PDP TNBD Sektor Selatan terhadap keberadaan kebun masyarakat yang ada di dalam kawasan TNBD di sisi selatan yang sudah ada sebelum adanya SK TNBD. zona khusus ditandai dengan adanya tanaman-tanaman tua yang berumur puluhan tahun. Masyarakat mendapatkan hak kelola untuk mengelola kebun yang ada di zona khusus selama 1 periode masa produktif tanaman karet, lambat laun tanaman karet akan diganti dengan tanaman kehutanan seperti jelutung, tembesu dan tanaman kehutanan lainnya.

Pada zona inti seluas 8.166, 63 ha, merupakan zona lindungi yang berada di sepanjang tali bukit 12 di sisi selatan TNBD. Zona inti tidak diperbolehkan ada kegiatan di dalamnya, baik perladangan maupun perkebunan, namun kegiatan adat dan religi masih diperbolehkan. Zona ini bertujuan sebagai wilayah tangkapan air, karena topografinya perbukitan. Bagi Orang Rimba kawasan ini merupakan kawasan terlarang untuk mereka masuki karena diyakini sebagai tempat bermukimnya pada dewa.  Sebelumnya pada 2004 silam, melalui rencana pengelolaan taman nasional yang dikeluarkan BKSDA belum  mengakomodir kepentingan Orang Rimba, sehingga perlu pembahasan panjang, hingga baru selesai pada 2015. Mudah-mudahan dengan zonasi yang lebih mengakomodir Orang Rimba, akan semakin memantapkan pengelolaan.

Apalagi pada kunjungan Dirjen KSDAE KemenLHK minggu lalu secara nyata menyebutkan memberikan akses jika kawasan ini dilakukan pembangunan sesuai dengan kebutuhan Orang Rimba. (Sukmareni/Maryati)







Berita terkait:
Comments: