NEWS RELEASE:

Ketika Anak Rimba Ikut Sekolah Formal

Sejak Pagi Telah Merapikan Diri, Hari Pertama Sekolah Kenakan Sandal Jepit
Senin pagi (13/7) ada yang berbeda pada kelompok Orang Rimba di SPC Pelakar Jaya Kecamatan Pemenang, Kabupaten Merangin Jambi. Pemukiman Orang Rimba yang berjarak sekitar 700 meter dari transmigrasi Pelakar Jaya itu, terasa bersemangat. Sejak pukul 6 pagi, anak-anak dan orang tua dari rombong Nungkai ini sudah membasuh diri di dua sumur yang terdapat di pemukiman itu . Bukan hal yang biasa bagi Orang Rimba mengawali aktifitasnya dengan membasuh diri di sumur. Selama ini Orang Rimba identik dengan kebiasaan mereka yang jarang mandi dan membersihkan diri.

Senin kemarin merupakan hari yang istimewa, sejumlah anak rimba di kelompok ini mendaftar di SD 256/IV Pelakar Jaya, untuk mengikuti pendidikan formal. Usai mandi orang tua mengenakan pakaian yang paling bagus yang mereka miliki. Sedangkan anak-anak mengenakan seragam SD yang diberikan KKI Warsi sehari sebelumnya. Bersih dan nyaris tak ada beda tampilan anak-anak rimba ini dengan anak lainnya. Buku dan tas mereka juga sudah siap, untuk dibawa ke sekolah, hanya saja lima dari enam anak yang akan bersekolah ini untuk masih mengenakan sandal jepit, untuk alas kaki mereka. Ketiadaan sepatu ini tidak menyurutkan semangat anak-anak rimba untuk bersekolah, sejak jam 7 pagi mereka sudah siap untuk berangkat ke sekolah yang menjadi harapan mereka untuk menjadi lebih baik dikemudian harinya.

Sepatu awalnya disepakati menjadi tanggung jawab orang tua masing-masing. Namun karena ada yang meninggal di rombong itu, sebagian mereka pergi melangun sehingga tak bisa pergi membeli sepatu. Meski melangun tidak lagi seperti zaman dulu, dimana mereka harus jauh meninggalkan pemukiman dan kembali beberapa tahun kemudian. Namun sejak menetap, tradisi belangun tidak lagi jauh dan lama, mereka hanya meninggalkan rumah beberapa hari dan tetap berada disekitar 1 km dari pemukiman mereka.

Dengan dijemput fasilitator pendidikan dan pendamping Orang Rimba dari KKI Warsi, anak-anak dan orang tua ini berangkat ke sekolah yang berjarak sekitar 1 km dari pemukiman mereka, yang berada di dalam perkebunan karet. Sesampainya di sekolah meski agak canggung, orang tua masing-masing mendaftarkan anak-anak mereka ke petugas sekolah yang memang membuka pendaftaran di hari pertama sekolah. Walau agak sedikit grogi akhirnya pendaftaran ini berlangsung mulus, ke enam anak-anak rimba ini mulai membaur dengan murid lainnya.

Kepala SD 256 Joko Purwanto menyambut baik kehadiran anak-anak rimba ini. ?Kita berharap anak-anak ini bisa menempuh pendidikan dengan baik, dan tetap semangat hingga kelas enam nanti,?kata Joko.

Anak-anak yang bersekolah ini adalah Daniel (7), Permai (10), Udai (10), Arjuna (8), mereka diterima di kelas 1, sedangkan Muji yang berusia 9 tahun menurut pertimbangan guru layak ditempatkan di kelas 2. Muji sebelumnya belum pernah sekolah, namun dia belajar baca tulis sendiri di rumahnya, sehingga lebih pintar dari anak seusianya. Sedangkan satu orang lainnya Yohanes yang bersia 12 tahun ditempatkan di kelas 3, sebelumnya Yohanes pernah bersekolah, hanya sampai kelas 2 kemudian dia keluar karena tidak ada temannya sesama anak rimba yang bersekolah lagi.

Nungkai, pimpinan kelompok Orang Rimba yang sudah bermukim sejak 2003 ini sangat berharap anak-anak rimba bisa terus bersekolah tanpa terputus. Selaku pimpinan ia berharap anak-anak rimba menjadi lebih pintar. ?Supaya mereka bisa membantu orangtua ngitung, juga supaya anak-anak kami kehidupan lebih baik dari kami di masa yang akan datang,?kata Nungkai.

Harapan Nungkai dan Orang Rimba itu, juga menjadi cita-cita bagi anak-anak mereka. Yohanes dan Dabiel misalnya bercita-cita ingin menjadi dokter.?Supayo biso ngobat orang sakit,?kata Daniel ketika ditanya perihal cita-citanya itu. Sedangkan Muji, Permai, Udai dan Arjuna bercita-cita menjadi polisi. Alasannya supaya bisa menangkap orang jahat.

Alasan lain yang menjadi relevan dengan kehidupan mereka adalah terbebas dari kebodohan dan pembodohan oleh orang-orang disekelilingnya. ?Biar cerdik, hopi dilolo (tidak dibodohi) orang lagi,?ucap Daniel dengan polos ditanya tentang motivasinya untuk sekolah. Memang tak bisa dipungkiri keterbatasan pengetahuan Orang Rimba kerap dimanfaatkan pihak lain seperti penipuan . Contoh sederhana soal harga jual suatu barang yang ditawarkan orang rimba. Jika sudah harus mengalikan dengan angka yang rumit biasanya mereka akan kesulitan, ujung-ujungnya harga hanya ditentukan oleh toke dan Orang Rimba hanya menerima.

Dari 3.500 jiwa lebih Orang Rimba yang berada di Provinsi Jambi, yang mengecap pendidikan formal tidak sampai 5 persen. Padahal tidak semua kelompok Orang Rimba juga jauh dari sarana pendidikan yang tersedia. Seperti Orang Rimba di Jalan Lintas Sumatera, sebagian telah hidup berdampingan dengan warga lainnya. Hanya saja kebersihan diri, pengetahuan mereka yang sangat awam, keterbatasan biaya, menjadi pemicu sekolah masih menjadi hal langka bagi kehidupan mereka.

Tidak hanya dikelompok Nungkai, anak-anak rimba di kelompok Mansyur di SP A Desa Pemenang, pagi tadi juga mendaftarkan 7 orang anak-anak usia sekolah untuk menempuh pendidikan formal di SD 171 Pemenang. Anak-anak di kelompok ini sebelumnya belum pernah menempuh pendidikan. Baru tahun ajaran inilah mereka mendaftarkan diri ke sekolah negeri terdekat. Penuh semangat dan terlihat mereka sangat antusias untuk bersekolah, apalagi di hari pertama itu, usai sekolah mereka diajak fasilitator Warsi untuk membeli sepatu di SPE Tanah Abang Pemenang. Semoga semangat anak-anak rimba ini untuk mengejar cita-cita mereka tidak lekang oleh waktu. ***
***





Berita terkait:
Comments: