NEWS RELEASE:

Hutan Adat Desa Lubuk Bedorong

Tidak banyak yang tahu bahwa dua hutan adat milik masyarakat desa Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Bahkan dianggap mempunyai peran penting sebagai water catchment area (wilayah serap air) bagi sungai Limun yang merupakan anak Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.


Mengingat potensinya yang tinggi itulah, masyarakat desa Lubuk Bedorong sendiri tengah berupaya agar hutan adat mereka segera mendapatkan pengakuan sah negara, melalui pengukuhan dari SK Bupati. Sehingga pengakuan dan pengukuhan itu bisa dijadikan perisai bagi kelestarian dan perlindungan hutan adat secara lengkap.


?Karena itu kini kami mulai melakukan pemetaan bersama atas hutan adat kami. Bukan hanya batas, tetapi juga apa saja kekayaan yang terdapat didalamnya. Sehingga semakin menguatkan keberadaan hutan adat kami yang sudah kami jaga dan lestarikan dari tahun 1970-an,? ujar Kepala Desa Lubuk Bedorong. Dasril, Selasa (5/12), di Lubuk Bedorong, usai kegiatan pemetaan bersama di hutan adat Desa Lubuk Bedorong, bersama Tim Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dan Dinas Kehutanan Sarolangun.


Dari hasil pemetaan bersama, Tim KKI Warsi mencatat bahwa dua hutan yang bernama Hutan Adat Bukit Tinggi di dusun Temalang dengan luas kurang lebih 120 ha, dan Hutan Adat Seguguk di dusun Surian serta Binjai seluas 315 ha, dikategorikan sebagai jenis hutan perawan (virgin forest). Dimana lantai hutannya mempunyai sersah yang tebal dan kerapatan kanopi (pucuk daun pohon tinggi) yang cukup rapat. Di dua hutan tersebut juga ditemukan adanya 108 jenis pohon, 38 jenis burung, 14 jenis mamalia, 15 Reptilia jenis serta 99 jenis tanaman obat.

?Terus terang hutannya masih perawan. Karena itu banyak juga ditemukan hewan-hewan yang mungkin akan sulit ditemukan di hutan lain. Contohnya keberadaan berbagai macam burung rangkong (family buceritidae) di sana. Adanya rangkong menunjukkan bahwa hutan adat tersebut memang kondisinya sangat baik. Jadi kami mendukung inisiatif masyarakat Lubuk Bedorong sehingga hutan adat mereka segera segera dikukuhkan lewat SK Bupati untuk mendapatkan perlindungan lengkap bagi kelestariannya,? tandas salah satu forester KKI Warsi, Nugraha Firdaus.

Ditambahkan juga, di dua hutan tersebut juga masih ditemukan banyak pohon-pohon kayu berkualitas tinggi dengan diameter hingga ada yang mencapai ratusan cm. Contoh saja adanya beberapa jenis pohon kayu tembesu. Namun diingatkan bahwa secara topografi dimana keberadaan hutan itu berada di wilayah yang curam, maka jelas sangat berbahaya jika pohon-pohon tersebut dieksploitasi besar-besaran untuk kebutuhan komersil. Bahaya longsor adalah yang paling jelas terjadi jika itu dilakukan.

Sementara itu menurut tokoh masyarakat desa tersebut, M.Hoed, menilai keinginan untuk mendapatkan SK Bupati hendaknya tidak dikaitkan dengan masalah politik. Karena masalah menjaga kelestarian hutan adat ini adalah menyangkut keberlangsungan masa depan anak cucu.


Sedangkan secara umum, Fasilitator Kabupaten KKI Warsi, Sana Ulaili mengungkapkan, perjuangan masyarakat desa Lubuk Bedorong harus mendapatkan dukungan penuh. Karena dari data citralandsat 7 etm+ bahwa hutan yang masih tersisa di Sarolangun sendiri hanya seluas 111,983 ha (atau 17% dari luas tutupan lahan yang ada).(***)
***





Berita terkait:
Comments: