NEWS RELEASE:

Jaringan Irigasi Terancam Tidak Berfungsi

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi padi, dengan terus menambah jaringan irigasi di daerah yang diharapkan menjadi sentra-sentra produksi padi. Hanya saja pembangunan irigasi ini hanya akan terancam tidak berfungsi dikarenakan pengelolaan sumberdaya alam di daerah aliran sungai yang saat ini cendrung terabaikan.

?Pemerintah boleh saja terus membangun jaringan irigasi untuk mengairi sawah, bahkan mungkin terus mencetak sawah baru. Masalahnya bagaimana air irigasi tersebut akan mencapai sawah-sawah petani, jika debit sungai yang menjadi penyokong irigasi itu sendiri terus berkurang,?ujar Mahendra Taher Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi di Jambi.

Untuk Jambi dan Sumatera Barat yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari, saat ini juga akan teramcam mengalami penurunan produksi padi, akibat tidak mampunya DAS Batang Hari menjadi pemasok air untuk jaringan irigasi yang telah dibangun. Hal ini disebabkan Hulu daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, saat ini sudah mulai kritis. Jika tidak segera diatasi, puluhan ribu hektar sawah yang mampu menghasilkan 600 ribu ton lebih gabah kering giling (gkg) pertahun akan terganggu, karena irigasinya sangat bergantung pada DAS Batanghari.

DAS Batanghari memiliki luas daerah tangkapan air (water catchment area) sekitar 4,9 juta hektar. DAS kedua terbesar di Sumatera setelah DAS Musi ini, terbagi ke dalam 11 sub-DAS. 6 sub-DAS diantaranya berhulu ke Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yakni sub-DAS Gumanti, Batang Jujuhan, Batang Sangir, Batang Tebo, Batang Tembesi dan Batang Merangin.

DAS Batanghari dimanfaatkan petani di Jambi dan Sumatera Barat, untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian mereka. Untuk irigasi teknis, DAS ini mengairi lahan sawah seluas 9.383 ha sawah irigasi teknis, 10.657 ha dengan irigasi setengah teknis dan 6.560 ha dengan irigasi sederhana (swadaya). Bahkan, data di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 2005 menyebutkan, masih terdapat lahan potensial yang dapat dijadikan sawah sekitar 100 ribu ha, di luar lahan tidur yang juga dapat dijadikan sawah kembali.

?Meski lahan ini mampu menghasilkan ratusan ribu ton gabah pertahun, tapi dimasa datang diperkirakan akan berkurang. Sebab daya dukung DAS Batanghari juga sudah mulai menurun.? papar Mahendra.

Contoh lainnya, lanjut Mahendra, saat ini tengah berlangsung pengerjaan Proyek Batang Hari Irrigation Project (BHIP), yang merupakan irigasi teknis berskala 25,20 meter kubik/detik. Irigasi didanai dari pinjaman (loan) dari Japan Bank International Cooperation (JBIC). Jika rampung pada 2009, akan mengairi 18.936 Ha sawah di Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Tebo Provinsi Jambi.

BHIP adalah lanjutan dari Proyek Irigasi Sungai Dareh Sitiung (SEDASI), yang dibangun 1982-1986. Proyek ini semula direncanakan mampu mengairi lahan sawah seluas 20 ribu ha. Namun debit air Sungai Palangko dan Batang Siat, yang menjadi sungai utama sistem irigasi SEDASI, merosot, sehingga hanya mampu mengairi 39 persen dari lahan yang diproyeksikan. Kondisi ini terkait dengan penurunan kapasitas maksimum saluran, yakni dari 10,5 m3 perdetik pada tahun 1986 menjadi 6,1 m3 perdetik pada tahun 2001. Penyebabnya, antara lain karena hulu Batang Siat dan Batang Palangko, yang sebagian besar adalah kawasan hutan produksi, mengalami degradasi, akibat hutan alam dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

?Memang proyek BHIP akan menambah luasan lahan yang memiliki irigasi teknis, dan sekaligus menambah produksi gabah,? papar Mahendra seraya menambahkan, ada tambahan 43 ribu ton gabah pada setiap musim tanam.

?Tambahan produksi ini tentu juga akan mendorong swasembada beras, yang kini menjadi target pemerintah. Namun secara keseluruhan dimasa datang produksi lahan di DAS Batanghari diperkirakan akan berkurang seiring menurunnya daya dukung DAS Batanghari. Saat ini belum ada rencana pemanfaatan yang terpadu, intersektoral dan berkelanjutan,? lanjut Mahendra.?

Untuk mendorong pemanfaatan DAS Batanghari secara optimal, sejak 2002 lalu KKI Warsi menawarkan pendekatan bioregion, yakni pengelolaan kawasan tanah dan air dalam kawasan DAS secara terpadu, tanpa ditentukan batasan wilayah admnistrasi/ politik, tetapi oleh geografis dan sistem ekologi.

Pendekatan ini diperlukan, sebagai konsekuensi dari pelaksanaan otonomi daerah di tingkat kabupaten/kota. Sebab, ada kecenderungan dari sejumlah pemerintah daerah, yang melihat potensi sumberdaya alam secara parsial, dengan menjadikannya sebagai sumber utama PAD, karena cepat menghasilkan, tapi kurang mempertimbangkan resiko dan keberlanjutannya.

Nilai Strategis.

Mahendra menjelaskan, pendekatan bioregion diperlukan karena DAS Batanghari juga memiliki nilai ekonomi yang strategis. Saat ini sedang direncanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Merangin pada sub-DAS Merangin , yang akan memiliki kapasitas terpasang 250 megawatt. Dengan tingginya kapasitas terpasang , produksi listrik tidak hanya untuk kebutuhan di Jambi, tapi juga memasok kebutuhan regional , yang saat ini juga mengalami kekurangan pasokan.

Selain itu, Pelabuhan Muara Sabak di wilayah timur Provinsi Jambi, yang berada di hilir Sungai Batanghari, juga direncanakan sebagai pintu gerbang ekonomi yang akan mendukung pertumbuhan kawasan segitiga pertumbuhan, yakni Singapura-Batam-Johor, kawasan kerjasama dalam proyek IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapura) dan IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle), dan juga pasar APEC.

?Dengan posisi strategis ini, keberadaan DAS Batanghari sangat dibutuhkan. Untuk mendukungnya, diperlukan kebijakan yang strategis pula, terutama terkait dengan rencana pemanfaatan ruang,? ujar Mahendra mengingatkan.
***





Berita terkait:
Comments: