NEWS RELEASE:

KKI Warsi Sediakan Website

Das Batang Hari
DAS Batang Hari memiliki peran dan fungsi strategis bagi kawasan Sumatera Bagian tengah. Dari segi transportasi, dalam sejarah tercatat, sejak abad ke 3 masehi, Sungai Batang Hari telah aktif dipergunakan sebagai jalur transportasi dan perdagangan, yang mengangkut hasil-hasil bumi dari kerajaan-kerajaan kecil di pedalaman Sumatera untuk diperdagangkan di Selat Malaka. Fungsi Sungai Batang Hari sebagai jalur transportasi terus meningkat sebelum akhir tahun 1970-an. Transportasi sungai merupakan pilihan utama di kawasan ini menjelang dibukanya trans Sumatera di era pemerintah orde baru. Namun kini Sungai Batang Hari terus mengalami pendangkalan, sehingga kini hanya kapal-kapal dengan kapasitas dibawah 3.000 DWT yang bisa melewati sungai ini. Dari segi ekologi, DAS Batang Hari sangat penting karena meliputi berbagai tipe ekosistem alami (selain ekosistem sungainya sendiri) mulai dari ekosistem pesisir/muara, lahan basah, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan dataran tinggi, hutan hujan pegunungan dengan vegetasi sub alpin dan alpin. Ekosistem yang beragam tersebut sebagian besar termasuk ke dalam beberapa kawasan Taman Nasional selain TNKS, yaitu Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), dan Taman Nasional Berbak (TNB). Beberapa ekosistem lain terutama hutan hujan dataran rendah kering berada di luar kawasan konservasi namun justru memiliki kekayaan spesies yang sangat tinggi.

Dari segi pemanfaatannya, pada bagian tengah DAS Batang Hari umumnya dimanfaatkan untuk perkebunan, HPH, dan persawahan. Saat ini di salah satu ruas tengah Sungai Batang Hari di Sungai Dareh Sitiung ? Sumatera Barat, sedang dikerjakan Batang Hari Irrigation Project (BHIP) yang direncanakan mampu mengairi sawah seluas 18.936 ha pada 35 Jorong/Nagari di Provinsi Sumatera Barat dan 5 desa di Provinsi Jambi. Proyek Irigasi Batang Hari ini merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari proyek terdahulu, yaitu Proyek Irigasi Sungai Dareh Sitiung (SEDASI) yang pada awalnya diharapkan mampu mengairi lahan sawah seluas 20.000 hektar. Namun kenyataannya, irigasi SEDASI yang dibangun tahun 1982-1986 hanya mampu mengairi 39 % lahan yang direncanakan.

Hal ini disebabkan terutama oleh merosotnya debit andalan Sungai Palangko dan Batang Siat yang merupakan sungai utama dalam sistem irigasi SEDASI. Penurunan debit pada Sungai Batang Siat selama 15 tahun terakhir ini telah mengakibatkan berkurangnya kapasitas maximum saluran dari 10,5 m3/detik (tahun 1986) menjadi 6,1 m3/detik (2001). Konversi lahan secara besar-besaran di hulu Batang Siat menjadi perkebunan kelapa sawit oleh PT. Tidar Kerinci Agung (TKA), PT. Famili Raya Group, dan konversi untuk kebutuhan lainnya seperti transmigrasi diyakini merupakan penyebab utama penurunan debit tersebut. Dengan proyek baru Irigasi Batang Hari ini tidak ada jaminan kasus irigasi SEDASI tidak terulang selama penanganan permasalahan tetap sektoral seperti selama ini.

Bagi Provinsi Jambi, DAS Batang Hari juga memiliki nilai lebih strategis lain. Saat ini sedang direncanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Merangin pada sub DAS Merangin yang direncanakan memiliki kapasitas terpasang 250 MW. Disamping untuk memenuhi kebutuhan listrik regional dan Provinsi Jambi, kelebihan arus juga direncanakan akan dijual ke Singapura.

Nilai strategis lainnya adalah pelabuhan Muara Sabak di hilir Sungai Batang Hari yang direncanakan sebagai pintu gerbang ekonomi kawasan ini umumnya dan Provinsi Jambi khususnya ke kawasan Segitiga Pertumbuhan Singapura ? Batam ? Johor (Sibajo), daerah kerjasama Indonesia ? Malaysia ? Singapura Growth Triangle (IMS-GT), Indonesia ? Malaysia ? Thailand Growth Triangle (IMT-GT), dan pasar APEC. Namun akibat berbagai dampak pengelolaan sumber daya alam di hulu dan tengah, pelabuhan ini dihantam persoalan sedimentasi yang sangat tinggi. Berdasarkan data Pemda Jambi, jika bobot kapal yang bersandar di Muara Sabak sekitar 15.000 DWT (kapal-kapal untuk ekspor-impor), maka diperlukan pengerukan minimal 5.345.500 meter kubik deposit sepanjang alur sungai dengan lebar 100 meter untuk draught 9,5 meter karena saat ini pelabuhan Muara Sabak hanya bisa disandari kapal dengan berbobot 3.000 DWT. Selain itu diperlukan pula pemeliharaan alur pelayaran sebanyak 298.540 meter kubik pertahun. Biaya besar yang harus dikeluarkan untuk pengerukan tersebut merupakan biaya tambahan yang sebenarnya tidak perlu dikeluarkan jika pengelolaan DAS Batang Hari ini terencana dari hulu sampai ke hilir.

Salah satu solusi yang ditawarkan untuk pengelolaan DAS Batang Hari ini adalah dengan pendekatan bioregion. Pendekatan bioregion merupakan salah satu alternatif yang mungkin diterapkan jika melihat kondisi DAS Batanghari saat ini. Dengan bioregion mencoba mengajak para pihak terutama pengambil kebijakan di kabupaten untuk melihat persoalan-persoalan pengelolaan sumber daya alam tidak bisa terpotong menurut wilayah administrasi atau berdasarkan kawasan-kawasan tertentu. Harus ada upaya dan strategi yang bisa memperlihatkan besarnya keterkaitan antar wilayah dan dampak kerusakan berantai mulai dari tingkat lokal/kampung sampai tingkat regional.

Substansi pendekatan bioregion, yaitu suatu pendekatan pengelolaan wilayah/teritori tanah dan air yang cakupannya tidak ditentukan oleh batasan administrasi/politik, tetapi oleh batasan geografis komunitas manusia dan sistem ekologinya. Dengan pendekatan ini diharapkan DAS Batang Hari bisa dilihat lebih holistik dan komprehensif. Lahan pertanian, hutan, padang rumput, areal perikanan, dan desa-desa tercakup dalam tingkat perencanaan yang sama dengan kegiatan restorasi lahan, pengelolaan kawasan lindung, serta upaya pelestarian spesies. Skala upaya demikian harus dirancang sedemikian rupa agar cocok untuk proses ekologi dan kebutuhan serta persepsi masyarakat lokal. Pendekatan integratif seperti inilah yang disebut pendekatan bioregion.

Untuk DAS Batang Hari, prinsip-prinsip pengelolaan dengan pendekatan bioregion tersebut telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat walaupun istilah bioregion sendiri tidak mereka kenal. Pengelolaan lubuk larangan dan hutan adat oleh masyarakat di beberapa sub-DAS Batang Hari adalah beberapa contoh. Demikian juga bentuk pemanfaatan lahan yang disebut hompongan oleh kelompok Orang Rimba di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Jambi. Namun selama ini praktek-praktek tersebut tidak pernah dianggap dan tidak mendapat tempat karena dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan lain yang lebih besar namun justru mengancam keberlanjutan sumber daya alam DAS Batang Hari.

Data dan informasi tentang DAS Batang Hari tentu akan sangat menentukan langkah pengelolaan yang akan diambil oleh stakeholder. Hanya saja selama ini data dan informasi tentang DAS Batang Hari masih terkotak-kotak pada masing-masing stakeholder. Untuk memudahkan akses dan mengetahui kondisi terkini DAS Batang Hari, KKI Warsi berupaya untuk menghadirkan web site DAS Batang Hari.

Website DAS Batang Hari merupakan pusat data dan informasi Bioregional DAS Batang Hari. Website ini merupakan kumpulan data yang menyediakan informasi tentang pengelolaan sumber daya alam yang ada di dalam region daerah aliran Sungai Batang Hari dari berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengelolaan sumber daya alam yang ada di DAS Batang hari. Harapannya pusat data dan informasi ini akan membantu semua pihak baik masyarakat, instansi pemerintah, akdemisi dan pengusaha (multistakeholder) untuk lebih mengenal berbagai potensi dan permasalahan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya alam. Sehingga informasi ini bisa dijadikan acuan atau bahan untuk berbagai kepentingan terkait dengan PSDA, terutama untuk pengelolaan SDA yang lebih arif dan bijaksana sehingga pengelolaan sumber daya alam bisa berkelanjutan. Sebagai salah satu media alternatif yang bisa diakses oleh semua pihak, pusat data dan informasi ini bisa mendorong adanya kerja-kerja kolaboratif sehingga data dan informasi yang disajikan selalu bersifat aktual dan up to date. Disisi lain, pusat data dan informasi ini akan menjadi bentuk dari persiapan prakondisi untuk mendorong terbentuknya institusi pengelolaan DAS Batang Hari ke depan.

Menu utama dalam website ini memuat tiga komponen yang sangat penting dalam pengelolaan DAS Batang Hari, yaitu biofisik, sosekbud, serta institusi dan kelembagaan. Disamping memuat informasi tentang tiga komponen di atas, menu utama website ini pun meliputi manajemen data dan gallery. Manajemen data memungkinkan pihak-pihak yang terkait untuk meng-update data-data yang telah tersedia atau menambahkan data dan informasi terbaru. Sedangkan gallery berisikan informasi atau berita berupa peta, foto, dan juga berita-berita lainnya yang terkait dengan DAS Batang Hari. Mengingat cakupan DAS Batang Hari yang sangat luas, maka di dalam website ini pun disediakan informasi tentang kabupaten yang terdapat dalam DAS terluas kedua di Sumatera ini.*** (REN)
***





Berita terkait:
Comments: