NEWS RELEASE:

Kuliner Gambut Meriahkan PeSoNa

Aneka kuliner olahan yang berasal dari kawasan gambut Jambi ikut mewarnai Festival Perhutanan Sosial Nusantara (PeSoNa) 2018 di Ratu Convention Center.  Dodol nipah, keripik pisang rasa liberika, merupakan bagian aneka sajian yang dihadirkan di stand Komunitas Konservasi Indonesia WARSI pada festival yang mengambil tema  Kita Kelola Kita Sejahtera itu.

                Aneka produk olahan gambut yang hadir di festival ini, merupakan wujud pengembangan kawasan hutan dan juga gambut yang mampu menunjang kehidupan masyarakat di sekitarnya. Potensi yang sudah tersedia dengan sentuhan yang diberikan membuktikan gambut dan hutannya bisa memberikan manfaat untuk masyarakat yang ada di sekitarnya.

                “Hutan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat desa yang telah menopang kehidupan kesehariannya. Hutan juga menjadi salah satu kekayaan penting bagi masyarakat untuk menjamin kesejahteraan hidupnya,” Kata Ade Candra Koordinator program pendampingan masyarakat gambut KKI WARSI.

                Menurutnya hutan dan gambut menyediakan aneka macam kebutuhan hidup bagi masyarakat hukum adat. Hutan juga menjadi sumber kekayaan alam dan keanekaragaman hayati masyarakat desa sekaligus penjaga keseimbangan iklim.

                Desa Sungai Beras, Sinar Wajo dan juga Pematang Rahim, Kecamatan Mendahara Hulu Tanjung Jabung Timur, Komunitas Konservasi Indonesia WARSI mendorong pengelolaan hutan berbasis masyarakat dengan skema Hutan Desa yang mendapat legalitas dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pematang Rahim baru mendapatkan SK pada 26 Oktober 2017 nomor SK 5694/MENLHK/PSKL/PKPS/PSL.0/10/2017  dengan luas 1.185 Ha. Desa Sinar Wajo mengelola Hutan Desa sesuai SK Mentri Kehutanan Nomor 706/Menhut-II/2014 seluas 5.088 Ha dan Sungai Beras mengantongi SK nomor 707/Menhut-II/2014 dengan luas 2.200 Ha.

                “Setelah dapat SH Hutan Desa yang harus di jawab adalah meningkatkan ekonomi masyarakat, makanya perlu adanya kreasi dan kreativitas yang bisa dikembangkan masyarakat dengan basis sumber daya yang mereka miliki,”kata Nur Qomariah Spesialis Pemberdayaan Perempuan  Komunitas Konservasi Indonesia WARSI.

                Untuk itulah kemudian dari ketiga desa ini diidentifikasi potensi sumber daya alam, mulai dari tanaman pekarangan pisang dan pinang, tanaman perkebunan kelapa, juga tanaman kehutanan ada jelutung, rotan dan lainnya.  Hutan yang dikelola masyarakat ini ketiga desa ini, selain kaya potensi dan harus dikelola dengan baik. Ketiga kawasan ini merupakan kawasan hutan gambut yang rawan kebakaran. Untuk itulah pengelolaan hutan berkelanjutan dan juga peningkatan ekonomi masyarakat menjadi sangat penting dilakukan untuk melindungi gambut dan juga memberikan jaminan ekonomi untuk masyarakat sekitarnya.

                WARSI yang berkegiatan di kawasan ini mendorong masyarakat untuk pengelolaan hutan lestari dan berkelanjutan. “Inisiatif yang dilakukan adalah pengayaan tanaman yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, serta mendorong inisiatif pengembangan ekonomi rumah tangga dengan melibatkan kaum perempuan,” kata Kokom sapaan Nur Qomariah. 

                Perempuan di ketiga desa merupakan petani dan buruh pengocek pinang maupun kelapa, dengan upah sebesar Rp. 2000,- per karung pinang dan Rp 120,- per buah kelapa.  Sedangkan untuk mengolah lahan secara ekonomi, membutuhkan cost tinggi, karena menggunakan pupuk kimia dan pestisida intensif, ditambah upah buruh pertanian yang cukup mahal, yaitu Rp.40.000,- untuk upah perempuan dan laki-laki Rp.50.000,- upah laki-laki per hari. 

                “Kondisi ini yang jelata belakangi kita untuk bersama masyarakat mencari peluang baru untuk pengembangan ekonomi. Kebetulan di daerah ini masih banyak potensi yang belum dikelola, seperti pinang,”kata Kokom.

                Selama ini masyarakat mengandalkan penjualan pinang mentah, yang harganya  fluktuatif, kemudian di coba untuk mengolah pinang muda menjadi permen, awalnya permen yang di hasilkan bersaal dari bahan pinang muda dan gula, namun komposisi ini kurang pas, sehingga dilakukan perbaikan lagi, menambah bahan pencampurnya menjadi sirih, pinang, asam  dan menambahkan biskuit ke dalam permen, sehingga menghasilkan tekstur yang  lebih lembut dan rasa yang dihasilkan menjadi makin enak dan disukai konsumen,”kata Nur Asiah pengelola kuliner dari Desa Pematang Rahim.

                Tak hanya permen, Nur Asiah yang membentuk kelompok bikin  dengan kaum perempuan warga  Pematang Rahim juga menghasilkan mereka memproduksi Keripik pisang rasa kopi liberika. Kopi liberika merupakan kopi yang tumbuh subur di lahan gambut. Cita rasa yang asam pahit yang justru menjadi ciri khas kopi menimbulkan sensasi tersendiri ketika  dipadukan dengan keripik pisang yang gurih.

                Sedangkan di Desa Sungai Beras mengolah nipah yang tumbuh subur sebagai penyangga erosi gambut dan tumbuh di sekitar rumah mereka serta sepanjang sungai Mendahara, menjadi bahan utama untuk pembuatan dodol dan permen jelly. Nipah selain dikenal kaya protein, kalium dan magnesium, juga memiliki zat anti kanker dan juga layak dikonsumsi. “Awalnya kami mencoba-coba saja, apakah mungkin nipah ini dimanfaatkan, karena dari banyak cerita yang kami dengar buah nipah bisa diolah jadi bahan pangan. Kalau produksi kami yang sauh berjalan adalah dodol kelapa, namun karena buah nipah juga bisa diolah, akhirnya kami olah dan hasilnya enak juga,”kata Marwiyah  pengrajin dodol nipah dari Sungai Beras.

                Bahkan perempuan Sungai Beras membentuk kelompok Usaha Bersama dengan memproduksi bahan makanan yang berasal dari lahan gambut. Dengan usahanya ini, kelompok ini meraih  juara 1 pada jambore PKK tingkat Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2016. Di tahun berikutnya mereka meraih  Juara 3 di  Jambore PKK Tingkat Provinsi Jambi untuk kategori produk olahan gambut. Berkat juara ini jugalah kelompok ini mendapatkan hadiah gratis mengurus perizinan (IRT) bagi produk yang mereka hasilkan.  “Kini produk kami banyak di pesan oleh ibu-ibu pejabat untuk berbagai kegiatan,”kata Marwiyah. 

                Di Sinar Wajo  memproduksi permen ting-ting berbahan dasar air kelapa juga menjadi andalan bagi perempuan. Pohon kelapa yang tumbuh subur di lahan gambut, tempat ia tinggal adalah anugerah yang harus disyukuri. Kelapa adalah tanaman yang sesuai dengan ekosistem gambut yang ramah, berakar serabut yang mampu menahan batang dan menjaga ketersediaan air serta kelembaban tanah pada kedalaman gambut 1-3 m. Sinergi dengan alam inilah yang menjadi dasar perempuan tangguh di tiga desa memulai dasar penguatan kelompok dalam pengembangan pangan berbasis lahan gambut secara berkelanjutan, meskipun total produksi masih terbatas pada angka 30-70 kemasan untuk keripik pisang, dodol pisang, dan 100-150 permen dalam kemasan mini dan masih terbatas pada pasar lokal desa.  Namun usaha ini diharapkan akan menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mengembangkan ekonominya selaras dengan alam. ***

 







Berita terkait:
Comments: