NEWS RELEASE:

Pengobatan Gratis Orang Rimba Di Pinggir TNBT

Ditemukan Penderita Kusta Kering Dan Suspect Tb
Sejak pagi hari orang rimba telah meninggalkan genah mereka, menuju ke tepi rimba di selatan Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi. Beriringan mereka menuruni lembah mendaki bukit selama dua jam perjalanan untuk mencapai kantor lapangan KKI Warsi di SPI Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Sarolangun Jambi. Sebagian dari mereka tampil ala orang rimba mengenakan cawat bagi laki-laki dan kemben bagi perempuan. Sedangkan sebagian anak-anak yang ikut dalam rombongan malah tidak mengenakan pakaian sama sekali. Diantara rombongan itu terlihat seorang ibu muda yang menggendong anaknya menggunakan kain lusuh. Si anak sesekali memperdengarkan suara batuknya. Terkadang mata mungilnya terlihat berair ketika batuknya tak kunjung reda. Si Ibu coba memenangkan anaknya, tapi batuk itu tetap saja membandel. Segelas air yang disuguhkan ke pada si anak, cukup membantu, batuk sedikit reda, namun tubuh Miti?demikian anak rimba berusia 5 tahun ini diberi nama---terlihat lemas, dan berwajah pucat.

Kondisi kesehatan Miti yang buruk inilah yang mendorong induknya turut dalam rombongan Tumenggung Ngrip keluar dari genahnya di Kedundung Muda Makekal TNBD. Induk Miti demikian si induk menyebut namanya sangat berharap putrinya bisa ditolong oleh lokoter (dokter, red) yang berkunjung ke tepi TNBD. Induk Miti mendapat kabar dari Tumenggungnya perihal pengobatan gratis yang diselenggarakan tim kesehatan Dinas Kesehatan Sarolangun, Puskesmas Pematang Kabau dan KKI Warsi. Tiga hari sebelumnya fasilitator kesehatan KKI Warsi Rudi Ardiansyah dan para pendamping Rimba mengunjungi beberapa kelompok Orang Rimba untuk memberitahukan perihal pengobatan gratis yang diperuntukkan bagi Orang Rimba. Ada Kelompok Njalo, Kelompok Tumenggung Ngrip dan Tumenggung Tarip yang berhasil diberitahukan. Sedangkan kelompok lainnya sedang melangun pasca kematian seorang tetua adat di Makelal Hilir.

Seperti Induk Miti, meski tidak ditemani suaminya, dia tetap membawa anak betina-nya dengan harapan si anak bisa disembuhkan. Orang Rimba ini sangat antusias dengan kabar akan adanya pengobatan gratis. Selama ini Orang Rimba masih belum secara optimal memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Selain akses yang jauh, juga disebabkan rendahnya pengetahuan Orang Rimba terhadap beragam gejala penyakit yang menyerang mereka.

Untuk inilah kemudian Warsi, menggandeng Puskesmas Pematang Kabau dan Dinas Kesehatan Sarolangun untuk mengadakan kegiatan bersama, yang lokasinya di pilih yang agak mudah dijangkau Orang Rimba dan petugas kesehatan juga bisa mengunjunginya. Dari pemeriksaan kesehatan kepada 60 orang rimba yang hadir diacara Selasa lalu ditemukan beragam keluhan. Berdasarkan analisis sementara ditemukan suspect tuberculosis (tb paru) dua orang, kusta kering tiga orang, malaria tiga orang, dan 15 orang menderita muntah berak. Kepada pasien ini langsung diberikan obat-obatan, sedangkan yang butuh penanganan lebih lanjut seperti tb dan kusta Dokter Winasar Sinarmata selaku pimpinan Puskesmas Pematang Kabau yang terlibat langsung memeriksa kesehatan Orang Rimba, mengharapkan Orang Rimba dapat menjangkau puskesmas untuk melanjutkan pengobatan mereka. ?Untuk sementara kita kasih obat untuk menghilangkan batuk dan demamnya dulu, untuk suspect tb kita ambil sampel dahaknya untuk diperiksa di laboratorium. Jika hasilnya positif baru dilanjutkan dengan pengobatan tb?katanya.

Selain memberikan pengobatan gratis, acara juga dilengkapi dengan pemutaran film tentang kesehatan dan penyuluhan kesehatan mengenai tb dan kusta dan pneumonia yang kerap menyerang anak-anak. Petugas menjelaskan ciri dan gejala penyakit menular itu. Kepala Dinas Kesehatan Sarolangun H Adnan HS sangat berharap kegiatan ini bisa mendekatkan Orang Rimba dengan sarana kesehatan pemerintah, yang sebenarnya bisa diakses dengan gratis oleh Orang Rimba. Adnan berharap ke depan ada kelanjutan kegiatan serupa untuk membantu Orang Rimba mengatasi masalah kesehatan mereka. ?Yang utama kita mengharapkan Orang Rimba bisa mengenali ciri atau gejala penyakit yang menyerang mereka sehingga, mereka bisa cepat menghubungi tempat pengobatan terdekat apakah puskesmas atau puskesmas pembantu,?sebutnya.

Siang itu, ketika acara berakhir sekitar pukul 2 siang Induk Miti menggenggam erat sekantung obat yang diberikan dokter kepada anaknya. Tak diperdulikannya betapa dia akan kembali lelah menggendong anaknya kembali ke genahnya di Kedundung Muda. Dia akan kembali ke genahnya secara beriringan dan mengingat-ingat dengan baik cara pemberian obat yang dijelaskan kepadanya. ***
***





Berita terkait:
Comments: