NEWS RELEASE:

Konservasi melalui Robusta Serampas

Kopi serampas memang menjadi salah satu produk Kopi Robusta yang menggoda dari Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Jambi.  Dalam Festival Perhutanan Sosial Nusantara (PeSoNa) 2018 Kopi Serampas tampil elegan menarik minat para pengunjung, tak terkecuali Direktur Jendral Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Bambang Supriyanto usai membuka festival yang berlangsung di Ratu Convention Center Jambi.

Kopi Serampas merupakan hasil olahan Masyarakat Hukum Adat Serampas, yang mencakup lima desa yakni Renah Alai, Rantau Kermas, Lubuk Metilin, Tanjung Kasri dan Renah Kemumu. Sejak lama kopi telah menjadi produk pertanian dari Kelompok Masyarakat Adat Serampas. Nenek moyang mayarakat Serampas telah lama membudidayakan kopi tinggi yang disebut dengan nama lokal kopi sta.

Awalnya kopi di daerah ini hanya untuk pemenuhan konsumsi masyarakat lokal, bukan untuk komoditi yang diperjual belikan menambah pendapatan keluarga. Hal ini karena kayu manis masih menjadi komoditi andalan untuk daerah ini. Namun seriirng waktu fluktuasi harga kayu manis menyebabkan masyarakat untuk bisa mengembangkan komoditi yang sesuai dengan alam untuk menunjang perekonomian.

“Kita melihat hubungan masyarakat yang sangat dekat dengan hutannya, mereka mengelola hutan dengan skema Hutan Adat,   di daerah-daerah penyangga hutan. Bagaimana mengelola daerah penyangga bisa menjadi sumber ekonomi, dengan kajian potensi maka sejak tahun 2012 kita kembali menggagas untuk pengembangan kopi di daerah Serampas,”kata Desrizal Alira Koordinator Pengembangan Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan KKI WARSI.

Dikatakannya sejak 2013 saat warga Rantau Kermas melalui keputusan adat membuat kesepakatan untuk mulai mengembangkan kopi robusta. Desa lainnya juga melakukan hal yang sama. Tanjung Kasri dan Renah Kemumu justru merupakan produsen kopi tertinggi di wilayah masyarakat hukum adat Serampas. Penen kopi terbanyak itu di Renah Kemumu dan Tanjung Kasri. Disana perhektarnya bisa sampai 6 ton itu pas buah ngagung. Kalau Renah Alai itu cuma sedikit soalnya kebanyakan kentang. Kalau di Lubuk Mentilin dan Rantau Kermas hampir sama lah cuma beda 200 kg per hektar, Rantau kermas tu 1,2 ton per hektar berarti Lubuk Mentilin tu 1 ton per hektar.

Besarnya produktivitas kopi di wilayah adat Serampas ini, memberi peluang tersendiri bagi Serampas untuk dikenal sebagai produsen khas Kopi Robusta di Jambi.   Selain itu, kopi juga mampu menjadi peluang ekonomi berkelanjutan dengan pengolahan yang lebih baik. Besarnya penghasilan masyarakat dari kopi menjadikan kopi sebagai tulang punggung perekonomian masyarkat Serampas sekarang. Keberlangsungan kopi menjadi sentra ekonomi tetap masyarakat serampas, tentunya harus diimbangi dengan stategi seperti peningkatan mutu, inovasi dan mendekatkan pasar. Strategi tersebut nantinya difungsikan untuk memaksimalkan tingkat pendapatan masyarakat Serampas yang lebih baik lagi dari kopi.

Pada 15 Agustus 2017 KKI-Warsi mencoba melakukan Uji Laboratorium di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember. Dari uji laboratoriun tersebut menyatakan bahwa Serampas masuk dalam karakteristik Excellent score dengan point 83.63. Jika melihat perdikat kopi berdasarkan Fine Robusta Standart and Protocols, point 83.63 telah masuk dalam kategori Fine. Hal ini sangat membanggakan, sehingga perpotensi masuk dalam pasar premium kopi di Indonesia.  

“Pada tingkat tapak perwujudan peningkatan mutu kopi telah dilakukan secara konsisten  lewat kerjasama KKI-Warsi dengan KPHA Rantau Kermas. Tujuannya adalah mengangkat produk Kopi Serampas, dan menaikan harga kopi Robusta Serampas. Strategi ini dilakukan KKI-Warsi dengan cara menaikan mutu Kopi Robusta lewat program pengembangan usaha perhutanan sosial,”kata Desrizal.

Strategi yang dipakai untuk menaikkan mutu kopi adalah dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait perlakuan panen. Kopi dengan kualitas baik hanya bisa di dapatkan dengan panen biji merah atau cerry merah. Di samping itu WARSI juga aktif untuk penguatan pasar Kopi Serampas dan kualitas SDM dalam pengolahan biji kopi. “Tingkat pengolahan Kopi Serampas di Rantau Kermas juga telah sampai pada metode perlakuan khusus seperti metode pengolahan full wash. Proses roasting Kopi Serampas juga menggunakan mesin modern sehingga aroma dan rasa yang dihasilkan semakin maksimal,”kata Deslizar.

Penanganan yang khusus pada kopi Serampas, merupakan strategi mendukung budaya konservasi berbasis budaya lewat jalur ekonomi. Sampai saat ini KPHA berdampingan dengan KKI-Warsi telah mengeluarkan tiga prodak kopi Serampas yakni Green bean coffee, roasted been coffee dan Grown coffee.

Menjaga Hutan Adat Lewat Biji Kopi Serampas

Berdasarkan keputusan SK.6745/MENLHK-PSKL/KUM.1/12/2016 Rantau Kermas sebagai anggota dari Marga Adat Serampas memiliki kearifan lokal dalam menjaga ekosistem hutan mereka. Sejak lama secara turun temurun masyarakat Hukum Adat Serampas yang dipimpin oleh seorang Depati memiliki manajemen pengelolaan hutan. Warisan untuk tidak mengolah hutan hulu aik menjadi satu pengetahuan yang sampai saat ini terus dijaga.  Selain itu tanah ngarai dan padang bebatu merupakan pemetaan wilayah adat yang tidak boleh diolah. Sedangkan, tanah lainnya yang boleh digunakan untuk perladangan dan pemukiman diatur lewat ajum arah ninik mamak yang dilaksanakan oleh depati atau kepala dusun.

Kepala dusun mengatur area berlabuh rumah dan tanah berladang beserta ketentuan komoditas tanaman yang harus ditanam. Adanya komoditas kopi juga merupakan bagian ajum arah yang memberi kebermanfaatan ekonomi bagi masyarakat. Harapannya dengan adanya kopi sebagai komoditas ajum arah dapat memberi keberlangsungan ekonomi yang menunjang keberlangsungan budaya yakni warisan tradisi melestarikan alam dan hutan.

Manfaat kegiatan pengembangan ekonomi masyarakat lewat biji kopi Serampas di Rantau Kermas adalah sebagai pionir untuk memotivasi Masyarakat Serampas di desa lainnya untuk fokus dalam peningkatan ekonomi lewat peningkatan mutu kopi. Dengan adanya peningkatan kualitas ekonomi, Masyarakat Hukum Adat Serampas mampu konsisten melestarikan kebudayaannya, menjaga kelestarian hutan dan air mereka. Terlebih adanya hutan adat Serampas di Rantau Kermas dengan luas 130 Ha menjadi prestasi tersendiri yang membutikan kontribusi budaya Serampas bagi pelestarian alam Indonesia. ***







Berita terkait:
Comments: